Kebahagiaan Tersembunyi dalam “Ketidaktahuan”

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Ada dua orang yang tercebur ke laut. Yang satu memiliki penglihatan sangat tajam, sementara yang lain rabun jauh. Mereka berdua berjuang di tengah laut yang luas, dan tak lama kemudian mulai kehabisan tenaga.

Tiba-tiba, orang yang penglihatannya tajam melihat sesuatu di kejauhan—sebuah perahu kecil yang tampak mengapung ke arah mereka. Orang yang rabun pun samar-samar melihat bayangan itu.

Mereka pun kembali bersemangat dan berenang sekuat tenaga menuju “perahu” tersebut.

Namun di tengah perjalanan, orang yang bermata tajam berhenti. Dia sudah melihat dengan jelas bahwa itu bukanlah perahu, melainkan hanya sepotong kayu lapuk.

Sementara itu, si rabun tidak mengetahui kenyataan tersebut. Dia terus berenang dengan sisa tenaganya. Ketika akhirnya dia sampai dan menyadari bahwa benda itu hanyalah kayu lapuk, ternyata jaraknya ke tepi pantai sudah tidak jauh lagi.

Orang yang melihat terlalu jelas itu akhirnya kehilangan nyawanya di air. Sedangkan orang yang rabun justru selamat dan memperoleh kehidupan baru.

Ada pula dua orang pasien kanker.

Yang satu pendengarannya sangat tajam. Dia tanpa sengaja mendengar percakapan dokter yang mengatakan bahwa mereka mungkin hanya memiliki waktu tiga bulan untuk hidup.

Sejak saat itu, dia murung setiap hari. Belum sampai tiga bulan, dia sudah meninggal.

Sementara pasien yang lain pendengarannya kurang baik. Jangankan menguping percakapan dokter, bahkan jika diberi tahu secara langsung pun dia belum tentu mendengar dengan jelas.

Aneh tapi nyata, dia tidak hanya melewati tiga bulan itu. Hingga dua tahun kemudian, dia masih hidup dengan baik.

Di Amerika Serikat, ada dua perusahaan dengan ukuran yang sama. Presidennya masing-masing bernama Robert dan Steve.

Robert adalah orang yang sangat pandai berhitung dan merencanakan. Dia selalu melihat jauh ke depan. Karena telah memprediksi krisis keuangan Amerika tahun 2008, dia memutuskan untuk membubarkan perusahaannya lebih awal. Setidaknya, dengan begitu dia dan para karyawannya masih memiliki sisa dana untuk bertahan hidup. Jika tidak, menurut perhitungannya, mereka pasti akan terlilit utang.

Dia menganalisis bahwa pada tahun 2008, sekitar 30% perusahaan di Amerika akan bangkrut. Dan perusahaan kecil seperti miliknya, hampir pasti termasuk dalam 30% tersebut.

Sebaliknya, Steve bukanlah orang yang pandai berhitung. Bahkan banyak yang menganggapnya agak naif.

Dengan polos dia percaya bahwa masa depan tidak pernah bisa diprediksi. Sekalipun rencana paling sempurna diletakkan di hadapannya, dia tetap tidak sepenuhnya percaya, karena masa depan belum benar-benar terjadi.

Dia hanya berpikir sederhana: selama perusahaannya masih bisa bertahan satu hari lagi, maka dia akan terus mempertahankannya.

Hasilnya? Perusahaannya justru secara ajaib berhasil melewati badai krisis keuangan global tersebut.

Pada akhirnya, orang yang terlalu pandai menghitung membubarkan perusahaannya. Sedangkan orang yang tidak terlalu pandai berhitung justru membuat perusahaannya berkembang lebih pesat dari sebelumnya.

Dalam hidup, banyak hal yang tidak kita ketahui justru lebih baik daripada yang kita ketahui. Kadang, tidak terlalu peka lebih baik daripada terlalu peka. Tidak terlalu cerdas dalam perhitungan justru lebih baik daripada terlalu cermat.

Inilah yang sering disebut orang sebagai “indahnya sedikit kebodohan”.

Sesungguhnya, hidup memang tidak pernah sepenuhnya jelas. Banyak kebahagiaan dan sukacita tersembunyi dalam ruang-ruang ketidaktahuan itu. Begitu kita terlalu sadar dan terlalu jelas melihat segalanya, bisa jadi kebahagiaan pun ikut menghilang seperti asap yang tertiup angin.

Hikmah Cerita

Terlalu melihat segala sesuatu dengan sangat jelas dan sangat tajam, dari sudut tertentu, justru bisa membuat kita kehilangan kesempatan—bahkan kehilangan rasa bahagia.

Kadang, tidak terlalu memahami sisi gelap dunia justru merupakan bentuk kebahagiaan tersendiri.

Namun tentu saja, hidup tidak sesederhana itu. Banyak pula contoh di mana pandangan jauh ke depan dan kejernihan berpikir justru mencegah bencana dan kerugian.

Tetapi ada satu hal yang patut kita renungkan: “Masa depan tidak pernah bisa sepenuhnya diprediksi. Bahkan rencana paling sempurna pun belum tentu menjadi kenyataan, karena masa depan belum benar-benar datang.”

Masa depan adalah sesuatu yang tak sepenuhnya bisa kita kendalikan. Mereka yang berani mengambil risiko mungkin akan menuai hasil yang lebih besar—tetapi juga bisa saja bersinar sesaat seperti kembang api, lalu lenyap ditelan zaman.

Maka mungkin, kebijaksanaan bukan tentang menjadi terlalu cerdas atau terlalu polos. Melainkan tentang tahu kapan harus melihat dengan jelas, dan kapan cukup membiarkan hidup berjalan apa adanya.(jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Perkuat Diplomasi Kreatif, Wamen Ekraf Irene Umar Lakukan Pertukaran Maskot Kuda Api dengan Tiongkok
• 1 jam lalutvrinews.com
thumb
SK Menhut Jadikan Kayu Hanyutan Bermanfaat, Percepat Rehabilitasi Pascabencana
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
3,6 Juta Kendaraan Diprediksi Melintas Tol Jawa-Sumatera saat Mudik Lebaran
• 12 menit lalurctiplus.com
thumb
Pemerintah: 714 Anak Perkawinan Campuran Ajukan Permohonan Jadi WNI
• 2 jam lalukompas.com
thumb
BNPB minta jaringan air bersih terhubung ke seluruh huntara di Aceh
• 17 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.