TANGERANG, KOMPAS.com - Di rumah, Ciledung, Tangerang berukuran tiga kali dua meter, Agista Saputri (10) menorehkan warna-warna cerah di atas selembar kertas.
Rumah tersebut merupakan tempat ayahnya menyimpan barang-barang hasil memulung.
Dari tangan kecilnya, lahir gambar gunung, langit, hingga gradasi warna yang tidak biasa untuk anak seusianya.
Baca juga: Pengemudi Calya Lawan Arah di Gunung Sahari Baru Tiba di Jakarta, Hendak Pergi ke Ancol
Semuanya Agista lakukan sendiri tanpa adanya mentor yang membimbingnya. Meja gambar pun tidak ada, begitu pula Agita tidak pernah kursus sama sekali.
Bahkan, Agista belum pernah mengenyam pendidikan formal sama sekali.
Alasannya karena identitas orangtuanya yang tidak kunjung rampung sehingga tidak bisa mendaftarkan anaknya sekolah.
Sementara bakatnya Agista justru tumbuh sejak usia empat tahun. Ibunya, Wagiyem (38), bercerita, sejak kecil Agista sudah menunjukkan ketertarikan pada gambar.
“Dari umur empat tahun sudah hobi menggambar. Tadinya cuma corat-coret tapi bisa begitu jadi bagus, mamanya aja enggak bisa. Ini anak dari mana bisanya,” cerita Wagiyem saat ditemui Kompas.com di Ciledug, Kota Tangerang, Rabu (25/2/2026).
Baca juga: Pengemudi Calya Lawan Arah di Gunung Sahari Bawa Golok dan Badik Saat Mengemudi
Awalnya, Agista menggambar dengan alat seadanya. Mulai dari krayon yang dipakainya pun berasal dari patahan krayon bekas yang ia temukan di jalan.
Krayon yang mulanya tidak bernilai tapi di tangan Agista justru menghasilkan gambar yang indah.
Meskipun bekas, krayon itu digunakan Agista berulang kali. Buku tulis sisa pun dijadikan tempat menuangkan imajinasi.
Semua alat gambar itu tidak pernah absen Agista bawa setiap ikut orangtuanya memulung.
Dari Pasar Lembang ke Mencong, lalu ke Borobudur dan balik lagi ke Pasar Lembang, Kota Tangerang, peralatan gambarnya selalu ia bawa.
Bahkan kalau sedang menunggu orangtuanya beristirahat, Agista menyempatkan diri untuk menggambar.