OPINI: Mengoptimalkan Ekonomi Bulan Suci

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Setiap tahun, da­­­tangnya bulan Ra­­­madan selalu diiringi euforia konsumsi. Pasar dipenuhi aneka takjil, pusat perbelanjaan menawarkan diskon Le­­­baran, dan platform digital dibanjiri promosi. Namun, di balik hiruk-pikuk itu, terdapat potensi ekonomi yang lebih strategis dan berkelanjutan yang sering luput dari perhatian yaitu kewirausahaan.

Selama ini, diskusi tentang Ramadan cenderung dikotomis. Di satu sisi, kita membahasnya sebagai momentum spiritual. Di sisi lain, kita mengkritiknya sebagai pemicu konsumerisme. Kita jarang melihatnya sebagai laboratorium nyata bagi inovasi, adaptasi, dan ketahanan wirausaha, khususnya UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa Ramadan adalah “musim puncak” bagi banyak pelaku usaha mikro dan kecil. Mereka berlomba menawarkan produk yang tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga kebutuhan sosial dan spiritual masyarakat. Namun, kesuksesan mereka tidak datang begitu saja. Mereka harus berhadapan dengan tantangan operasional yang unik: jam kerja yang terpotong karena ibadah, manajemen arus kas yang ketat, dan persaingan yang makin sengit di era digital.

Di sinilah letak inti dari Ramadanpreneurship, yaitu kemampuan untuk mengubah keterbatasan menjadi peluang. Seorang penjual kolak di pinggir jalan bukan sekadar pedagang musiman. Ia adalah seorang manajer operasional yang harus memprediksi permintaan, mengelola logistik bahan baku, menetapkan harga kompetitif; dan semuanya dilakukan dalam kondisi berpuasa.

Kisah seperti ini bukan sekadar anekdot. Di balik setiap gerobak takjil atau warung kue Lebaran, ada dinamika ekonomi yang nyata, dan skalanya jauh lebih besar dari yang sering kita bayangkan. Ramadan bukan hanya soal tradisi, tetapi juga mesin ekonomi yang menggerakkan jutaan pelaku usaha mikro di seluruh negeri.

Angka-angka terbaru mengonfirmasi betapa signifikannya momentum ini. Nilai konsumsi rumah tangga pada periode Ramadan 2025 diestimasi mencapai Rp1.188 triliun dan nilai transaksi digital selama periode Ramadan–Lebaran mengalami lonjakan signifikan, 15% hingga 20% dibandingkan dengan bulan biasa. Di tengah tren ini, survei terhadap komunitas UMKM menunjukkan bahwa mayoritas pelaku usaha (71%) optimistis dapat meningkatkan keuntungan selama Ramadan. Bahkan, banyak dari mereka menyatakan bahwa periode ini menyumbang 30%—50% dari total omzet tahunan mereka.

Baca Juga

  • Menilik Efek Guyuran Likuiditas Menkeu Purbaya ke Ekonomi RI
  • CITA Ragukan Klaim Purbaya Soal Ekonomi Pulih Karena Pajak Tumbuh 30%
  • Sensus Ekonomi 2026 Rekam Digitalisasi hingga Green Economy, Pengusaha Bersiap

Namun, potensi besar ini disertai risiko yang nyata. Optimisme tanpa mitigasi bisa berubah menjadi jebakan. Tantangan pertama adalah arus kas yang rapuh. Banyak UMKM mengeluarkan modal besar di awal bulan untuk stok dan promosi, tetapi pembayaran baru masuk setelah Lebaran. Jika tidak dikelola dengan cermat, mereka bisa terjebak utang atau bahkan terpaksa tutup usaha tepat setelah puncak penjualan.

Tantangan kedua adalah persaingan yang tidak sehat. Dalam upaya “jualan cepat”, banyak pelaku usaha sa­ling menjatuhkan harga. Akibatnya, kualitas produk turun, margin keuntungan menipis, dan kepercayaan pelanggan goyah. Ini adalah bentuk ‘race to the bottom’ yang merugikan seluruh ekosistem UMKM lokal.

Tantangan ketiga adalah kesenjangan literasi digital dan keuangan. Meski transaksi digital melesat, banyak pelaku usaha mikro masih mengandalkan uang tunai dan belum memiliki rekening bank. Mereka rentan terhadap penipuan online dan kesulitan mengakses pinjaman formal saat butuh modal darurat.

