Letakkan Samudra di Dalam Hatimu

erabaru.net
10 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Suatu hari, sebuah danau memandang ke arah lautan yang terbentang tidak jauh darinya. 

Dengan nada penasaran dia bertanya: “Wahai, saudaraku! Seberapa luas sebenarnya dirimu?”

Lautan hanya tersenyum, tanpa menjawab.

“Apakah luasmu setengah dari luas diriku?” tanya danau lagi.

Lautan tetap tersenyum, lalu mengangguk pelan.

Danau itu kembali bertanya: “Sebenarnya seberapa besar kamu? Jangan-jangan luasmu sekitar tujuh puluh persen dari luas diriku? Kalau begitu, berarti kamu memang cukup besar juga ya!”

Lautan tetap tersenyum dengan rendah hati.

Danau mulai gelisah, lalu berkata: “Hei! Melihat sikapmu yang begitu percaya diri… jangan-jangan kamu… lebih besar dariku?”

Saat itu, sungai yang mengalir di dekat mereka angkat bicara.

“Lautan itu seratus kali lebih luas darimu!”

“Apa?! Tidak mungkin! Tidak mungkin!” seru danau terkejut. Dia terdiam, tak mampu berkata-kata, hampir tak percaya dengan apa yang didengarnya.

Sungai pun melanjutkan dengan tegas: “Tidak ada yang mustahil. Setiap kali kami melewatimu dan ingin singgah sebentar, kamu selalu menolak. Tapi lihatlah lautan—ratusan sungai, bahkan ribuan anak sungai datang kepadanya, dan semuanya diterima dengan terbuka. Wajar saja jika dia menjadi begitu luas!”

Akhirnya danau itu mengerti.

Ternyata, luasnya hati seseoranglah yang menentukan besarnya pencapaiannya.

Dalam kehidupan yang penuh dengan interaksi dan hubungan yang rumit, sudahkah kita menempatkan “sebuah samudra” di dalam hati kita?

Mari kita belajar:

Belajar menerima pendapat orang lain, tanpa menolaknya hanya karena rasa sombong atau justru karena rendah diri.

Belajar menerima perbedaan karakter orang lain. Kita mampu menjalin persahabatan dengan mereka yang berbudi dan berbakat, sekaligus membimbing mereka yang tersesat agar kembali ke jalan yang benar.

Belajar menerima kritik. Kita bisa mendengarkan pujian yang menyenangkan, tetapi juga berani menerima kata-kata yang terasa pahit di telinga.

Belajar untuk tidak membentuk kelompok-kelompok eksklusif. Kita boleh memiliki sahabat yang sehati dan sejalan, tetapi jangan sampai terjebak dalam persekongkolan demi kepentingan pribadi.

Seseorang yang mampu bersikap “menerima dalam segala hal” ibarat memiliki sebuah harta karun. Dia mampu menghimpun berbagai gagasan, mengumpulkan dukungan, membangun reputasi, dan memperluas wawasannya.

Jika dengan bersikap demikian orang lain merasa nyaman bersama kita, dan pada saat yang sama kualitas diri kita pun semakin meningkat, bukankah itu sesuatu yang patut diperjuangkan?

Letakkanlah sebuah samudra di dalam hatimu.

Dengan dada yang lapang dan jiwa yang luas dalam memperlakukan sesama, kamu pun bisa menjadi pribadi besar—meski tetap hidup sebagai orang yang sederhana.

Hikmah Cerita

Kerendahan hati dan sikap toleran adalah bentuk kebijaksanaan. Ia membuat seseorang tidak mudah bersaing secara egois, tidak serakah, mampu bersikap bijak dalam bergaul, serta memiliki pandangan yang jauh lebih luas terhadap kehidupan.(jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Persib Tak Didampingi Bojan Hodak, Madura United Tetap Waspada
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Jadwal Pekan ke-23 BRI Super League: Persib Vs Madura United Panaskan Kamis Malam!
• 12 jam lalubola.com
thumb
Proyek Flyover Latumenten Sebabkan Kemacetan Horor, Legislator DKI Hardiyanto Minta Dishub Atasi
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
Cara Presiden Jadikan Masyarakat Desa Pelaku Utama Pembangunan Ekonomi
• 4 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Harga Emas Antam Hari Ini Balik Naik Jadi Rp3.039.000 per Gram
• 14 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.