Aktivis pendidikan asal Pakistan, Malala Yousafzai, mendapat apresiasi terbaru berupa potret dirinya yang dipajang di Universitas Oxford, tepatnya di Lady Margaret Hall (LMH). Potret ini telah diresmikan dalam acara Founders and Benefactors Dinner tahunan LMH pada 6 Februari lalu.
Malala merupakan alumni University of Oxford yang lulus pada 2020. Di kampus tersebut, perempuan berusia 28 tahun itu menempuh studi Filsafat, Politik, dan Ekonomi.
Potret ini dipesan oleh LMH, bekerja sama dengan Program Oxford Pakistan. Hal ini menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi Malala dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan dan anak perempuan. Dalam pidatonya, ia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam.
“Saya menerima penghargaan ini dengan harapan dapat membuka pintu bagi banyak orang lain. Lebih dari segalanya, saya berharap ini menjadi pengingat bahwa seorang gadis dari Lembah Swat berhak berada di sini — dan bahwa gadis berikutnya dari sebuah desa di Pakistan, Afghanistan, atau di mana pun — juga berhak berada di sini,” ungkap Malala seperti dikutip dari Lady Margaret Hall University of Oxford.
Tampilan Potret Malala Yousafzai yang Dipajang di Lady Margaret HallPotret Malala dilukis oleh seniman London, Isabella Watling. Lukisan itu terlihat realistis dengan wajah Malala yang tengah tersenyum. Dalam potret tersebut, penulis buku Finding My Way ini dibalut busana hijau dengan penutup kepala yang senada.
“Merupakan suatu kehormatan besar untuk melukis potret Malala. Dalam lukisan itu, saya ingin mencoba menangkap sebagian dari kekuatan dan keanggunannya. Menyelesaikannya sangat menantang karena tekanan melukis wajah dari sosok yang begitu terkenal,” ujar Isabella.
Dilansir Asia News Network, Malala menjadi warga Pakistan kedua yang potretnya menghiasi dinding LMH. Sebelumnya, terdapat potret Benazir Bhutto, mantan Perdana Menteri Pakistan periode 1988–1990 dan 1993–1996.
Dedikasi Malala Yousafzai terhadap Hak Pendidikan Perempuan dan Anak PerempuanDikutip dari National Women’s History Museum, sejak usia sebelas tahun Malala telah aktif memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan dan anak perempuan di Pakistan.
Namun perjuangannya tidak sejalan dengan aturan Taliban yang saat itu tengah berkuasa dan melarang perempuan untuk bersekolah. Pada 9 Oktober 2012, ia ditembak oleh kelompok Taliban dan mengalami cedera serius yang mengakibatkan sebagian wajahnya menjadi lumpuh. Meski demikian, peristiwa tersebut tidak melunturkan semangatnya untuk terus memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan dan anak perempuan.
Pada 2013, ia mendirikan Malala Fund bersama ayahnya setelah pulih dari serangan tersebut. Yayasan ini bertujuan memperjuangkan akses setidaknya 12 tahun pendidikan gratis, aman, dan berkualitas bagi anak perempuan.
Kemudian, tahun berikutnya menjadi momen bersejarah bagi dirinya. Pada 2014, Malala menjadi penerima Nobel Perdamaian termuda dalam sejarah saat berusia 17 tahun. Hingga kini, ia tetap aktif menyuarakan hak pendidikan bagi perempuan dan anak perempuan di berbagai forum internasional.
Baca juga: Kisah Cinta Malala Yousafzai, Aktivis Feminis yang Sempat Ragukan Pernikahan