PERLU SINERGI

Maka, untuk mewujudkan Ramadanpreneurship yang sehat dan berkelanjutan, dibutuhkan sinergi dari tiga pilar: wirausaha, konsumen, dan pemerintah.

Pertama, bagi para wirausaha UMKM, Ramadan harus dilihat sebagai momentum untuk belajar dan bertransformasi, bukan hanya mencari untung jangka pendek. Mereka harus jeli melihat peluang. Dibalik lonjakan permintaan takjil dan kue Lebaran, ada kebutuhan yang lebih mendalam akan kepercayaan, keamanan, dan makna. Pelanggan tidak hanya mencari rasa, tapi juga keyakinan bahwa produk yang mereka beli dibuat dengan integritas. Dari titik ini, bangun diferensiasi yang jelas dan autentik.

Di tengah lautan kompetitor yang menawarkan produk serupa, nilai tambah bisa muncul dari kualitas bahan, proses produksi yang higienis, atau bahkan ‘cerita’ dibalik usaha. Cerita seperti ini bukan sekedar pemanis, tapi fondasi kepercayaan di era konsumen yang semakin kritis. Selanjutnya, manfaatkan teknologi sederhana seperti WhatsApp Business untuk komunikasi, Google Form untuk pre-order, dan QRIS untuk transaksi nontunai. Langkah ini tidak hanya meningkatkan efisiensi, tapi juga membuka pintu ke pasar yang lebih luas.

Kedua, peran konsumen sangat menentukan. Di era di mana setiap klik dan setiap rupiah adalah suara, konsumen memiliki kekuatan luar biasa untuk membentuk ekosistem ekonomi yang sehat. Dengan secara sadar memilih untuk membeli dari UMKM lokal, Anda tidak hanya mendapatkan produk, tetapi juga turut serta dalam pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Ini adalah bentuk konsumsi bertanggung jawab yang sejalan dengan semangat berbagi dan empati di bulan Ramadan.

Ketiga, pemerintah memiliki tanggung jawab strategis. Intervensi kebijakan tidak boleh terbatas pada operasi pasar untuk menstabilkan harga bahan pokok. Yang lebih penting adalah menciptakan iklim usaha yang kondusif. Ini bisa dilakukan melalui penyederhanaan perizinan untuk pedagang musiman, fasilitasi akses permodalan berbiaya rendah, atau pelatihan kilat tentang literasi digital dan keuangan.

Kementerian Koperasi dan UKM, misalnya, dapat bekerja sama dengan platform digital untuk memberikan paket pelatihan khusus “Ramadanpreneur” yang mengajarkan cara mengelola pre-order, strategi pemasaran konten, dan manajemen keuangan sederhana.

Mengabaikan dimensi kewirausahaan dalam Ramadhan berarti melewatkan peluang emas untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional. UMKM yang tangguh dan adaptif yang lahir dari ujian bulan puasa adalah aset berharga yang akan terus berkontribusi jauh setelah Lebaran usai.

Oleh karena itu, mari kita ubah narasi. Jangan hanya melihat Ramadan sebagai bulan untuk menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga sebagai bulan untuk mengembangkan diri sebagai agen perubahan ekonomi. Dengan sinergi antara wirausaha yang inovatif, konsumen yang sadar, dan pemerintah yang responsif, Ramadan bukan hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga mesin pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Inilah esensi sejati dari Ramadanpreneurship yaitu menciptakan nilai ekonomi yang sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kasus Brimob Aniaya Siswa Jadi Ujian Profesionalitas, DPR Desak Evaluasi Fungsi Penanganan Polri
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
Pemudik Lebaran 2026 Diperkirakan 143,91 Juta Orang, Terbesar dari Jawa Barat
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Polda Metro Gagalkan Peredaran 35 Cartridge Etomidate, Dibungkus Plastik Ferrari
• 13 jam laludisway.id
thumb
Saat Kapolres Jaktim Interogasi Langsung Pelaku Aniaya Petugas SPBU: Maksud Kamu Jenderal Apa?
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Bulan Depan Ada Libur Nyepi dan Lebaran 2026, Ini Jadwalnya!
• 1 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.