Di sudut Kota Jakarta, tepatnya di Jalan H. Soleh, Jakarta Timur, berdiri kokoh masjid dengan corak ornamen khas Tionghoa. Masjid itu bernama Tjia Khang Hoo.
Sekilas saat melintas di lokasi, bangunan itu tak mirip seperti masjid. Orang yang baru datang ke lokasi mungkin akan menganggapnya sebagai kelenteng. Tidak ada kubah seperti pada masjid umumnya. Atap masjid didesain dengan ornamen khas Tionghoa.
Saat mendekati gerbang utama masjid, barulah terlihat tulisan Masjid Tjia Khang Hoo yang menggunakan aksara dari tiga bahasa: Indonesia, Arab, dan Mandarin. Pintu beserta tembok yang berada di masjid ini diukir dengan relief khas Tionghoa.
Saat dilihat lebih dalam ke area masjid, ada lafaz Allah SWT terpahat di dindingnya.
Ketua DKM Masjid Tjia Khang Hoo, Wildan (32), menuturkan bahwa nama masjid ini diambil dari kakeknya yang merupakan keturunan Tionghoa.
"Kita masih ada keturunan kan dari kakek saya ini kan, keturunan Tionghoa ya," kata Wildan di lokasi.
Masjid ini berdiri sejak 8 Oktober 2022 dan pembangunannya kini belum selesai sepenuhnya. Wildan mengungkapkan bangunan masjid ini masih perlu dimaksimalkan sisi ornamen Tionghoa-nya, sehingga masjid ini sebetulnya belum diresmikan sepenuhnya.
"Hingga sekarang masih terus berproses lah, masih sekitar 80% ini seperti kita lihat. Masih banyak ornamen-ornamen yang perlu dimaksimalkan lagi, jadi belum kita resmikan secara utuh," ungkap Wildan.
Meski begitu, salah satu pengunjung masjid ini, yaitu Aid (55), merasakan kenyamanan akan suasananya, utamanya pada bagian toilet dan ruang ibadah utama masjid ini.
"Toiletnya bagus, mewah. Terus tempat wudhunya juga airnya tuh bagus banget, berlimpah gitu, enggak susah. Untuk tempat masuk ke dalam masjid suasananya dingin, enak, sejuk," ujar Aid.
Bentuk masjid yang menyerupai kelenteng ini ditanggapi Aid secara positif. Menurutnya, masjid tidak selalu identik dengan budaya Arab dan dapat menunjukkan sisi keragaman budaya, seperti halnya Masjid Tjia Khang Hoo ini.
"Kalau menurut saya sih bagus ya ini untuk budaya, keragaman budaya. Sebenarnya kalau beragama itu kan enggak penting dengan kultur harus Arab gitu. Jadi menonjolkan budaya, ya saya orang Chinese, ya saya Muslim gitu," ujar Aid.





