Penulis: Fityan
TVRINews-Rabat, Maroco
Tradisi Tarawih Dua Sesi dan Kehangatan Sup Harirah di Negeri Seribu Wali
Di bawah langit Maghribi yang mulai meredup, suasana di kota-kota bersejarah Maroko seperti Fez dan Marrakesh bertransformasi menjadi pusat spiritualitas yang hidup.
Maroko, yang tersohor sebagai "Negara Seribu Wali," menyambut bulan suci Ramadan bukan sekadar sebagai ritual tahunan, melainkan sebuah simfoni ibadah yang memadukan keteguhan mazhab dengan kekayaan tradisi kuliner yang turun-temurun.
Sebagai penganut Madzhab Maliki yang kuat, pengaruh intelektual ulama besar seperti Abdul Wahid Ibnu Asyir dan sang pakar tata bahasa Al-Shanhaji masih terasa kental.
Warisan keilmuan ini mewarnai cara masyarakat setempat menghidupkan malam-malam Ramadan, khususnya melalui manajemen salat Tarawih yang unik dan terstruktur.
Ritual Berbuka: Dari Harirah hingga Teh Mint
Gema azan Maghrib menjadi penanda dimulainya ritual kehangatan keluarga di meja makan. Aroma rempah yang tajam segera memenuhi ruang-ruang rumah penduduk.
Hidangan utama yang tak pernah absen adalah Sup Harirah, sebuah mahakarya kuliner berbahan dasar kacang adas, chickpeas (kacang hamus), dan mi sariyah yang kental. Kesegaran daun ketumbar dalam sup ini menjadi penawar dahaga setelah seharian berpuasa.
Tak hanya itu, meja makan warga Maroko juga dihiasi oleh:
- Chubakiyah: Kue manis bertekstur lembut dari tepung gandum dan madu.
- Nutrisi Tradisional: Kombinasi kurma dan telur rebus sebagai pembuka.
- Syai Na’na: Teh mint ikonik yang disajikan panas, memberikan efek menenangkan sebelum beranjak menuju masjid.
Mengejar Lailatul Qadar dalam Dua Gelombang
Salah satu aspek paling menonjol dari Ramadan di Maroko adalah pembagian salat Tarawih menjadi dua sesi berbeda. Berdasarkan laporan pantauan dari Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko, masjid-masjid di sana menerapkan sistem yang sangat teratur untuk memastikan jamaah dapat mengkhatamkan 30 juz Al-Quran selama satu bulan penuh.
Sesi pertama dimulai sesaat setelah salat Isya. Meskipun secara jumlah hanya 8 rakaat, durasinya cukup panjang. Hal ini disebabkan oleh pelantunan ayat-ayat suci yang dilakukan secara telaten oleh para hafiz. Kualitas vokal yang merdu dan penghayatan makna yang dalam membuat masjid tetap dipenuhi jamaah dari berbagai kalangan usia.
Sesi kedua berlangsung pada sepertiga malam terakhir, sekitar satu jam sebelum subuh. Setelah menyantap sahur, masyarakat kembali berbondong-bondong ke masjid untuk menyelesaikan target bacaan harian. Fenomena ini memperlihatkan antusiasme generasi muda Maroko yang luar biasa dalam beribadah.
"Fenomena penuhnya masjid oleh anak muda di Maroko bukanlah kebetulan. Hal ini merupakan buah dari didikan orang tua yang menanamkan kecintaan pada ibadah sejak kecil," tulis laporan dari PPI Maroko yang dikutip dalam ulasan ini.
Refleksi dari Ujung Afrika Utara
Keberhasilan Maroko dalam menjaga nyala spiritualitas Ramadan terletak pada sinkronisasi antara ilmu dan tradisi. Setiap langkah menuju masjid dipandang sebagai investasi pahala yang berlipat ganda.
Bagi dunia luar, Ramadan di Maroko adalah sebuah narasi tentang bagaimana sebuah bangsa menjaga identitas peradabannya melalui sujud yang panjang dan berbagi semangkuk sup yang hangat. Di sini, ibadah telah bermetamorfosis menjadi sebuah seni kehidupan yang tidak lekang oleh waktu.
Editor: Redaktur TVRINews





