FAJAR, MASAMBA- Penguatan perlindungan anak di Kabupaten Luwu Utara turut dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan keluarga melalui pemberdayaan ekonomi perempuan petani kakao.
Sejak 2022, program GrowHer dijalankan dengan dukungan GIZ, Grow Asia, dan PISS Agro. Fokus program ini adalah meningkatkan kapasitas perempuan dalam pengambilan keputusan, literasi keuangan, serta pengembangan usaha.
Hingga 2026, sebanyak 92 Kelompok Simpan Pinjam Desa atau Village Saving and Loan Association (VSLA) telah terbentuk di 29 desa dengan total simpanan mencapai Rp3,6 miliar. Dana tersebut dimanfaatkan anggota untuk modal perkebunan, biaya pendidikan anak, dan pengembangan usaha mandiri.
Kehadiran VSLA menjadi ruang tumbuhnya rasa percaya diri dan solidaritas perempuan desa. Hal ini dirasakan Linda Sari dari VSLA Macan Desa Rompu yang kini lebih berani menyampaikan pendapat dalam forum desa.
“Dulu saya mungkin hanya diam, tetapi melalui VSLA, saya menemukan keberanian untuk berbicara. Kini, suara saya tidak hanya terdengar di rumah, tetapi juga bergema di rapat-rapat desa untuk memperjuangkan masa depan yang lebih baik,” ungkap Linda Sari.
Selain penguatan finansial, peserta juga mendalami teknik budidaya kakao yang baik atau Good Agricultural Practice (GAP). Mereka kini mampu memberi masukan strategis kepada suami terkait pemupukan dan pemangkasan pohon, bahkan terlibat langsung dalam pengambilan keputusan pengelolaan kebun keluarga.
Pada tahap pengembangan usaha, sebanyak 38 kelompok usaha telah dirintis, mulai dari pembibitan kakao hingga produksi olahan pangan seperti gula aren cair dan minyak kelapa murni.
Keberlanjutan usaha didukung pemerintah desa melalui penyediaan lahan produksi serta pemerintah daerah melalui fasilitasi perizinan. Salah satu contoh adalah kelompok bisnis Asoka yang menerima hibah peralatan produksi sekitar Rp30 juta dari pemerintah provinsi sebagai bentuk apresiasi atas kemandirian ekonomi yang dibangun.
Senior Manager Agriculture Portofolio Lead Save the Children Indonesia, Ihwana Mustafa, menegaskan bahwa perlindungan anak tidak bisa dilepaskan dari kesejahteraan keluarga.
“Perlindungan anak yang berkelanjutan berakar pada keluarga yang tangguh. Melalui penguatan kapasitas perempuan, kita tidak hanya menghentikan praktik pekerja anak, tetapi juga membuka jalan bagi masa depan generasi yang lebih sejahtera,” ujarnya.
Program ini dinilai menjadi bukti bahwa transformasi berkelanjutan di sektor kakao hanya dapat terwujud melalui sinergi antara perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan, demi masa depan yang lebih aman dan sejahtera bagi generasi mendatang di Bumi La Maranginang. (shd)





