Arab Saudi Larang Impor Ayam, Peternak Sebut Tak Pengaruhi Ekspor RI

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) menanggapi kebijakan terbaru Pemerintah Arab Saudi yang melarang impor ayam dan telur dari 40 negara, termasuk Indonesia.

Ketua Umum GOPAN Pardjuni mengatakan, dampak larangan tersebut tidak akan terlalu signifikan terhadap pasar ekspor ayam Indonesia juga pada stok ayam di pasar domestik.

“Karena jumlah yang dieskpor ke Arab masih sedikit, jika distop pun nggak akan berpengaruh kepada stok kita,” ujar Pardjuni kepada kumparan, Rabu (25/2).

Dia menjelaskan, ekspor ayam ke Arab Saudi selama ini dia memperkirakan jumlahnya masih berada pada angka yang sangat kecil, hanya puluhan ton, dan bahkan belum menyentuh angka ribuan ton. Kegiatan pengiriman ayam ke negara minyak itu juga baru dijajaki oleh Indonesia pada 2025.

“Setahu kami baru tahun lalu akan digalakkan ekspor ke Arab, jumlah persis kami belum tahu, mungkin masih sangat sedikit belum sampai ribuan ton, masih sekitar puluhan ton,” jelasnya.

Dia menjelaskan, masih minimnya ekspor ayam ke Saudi salah satunya disebabkan oleh Harga Pokok Produksi (HPP) ayam hidup (Live Bird/LB) ayam Indonesia yang juga masih tinggi. Dengan demikian, ayam asal Indonesia baru bisa diekspor ke negara terdekat seperti Singapura, Timor Leste dan termasuk Arab Saudi. Selain itu, ekspor juga dilakukan untuk memenuhi persyaratan agar bisa mengimpor Grand Parent Stock (GPS) atau induk ayam.

Namun, Pardjuni juga menyoroti adanya larangan Arab Saudi mengimpor ayam asal Indonesia menciptakan opini seakan-akan daging ayam Indonesia bermasalah.

"Padahal mungkin karena harga memang tidak masuk untuk diekspor ke sana atau faktor lain," imbuhnya.

Pardjuni juga menyebutkan sebagian ekspor ayam Indonesia ke negara-negara seperti Jepang justru lebih banyak dalam bentuk produk olahan, bukan karkas ayam mentah. Selain itu, ia menegaskan Indonesia masih memiliki kapasitas produksi ayam broiler yang sangat besar, mencapai 4,5 hingga 5 juta ton per tahun.

"Produksi daging ayam broiler kita ini sangat besar, bisa mencapai 4,5-5 jt ton per tahun, bahkan bisa lebih," ujarnya.

Sebelumnya, Arab Saudi melalui Saudi Food Drug Authority (SFDA) telah memberlakukan larangan total impor unggas dan telur dari 40 negara, serta larangan parsial yang mencakup provinsi dan kota tertentu di 16 negara lainnya, termasuk Indonesia.

Mengutip Saudi Gazette, langkah ini merupakan bagian dari tindakan pencegahan otoritas tersebut untuk melindungi kesehatan masyarakat dan memperkuat standar keamanan pangan di pasar domestik. SFDA menegaskan daftar tersebut akan terus ditinjau secara berkala seiring perkembangan situasi kesehatan global.

Larangan total mencakup 40 negara berikut: Afghanistan, Azerbaijan, Jerman, Indonesia, Iran, Bosnia dan Herzegovina, Bulgaria, Bangladesh, Taiwan, Djibouti, Afrika Selatan, China, Irak, Ghana, Palestina, Vietnam, Kamboja, Kazakhstan, Kamerun, Korea Selatan, Korea Utara, Laos, Libya, Myanmar, Inggris, Mesir, Meksiko, Mongolia, Nepal, Niger, Nigeria, India, Hong Kong, Jepang, Burkina Faso, Sudan, Serbia, Slovenia, Pantai Gading, dan Montenegro.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Instruksi BGN Jelas, Telur Rebus Jadi Menu MBG Paling Tahan Lama Selama Ramadan
• 23 jam laludisway.id
thumb
Elnusa (ELSA) Tuntaskan Survei Seismik 3 D OBN Zulu North Milik Pertamina Hulu Energi
• 1 jam laluidxchannel.com
thumb
Sahur di Wilayah Zona Merah Bencana Aceh Timur
• 11 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Jadwal Imsakiyah Hari Ini, 26 Februari 2026: Semarang Siap Beribadah Sejak Dini Hari
• 13 jam lalurepublika.co.id
thumb
Harga Emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian Turun, UBS Jadi Rp3.082.000 per Gram
• 5 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.