FAJAR, BONE — Cuaca ekstrem yang melanda wilayah pesisir Sulawesi Selatan dalam sebulan terkahir yang berdampak pada aktivitas nelayan, membawa efek berantai ke harga ikan.
Di Kabupaten Bone, lonjakan harga ikan laut naik singifikan. Mahalnya harga ikan kemudian mendorong warga beralih ke bahan pangan alternatif yang dinilai lebih terjangkau dan tahan lama.
Kenaikan harga ikan terjadi seiring berkurangnya pasokan ke pasar akibat nelayan memilih tidak melaut karena hujan deras dan angin kencang.
Di Pasar Sentral Lama, Kecamatan Tanete Riattang, yang menjadi pusat transaksi ikan laut di Bone misalnya, para pedagang melapoekan kenaikan harga mencapai 50 hingga 100 persen.
Ikan kembung kini dijual Rp50 ribu per kilogram padahal dua hari sebelumnya masih di kisaran Rp35 ribu.
Ikan tongkol naik dari Rp50 ribu menjadi Rp70 ribu per ekor, sementara ikan tuna melonjak dari Rp25 ribu menjadi Rp50 ribu per ekor.
Harga ikan teri juga naik tajam dari Rp80 ribu menjadi Rp120 ribu per kilogram. Kenaikan serupa terjadi pada udang yang kini dijual Rp60 ribu per kilogram dari harga normal Rp30 ribu.
Salah satu pedagang ikan, Muhammad Ali (41), mengatakan kondisi tersebut sudah berlangsung beberapa hari terakhir akibat cuaca yang tidak bersahabat.
“Luar biasa naiknya, kemarin sebenarnya sudah melaut tapi ini jelek lagi, jadi naik kembali,” ujarnya, kepada FAJAR, saat dikonfirmasi, Rabu, 25 Februari 2026.
Ia menambahkan, nelayan masih enggan melaut karena mempertimbangkan faktor keselamatan. Kondisi ini membuat pasokan ikan ke pasar belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan dalam waktu dekat.
Sementara itu, lonjakan harga ikan tersebut berdampak langsung pada kebiasaan belanja masyarakat.
Sejumlah warga mulai mengurangi konsumsi ikan dan beralih ke bahan pangan lain sebagai sumber protrin yang dinilai lebih ekonomis, seperti telur hingga tempe.
Seorang warga, Sriwahyuni warga Jl Durian Kelurahan Tanetr Rianttang Barat mengaku dalam beberapa pekan terskhir jarang membeli kan. Padahal di hari biasa ikan menjadi menu harian di atas meja makan.
“Dapat tiga atau empat ekor saja ikan baru sampai Rp50 ribu. Sehari saja habis, ini sisa telur mami dan tempe,” ungkapnya.
Menurut Marni, telur dinilai lebih efisien karena satu rak seharga Rp50 ribu dapat mencukupi kebutuhan keluarga hingga satu pekan.
Hal tersebut jauh lebih hemat dibandingkan membeli ikan yang harus dibeli hampir setiap hari.
Warga berharap cuaca segera membaik agar nelayan kembali melaut dan harga ikan kembali stabil, sehingga konsumsi ikan sebagai sumber protein utama masyarakat pesisir tidak terus tergerus oleh kondisi cuaca ekstrem.
Sementara itu FAJAR yang coba mengonfirmasi Kepala Dinas Perikanan Bone belum memberikan respons berarti. (an)




