FAJAR, SEMARANG — Sore di Lapangan POJ Semarang, Rabu (25/2/2026), tidak berjalan biasa. Teriakan instruksi terdengar lebih keras, duel terasa lebih tajam, dan setiap sentuhan bola seperti membawa beban klasemen.
Bagi PSIS Semarang, pertandingan melawan Persiba Balikpapan pada pekan ke-21 Pegadaian Championship bukan sekadar laga tandang. Itu adalah peluang keluar dari zona degradasi.
Dan tekanan itu terasa jelas di sesi latihan.
Intensitas yang Berujung Emosi
Dalam gim internal, tensi sempat memanas. Dua legiun asing PSIS, Aldair Simanca dan Rafinha, terlibat duel keras yang berujung adu argumen. Keduanya berada di tim berbeda dan sama-sama menolak kalah dalam setiap perebutan bola.
Rekan-rekan setim harus turun tangan sebelum situasi melebar. Pemain senior Alberto Goncalves menjadi penenang, meminta keduanya meredam emosi.
Ketegangan serupa terjadi menjelang latihan usai ketika Fahmi Al Ayyubi terlibat adu mulut dengan Esteban Vizcarra. Suasana panas itu bukan pertanda keretakan, melainkan refleksi dari urgensi.
PSIS sedang berada dalam fase krusial musim.
Pembuktian di Tengah Persaingan Ketat
Bagi Aldair Simanca, latihan ini bukan sekadar rutinitas. Bek pinjaman tersebut mulai kehilangan tempat saat laga kontra Deltras FC. Status pemain asing membuat ekspektasi terhadapnya lebih tinggi.
Setiap duel menjadi panggung pembuktian.
Sementara itu, Rafinha datang dengan kepercayaan diri berbeda. Dalam dua laga terakhir, ia menjadi penentu hasil. Gol menit akhir ke gawang Persela Lamongan menyelamatkan satu poin, dan eksekusi penalti saat menghadapi Deltras memastikan kemenangan.
Ia tahu konsistensi adalah satu-satunya cara mempertahankan tempat di starting line up.
Persaingan bukan lagi soal reputasi, tetapi kontribusi nyata.
Pelatih Melihat Sisi Positif
Pelatih kepala Andri Ramawi tidak melihat gesekan tersebut sebagai masalah. Baginya, dinamika dengan tensi tinggi adalah bagian alami dari tim yang sedang berjuang.
“Ini hal yang normal. Ada momen biasa, ada juga yang tensi tinggi. Itu lumrah,” ujarnya usai latihan.
Bersama direktur teknik Angel Alfredo Vera, ia terus memantau setiap detail latihan untuk menentukan komposisi terbaik menghadapi Persiba.
Menurut Andri, sisi positif dari situasi itu adalah kompetitivitas.
Setiap pemain berusaha menunjukkan bahwa mereka pantas tampil sejak menit pertama.
Laga Penentu Arah Musim
Menghadapi Persiba di Balikpapan bukan tugas ringan. Bermain di kandang lawan selalu menghadirkan tekanan tambahan. Namun bagi Mahesa Jenar, hasil maksimal bisa menjadi titik balik.
Zona degradasi bukan sekadar angka di klasemen. Ia adalah ancaman nyata terhadap stabilitas klub.
Karena itu, intensitas latihan yang memanas bukan sekadar ledakan emosi. Ia adalah gambaran kesadaran kolektif bahwa musim belum aman.
PSIS tidak hanya berlatih untuk menang.
Mereka berlatih untuk bertahan.
Dan di tengah panasnya tensi internal, satu hal terlihat jelas: skuad ini belum menyerah.





