BRI Raup Laba Bersih Rp 57,13 Triliun pada 2025, Kredit Tumbuh 12,3 Persen

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mengumumkan pencapaian laba bersih sepanjang tahun 2025 mencapai Rp 57,13 triliun. Angka tersebut turun sekitar 5,2 persen dari laba bersih tahun 2024 yang sebesar Rp 60,3 triliun.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, mengatakan total aset BRI tumbuh sebesar 7,1 persen secara tahunan menjadi sebesar Rp 2.135 triliun. Kemudian Dana Pihak Ketiga (DPK) perusahaan menunjukkan kenaikan sebesar 7,4 persen (yoy) menjadi sebesar Rp 1.467 triliun, didorong pertumbuhan dana murah (CASA).

BRI juga mencatat cost of fund dari DPK pada akhir tahun 2025 mengalami penurunan menjadi sebesar 2,9 persen, membaik dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2004 sebesar 3,1 persen.

"Perbaikan fundamental kinerja BRI tersebut berdampak positif terhadap capaian laba. Hingga akhir tahun 2025 BRI berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp 57,132 triliun," ungkap Hery saat konferensi pers secara virtual, Kamis (26/2).

Dari sisi intermediasi penyaluran kredit BRI mengalami kenaikan sebesar 12,3 persen (yoy) menjadi Rp 1.521 triliun dengan fokus penyaluran pada segmen UMKM. Pencapaian ini tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit perbankan nasional pada tahun 2025 yakni sebesar 9,6 persen (yoy).

"Pertumbuhan kredit BRI yang mencapai double digit tersebut mampu diimbangi dengan penyaluran yang lebih prudent dan tumbuh secara sehat. Hal ini tercermin dari rasio NPL sebesar 3,07 persen hingga akhir triwulan IV 2025," jelas Hery.

Sementara itu, perusahaan juga berhasil menurunkan loan interest ratio (LAR) dari semula sebesar 10,7 persen pada akhir tahun 2024, menjadi 9,6 persen pada akhir tahun 2025.

Direktur Treasury dan International Banking BRI, Farida Thamrin, menambahkan pertumbuhan aset perusahaan selama tahun 2025 didominasi oleh pertumbuhan kredit dan pembelian sebesar Rp 167 triliun, sebagian besar merupakan pertumbuhan pada kredit segmen UMKM.

"Hal tersebut menunjukkan komitmen BRI untuk terus mendukung penguatan sektor real khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah sebagai pilar utama perekonomian nasional," katanya.

Farida menjelaskan, BRI juga fokus memperkuat dana murah terlihat dari pertumbuhan giro yang mencapai 19,7 persen (yoy) dan pertumbuhan tabungan sebesar 7,9 persen (yoy). Sementara dari struktur pendanaan, DPK BRI semakin kuat dengan rasio CASA yang meningkat 331 basis point (yoy).

Selanjutnya, dia mengungkapkan penyaluran kredit BRI tumbuh sebesar 12,3 persen menjadi Rp 1.521 triliun. Secara komposisi, UMKM mendominasi struktur kredit perseroan. BRI konsisten menjadi penyalur utama Kredit Usaha Rakyat (KUR), yakni sebesar Rp 170 triliun kepada 3,8 juta debitur hingga akhir tahun 2025.

BRI, lanjut Farida, juga mencatat loan to deposit ratio (LDR) berada di level 91,4 persen, liquidity coverage ratio (LCR) juga terjaga di level 136,9 persen dan net stable funding ratio (NSFR) sebesar 117,7 persen atau jauh di atas ketentuan regulator yaitu 100 persen.

"Kedisiplinan dalam pengelolaan likuiditas terus menjadi fondasi utama bagi BRI dalam menjaga efisiensi biaya dana dan memastikan struktur dana pihak ketiga atau pendanaan yang lebih optimal," jelas Farida.

Farida mengatakan, kondisi permodalan BRI juga dinilai cukup kuat dengan capital adequacy ratio (CAR) berada di level 23,52 persen atau di atas ketentuan minimum regulator. Posisi ini menunjukkan kapasitas permodalan BRI yang memadai untuk menopang ekspansi bisnis secara prudent.

"Dengan struktur permodalan yang kokoh, BRI masih memiliki ruang yang cukup untuk terus mendorong pertumbuhan kredit khususnya segmen UMKM dan pembiayaan produktif sejalan dengan komitmen mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan," tuturnya.

Hingga akhir tahun 2025, rasio non-performing loan (NPL) BRI terkendali di level 3,07 persen. BRI juga tetap menyediakan pencadangan yang memadai dengan NPL coverage sebesar 178,1 persen.

"Dengan coverage ratio yang sangat memadai ini, BRI tidak hanya mampu menjaga stabilitas neraca secara berkelanjutan, namun juga memberikan keyakinan kepada investor, regulator, dan seluruh stakeholders bahwa perseroan memiliki fundamental yang kuat dalam menghadapi dinamika ekonomi dan tantangan pasar," pungkas Farida.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kamis 26 Februari 2026 di Jakarta, Semarang, dan Surabaya
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Selain Kurma, Ini 8 Buah Terbaik untuk Menu Berbuka Puasa agar Tubuh Segar dan Bertenaga
• 23 jam laluviva.co.id
thumb
Mahasiswa se-Jogja Demo di Malioboro, Tuntut Oknum Brimob Aniaya Pelajar Dihukum Berat
• 20 jam lalurctiplus.com
thumb
Manfaatkan Peluang, Mahasiswi UGM Berjualan di Pasar Ramadhan
• 21 jam lalutvrinews.com
thumb
BGN Ungkap Banyak Mitra SPPG "Mark Up" Bahan Baku Pangan MBG
• 20 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.