Upaya mendorong kemakmuran berbasis inovasi di negara berkembang dinilai hanya dapat terwujud melalui kolaborasi selaras antara pemerintah, korporasi, wirausahawan, dan penyedia modal, bukan lewat pertumbuhan yang berjalan sendiri.
Pengusaha sekaligus Presiden Direktur PT Iforte Solusi Infotek, Peter Djatmiko, menjelaskan keselarasan ekosistem investasi dan inovasi kewirausahaan merupakan kunci agar pasar berkembang seperti Indonesia dan dapat bertransformasi dari sekadar konsumen teknologi global menjadi pencipta nilai.
“Pasar berkembang seperti Indonesia secara historis merupakan konsumen teknologi global. Kita tidak hanya mengimpor modal, tetapi juga mengimpor sistem dan platform. Dan model pertumbuhan dengan segala cara memiliki batas,” kata Peter yang dalam gelaran The New Calculus for Growth Markets: Scaling Innovation & Entrepreneurship in Southeast Asia di Nur Corne S28, Jakarta Selatan, Kamis (26/2).
Menurutnya, orientasi pelaku usaha kini mulai bergeser dari sekadar mengejar pertumbuhan pendapatan menuju profitabilitas dan kinerja fundamental seperti EBITDA. Ketergantungan berlebihan pada modal dan teknologi impor berisiko membuat inovasi rapuh, sehingga diperlukan arsitektur ekosistem baru serta “kalkulus baru” untuk pertumbuhan inovasi di pasar berkembang.
“Infrastruktur fisik berteknologi tinggi sebenarnya adalah fondasi ekonomi digital. Saya berbicara tentang jaringan telekomunikasi, jaringan serat optik, jaringan darat dan bawah laut, jaringan seluler, komunikasi suplai, bersama dengan pusat data dan klaster GPU, serta manufaktur dan sistem tenaga. Startup digital tidak dapat berkembang tanpa fondasi teknologi tinggi yang kuat,” kata Peter.
Ia menilai Indonesia cukup kuat pada sektor teknologi lunak seperti aplikasi dan layanan digital, tetapi masih tertinggal dalam basis manufaktur serta infrastruktur telekomunikasi dan energi.
“Kita perlu menanamkan teknologi ke dalam logistik, ke dalam infrastruktur manufaktur, dan energi. Kita perlu meningkatkan ekonomi riil dengan teknologi maju. Dan logika modal yang berbeda diperlukan,” ucap Peter.
Ia pun menekankan pembangunan fondasi teknologi keras membutuhkan model pembiayaan berbeda dari modal ventura konvensional yang umumnya berjangka pendek. Kata Peter, investasi jenis ini memerlukan horizon 15–25 tahun serta modal jangka panjang yang sabar.
Dalam konteks tersebut, platform investasi negara seperti Danantara dan INA dinilai berpotensi menjadi investor jangkar yang menurunkan persepsi risiko dan menarik investor lain.
“Modal ventura cepat biasanya jangka pendek, sehingga tidak cocok untuk fondasi teknologi keras. Dana kekayaan negara dapat menyediakan modal sabar jangka panjang,” lanjut Peter.
Ia menambahkan, inovasi yang berkelanjutan membutuhkan keselarasan kebijakan pemerintah, dukungan modal jangka panjang, kolaborasi korporasi dengan startup, serta peran universitas dalam menghubungkan riset dengan industri.
“Saya pikir kata kunci di sini adalah keselarasan. Jika perusahaan dan sovereign wealth fund dapat bekerja sama, melakukan investasi bersama dan berbagi risiko, maka keselarasan kepentingan akan menjadi lebih kuat dan kita bisa menghadirkan modal yang bernilai serta berdampak,” jelas Peter.
Katanya, perusahaan besar tidak hanya mampu menyediakan pendanaan dan akses pasar, tetapi juga dapat berperan sebagai mitra strategis. Dengan keterlibatan tersebut, perusahaan membawa keahlian dan pengalaman yang dapat membantu perkembangan start up.
Sementara pengusaha sekaligus Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi RI, Sandiaga Uno, optimistis Indonesia berpotensi menjadi ekonomi bernilai USD 31 triliun dan keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap). Ia menilai strategi pertumbuhan nasional kini diarahkan pada pemerataan serta bertumpu pada hilirisasi dan peningkatan skala usaha mikro, kecil, dan menengah.
“Ya, ada peran modal ventura. Ada peran ekuitas privat. Ada juga peran korporasi besar yang menyediakan ruang bagi platform. Tetapi uang cepat bukan lagi tren. Unicorn bukan lagi obsesi,” kata Sandiaga dalam kesempatan yang sama.
Menurutnya, tren pendanaan kini bergeser dari obsesi terhadap unicorn menuju model “zebra”, yaitu perusahaan yang tidak hanya tumbuh tetapi juga berorientasi profit dan kontribusi ekonomi nyata.
“Sekarang adalah zebra. Koin baru. Zebra. Bukan unicorn,” lanjutnya.
Sandiaga pun menilai disiplin modal dan tata kelola yang kuat menjadi prasyarat penting untuk menutup kesenjangan pendanaan inovasi pencipta pasar.
“Kita memiliki tantangan besar di sini. Pasar modal perlu meningkatkan transparansi. Tata kelola yang kuat. Sinergi korporasi dan start up semakin cepat berkembang. Skalanya meningkat,” sebut Sandiaga.
Sekilas Tentang MIT Kuo Sharper Center Indonesia Series 2026MIT Kuo Sharper Center menghadirkan diskusi yang membahas pendekatan baru dalam menyelaraskan kebijakan, modal, dan kapabilitas guna memperkuat ekosistem inovasi. Diskusi ini bertajuk The New Calculus for Growth Markets: Scaling Innovation Entrepreneurship in Southeast Asia.
Lewat diskusi ini, narasumber yaitu Executive Director MIT Kuo Sharper Center Dina H. Sherif, Sandiaga Uno, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu, dan Presiden Direktur PT Iforte Solusi Infotek Peter Djatmiko membahas posisi Indonesia sebagai salah satu motor pertumbuhan dalam mendorong transformasi digital dan pengembangan industri di Asia Tenggara.





