Cerita Yayat 4 Dekade Jadi Tukang Sol Sepatu, Salah Satu Pelanggannya Purbaya

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Matahari berdiri tepat di atas kepala di Jalan Dr. Wahidin Raya No. 1, Jakarta Pusat, Kamis (26/2) siang. Aspal memantulkan panas, sementara deru kendaraan tak pernah benar-benar reda di jalanan.

Di ujung jalan, terlihat sebuah lapak berpayung yang tidak permanen berdiri di sekitar jalan tepatnya di seberang Kantor Kementerian Keuangan.

Di bawah payung sederhana yang disangga seadanya, Asep Yayat (61) duduk membungkuk, tangannya cekatan menusukkan jarum besar ke alas sepatu yang mulai menganga.

Benang ditarik kuat, lalu disimpul. Gerakannya cepat, seperti sudah dilakukan ribuan kali. Hari itu, enam pasang sepatu sudah ia jahit sejak pagi.

Setiap pagi ia datang dengan sepeda ontel tua kesayangannya. Membawa gerobak kecil, lengkap dengan seluruh perlengkapan kerjanya.

“Jam setengah 8, pulang jam 5,” ujarnya singkat.

Ia tertawa kecil ketika ditanya soal libur.

“Tiap hari, nggak pernah libur. Enggak pernah libur.”

Sudah lebih dari empat dekade Asep menjalani pekerjaan itu. Ia mulai sejak 1982 sudah membuka lapak di sekitar situ. Belajar menjahit bukan dari sekolah atau kursus, melainkan dari kakaknya sendiri yang lebih dulu menjadi tukang sol sepatu di kawasan yang sama.

“Belajarnya otodidak. Abang saya kan tukang sol juga dulu. Belajar setahun dua tahun. Bisa dua tahun belajar ngejahit, belajar ngebolongin, belajar bikin. Enggak langsung bikin buka, enggak berani,” ungkapnya.

Sejak itu, hidupnya seperti tak pernah benar-benar jauh dari sepatu rusak dan peralatannya.

Di lapaknya, pelanggan datang dari berbagai kalangan, karyawan swasta kantoran, aparat, hingga orang yang sengaja menempuh perjalanan jauh hanya untuk memperbaiki sepatu lama mereka.

“Mana-mana, dari TNI-Polri terutama ini kantor keuangan (Kementerian Keuangan). Ah mana-mana lah saya sudah pada tahu. Mang Asep sudah tahu,” ujarnya bangga.

Bagi Asep, memperbaiki sepatu bukan sekadar pekerjaan, tapi cara menyelamatkan barang yang masih bisa dipakai.

“Daripada beli lagi, mending diganti. Gitu lho,” kata Asep.

Harga jasanya sol sepatu paling murah sekitar Rp 25 ribu, sementara ganti sol bisa mencapai ratusan ribu tergantung bahan. Keuntungan bersih yang ia ambil tak besar.

“Ngambil untungnya kerja paling Rp 30-40 ribu per hari , ongkos kerja,” terangnya.

Namun di balik kesederhanaan itu, ada cerita panjang tentang perjalanan hidup.

Asep bukan selalu tukang sol sepatu. Ia pernah bekerja sebagai cleaning service di lingkungan Kementerian Keuangan Republik Indonesia pada awal 1990-an.

Cleaning service tahun 90, 92. Dua tahun saya 90, 92," ungkapnya.

Tapi keahlian tangannya menariknya kembali ke jalan.

“Biar kerja di mana-mana tetap balik ke sini. Ya sudah tua lah sudah begini aja lah. Sudah ngapain lagi kan gitu,” katanya.

Ia lahir di Garut, lalu menetap di Jakarta setelah menikah dengan perempuan Betawi dari Tanah Tinggi, Pasar Senen. Kini anak dan cucunya tinggal di ibu kota, sementara kampung halaman tetap ia kunjungi setiap Lebaran.

“Seminggu di sana, pulangnya ke sini. Soalnya banyak telepon, langganan pada ke sini,” ujarnya.

Pelanggan setianya memang tersebar jauh. Ada yang datang dari Tangerang, Depok, Bogor, hanya untuk memastikan sepatu mereka diperbaiki Asep.

“Banyak tukang sol tapi kenapa ke saya? Karena nggak bisa. Kita sudah tahu paham kerjanya,” kata Asep.

Bahkan, ia pernah memperbaiki sepatu seorang pejabat tinggi negara meski tak langsung bertemu.

“Pak Purbaya (Menteri Keuangan) pernah nge-sol tapi istilahnya di ajudannya. Jahit dikit, saya semir lagi. Baru kali itu saya empat puluh tahun, baru namanya menteri di-sol,” katanya sambil tertawa.

Cerita itu ia sampaikan sambil tersenyum. Asep tak hapal persis apa merek sepatu Purbaya yang dia perbaiki. Yang dia tahu adalah hanya sepatu itu berwarna hitam dan dijahit dikit di bagian outsole-nya.

Di bulan Ramadan, pekerjaan tetap berjalan seperti biasa. “Tantangannya ya tahan lapar haus aja. Kita pasrah aja yang di atas. Yang penting kita niat, kita ke jalan, usaha, insyaallah berkah,” katanya sambil tersenyum.

Kadang ada orang yang memberinya bantuan sembako atau sekadar tambahan uang. Ia menerimanya, tapi ia tak pernah meminta.

“Kita diam aja. Ada orang kantor ngasih sembako apa saya terima. Gitu.”

Namun ia juga menyadari, profesi tukang sol sepatu semakin jarang diminati generasi muda. Sepatu murah impor membuat orang lebih memilih membeli baru daripada memperbaiki yang lama.

“Kalau dulu Lebaran tuh rame. Sekarang kan banyak sepatu impor yang harganya Rp 50 ribu-60 ribu sekarang gitu agak merosot,” ujarnya.

Meski begitu, Asep tak menuntut banyak. Di usia hampir 61 tahun, harapannya sederhana.

“Satu harapannya itu kita berkah ya, rezekinya bertambah, sehat, yang penting sehat,” katanya.

Jarum kembali menusuk sol sepatu di tangannya. Benang ditarik kuat, lalu diikat. Panas masih menyengat, kendaraan masih berderu, dan orang-orang masih lalu lalang menuju kantor-kantor pemerintah di sekitar sana.

Di bawah payung sederhana itu, Asep terus bekerja, seperti yang sudah ia lakukan selama lebih dari empat puluh tahun, menyambung sol sepatu, sambil pelan-pelan menyambung hidupnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
LOGIS 08 Minta Tindak Tegas Mitra Penyedia MBG Jika Terindikasi Korupsi Bahan Baku Pangan
• 5 jam lalujpnn.com
thumb
Mendag: Ritel Modern Bisa Salurkan Produk Lewat Kopdes Merah Putih
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Gara-Gara Orang Ini, Warga Indonesia Buka Puasa Makan Gorengan
• 2 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Harmoni Dua Perayaan Suci: Nyepi dan Idul Fitri di AYANA Bali & AYANA Komodo
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Sammy Simorangkir Rayakan 20 Tahun Berkarya, Siap Nostalgia Bareng Gak Beauty?
• 12 jam laluherstory.co.id
Berhasil disimpan.