Bisnis.com, JAKARTA — China berencana melakukan pengetatan standar kualitas udara secara besar-besaran untuk pertama kalinya sejak 2012. Langkah ini ditempuh seiring dengan perluasan kampanye antipolusi yang sukses di negara ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.
Batas terbaru untuk sejumlah polutan akan dirilis pada Maret dan diperkuat lebih lanjut pada 2031 berdasarkan dokumen yang diunggah oleh Kementerian Ekologi dan Lingkungan China. Aturan yang lebih ketat dimaksudkan untuk mengurangi risiko kesehatan, mendukung ambisi untuk membuat China lebih asri dan menyelaraskan standar nasional dengan praktik internasional.
Mengutip Bloomberg, Presiden China Xi Jinping acap kali menyampaikan arahan untuk memperkuat upaya agar langit Negeri Panda tetap biru, air yang bersih dan bebas polusi. Berbagai sektor juga didorong untuk mencapai target dengan mengurangi polusi secara drastis, terutama di kota-kota besar China.
Sejak kampanye antipolusi digulirkan, sejumlah sektor intensif energi seperti batu bara, kimia, dan aluminium memindahkan fasilitas produksi dari kawasan pesisir yang padat ke wilayah dengan kepadatan lebih rendah. Selain terdorong kebijakan lingkungan, relokasi ini juga dipicu biaya energi dan bahan baku yang lebih murah. Meski berdampak positif bagi kualitas udara di kota besar, pergeseran industri tersebut memicu tekanan baru terhadap kualitas udara di sebagian wilayah barat China.
Dalam aturan baru yang berlaku penuh mulai 1 Januari 2031, batas rata-rata tahunan partikel halus PM2.5 ditetapkan maksimal 25 mikrogram per meter kubik di sebagian besar wilayah, turun dari batas saat ini sebesar 35 mikrogram. Standar transisi yang berlaku mulai Maret akan menetapkan batas tahunan 30 mikrogram. PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru bahkan ke aliran darah.
Selain PM2.5, pemerintah juga menurunkan ambang konsentrasi polutan lain seperti PM10, sulfur dioksida, nitrogen oksida, dan nitrogen dioksida. Lokasi yang sensitif secara lingkungan seperti taman nasional dan cagar alam akan dikenai standar yang lebih ketat.
Baca Juga
- Deretan Komoditas Mineral Kritis dan Logam Terancam Krisis Iklim
- KLH Bekukan Izin Lingkungan 80 Tambang Batu Bara dan Nikel
- Dukung Transisi Energi, PLN Bangun PLTA Pumped Storage 1.000 MW di Pacitan
Pendiri Institute of Public and Environmental Affairs, Ma Jun, menilai aturan baru akan mendorong kota-kota di China melanjutkan aksi udara bersih. Namun, ia mengakui pencapaian standar tersebut bukan hal mudah.
Langkah China ini kontras dengan kebijakan Amerika Serikat yang justru melonggarkan pengendalian polusi dan mencabut sejumlah regulasi lingkungan penting. Meski demikian, standar baru China masih lebih longgar dibandingkan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang pada 2021 merekomendasikan batas rata-rata tahunan PM2.5 sebesar 5 mikrogram per meter kubik dan batas harian 15 mikrogram.
Isu kualitas udara diperkirakan kembali menjadi sorotan dalam pembukaan Kongres Rakyat Nasional di Beijing pekan depan, sekaligus masuk dalam Rencana Lima Tahun ke-15 yang akan mengatur arah kebijakan hingga 2030.
China meluncurkan “perang melawan polusi” pada 2013 setelah serangkaian kabut asap parah memicu kemarahan publik. Sejak itu, perbaikan kualitas udara tercatat sebagai salah satu yang tercepat secara global. Rata-rata tahunan konsentrasi PM2.5 turun dari 68 mikrogram per meter kubik pada 2013 menjadi 28 mikrogram tahun lalu, menurut data kementerian.
Meski demikian, sekitar 60% kota di China masih mencatat tingkat polusi udara di atas standar baru 25 mikrogram per meter kubik yang akan diberlakukan mulai 2031.





