Sepekan Ramadhan berjalan, warga Dusun Rejoagung, Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, geger. Penemuan jenazah diduga ibu-anak menjadi penyebabnya.
Dua jasad itu ditemukan di kolam sedalam 1 meter. Lokasinya di dalam bangunan bekas asrama polisi di Rejoagung, Rabu (25/2/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Penemuan itu buah kecurigaan warga. Mereka penasaran saat melihat sepeda motor Yamaha Vega hitam bernomor polisi AG 5053 WO terparkir dua hari di depan gedung rusak yang bertahun-tahun terbengkalai.
Setelah warga menelusuri ke dalam bangunan, pemandangan memilukan hadir di depan mata. Dua jenazah, perempuan dewasa dan anak, saling berhadapan. Keduanya tanpa busana. Kondisi kulitnya melepuh dan menghitam.
Tidak berlama-lama, warga melaporkannya ke Kepolisian Resor Jombang. Sejam kemudian, polisi datang mengevakuasi kedua jenazah.
Dari olah tempat kejadian perkara, polisi menemukan dua botol di dekat kolam. Satu botol masih penuh berisi bahan bakar minyak diduga jenis bensin. Satu botol lagi tak berisi tetapi masih tercium bensin. Botol-botol itu diduga terkait erat peristiwa ini.
Menurut Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Jombang Ajun Komisaris Dimas Robin Alexander, terlihat sejumlah lebam di kedua jenazah diduga ibu-anak itu.
Kulit melepuh mengindikasikan jenazah itu dibakar. Kondisi kulit menghitam menunjukan korban tewas sekitar dua hari sebelum ditemukan.
Kedua jenazah lantas dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Jombang. Di sana, polisi akan mengidentifikasi dan menentukan sebab kematian.
Sejauh ini, dari motor di lokasi kejadian, Dimas mengatakan, kedua korban mirip ibu-anak yang dilaporkan sebagai orang hilang di Polres Nganjuk.
”Dua hari lalu, ada laporan di Nganjuk tentang orang hilang dengan ciri-ciri yang mirip dengan temuan kedua jenazah,” katanya.
Penelusuran Kompas, pelapor ialah Nur Yanto (38), warga Nganjuk. Pada Rabu pagi, ia melaporkan istri dan anaknya yang tanpa kabar.
Istrinya, Sri Kusyanti (36), dan anak perempuannya yang berusia lima tahun terakhir pergi dengan sepeda motor Yamaha Vega hitam nopol AG 5053 WO. Mereka berangkat dari rumah pada Selasa (24/2/2025) subuh.
Identitas jenazah diperkuat keterangan Marno Hidayat (31), warga Jombang. Di RSUD Kabupaten Jombang, Rabu malam, dia mengatakan, jenazah adalah Sri Kusyanti dan anaknya. Sri adalah kakak dari Marno.
”Kakak dan keponakan saya itu dilaporkan keluarga sebagai orang hilang,” kata Marno.
Setelah membuat laporan, keluarga lantas mencari mandiri di wilayah Nganjuk-Jombang yang bertetangga. Mereka juga mengunggah foto Sri Kusyanti dan anaknya ke media sosial.
Setelah viral berita temuan jenazah ibu dan anak di Jombang, menurut Marno, kecurigaan keluarga langsung mengarah ke sana. Apalagi, di lokasi ditemukan sepeda motor yang sama dengan milik korban.
Akan tetapi, Dimas mengatakan, polisi masih memerlukan konfirmasi terkait identitas jenazah. Caranya dengan pemeriksaan sidik jari hingga DNA.
”Secara ilmiah belum bisa kami pastikan identitas meskipun dugaan amat kuat mengarah ke ibu dan anak dari Nganjuk yang dilaporkan hilang,” kata Dimas.
Sampai Kamis siang ini, penyelidikan kasus masih berlangsung dan dikembangkan. Tim penyidik telah memeriksa sejumlah saksi antara lain kalangan warga Rejoagung yang menemukan kedua jenazah.
Polisi juga memeriksa orang-orang yang diketahui memiliki kemungkinan kedekatan atau hubungan kekeluargaan dengan ibu dan anak itu.
Kasus itu mengingatkan akan kekejian yang dialami pegawai Badan Pendapatan Daerah Kota Semarang Paulus Iwan Budi Prasetyo pada 2022.
Jenazahnya ditemukan di semak-semak kawasan Pantai Marina, Tawangsari, Semarang Barat, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (8/9/2022).
Jasad Iwan ditemukan terbakar dan tanpa kepala. Sepeda motor miliknya juga hangus terbakar.
Hampir empat tahun kasus itu buntu. Belum ada pihak yang ditersangkakan. Di sisi lain, korban ialah saksi dugaan korupsi penyalahgunaan aset Bapenda Semarang.
Dari penyelidikan, Iwan dibunuh lalu dibakar. Hanya saja, pelakunya belum juga ditangkap.
Kini, kasus di Jombang menanti diselesaikan. Setelah proses identifikasi rampung, pelaku kejahatan keji itu harus terungkap. Diduga kuat, pelaku membunuh untuk menghilangkan jejak.
Akan tetapi, mengutip pernyataan bapak kriminologi modern Edmon Locard (1877-1966), ”tiada kejahatan yang sempurna”. Selalu ada langkah yang tertinggal dan jejak yang enggan pergi meski pelaku kejahatan berusaha kabur dari perbuatan kejinya.




