Kawasan vila yang terletak di sepanjang Jalan Bumi Ayu, Desa/Kelurahan Sanur, Kota Denpasar, Bali masih terendam banjir, sejak Selasa (24/2).
Pantauan kumparan, Jalan Bumi Ayu memiliki panjang lebih dari 550 meter. Di jalan utama, air menggenang sekitar 20-30 sentimeter. Sementara di sejumlah gang, terpantau genangan air setinggi 20-50 sentimeter pada 15.00 WITA.
Hal ini menyebabkan Kawasan Jalan Bumi Ayu sepi. Hanya nampak satu-dua orang turis bersantai di warung, menanti air surut.
Warga bernama Bayu (30 tahun) mengatakan kawasan Bumi Ayu dulu merupakan kawasan rawa-rawa. Ia juga menyebut, kawasan ini jadi titik kumpul air saat hujan.
"Makanya nama jalannya Bumi Ayu, karena di sini dulu semacam telaga atau kayak rawa-rawa gitu, tempat kumpul air, sekarang sudah dibuatin vila-vila," katanya.
Bayu mengingat sekitar tahun 1998, sejumlah vila mulai dibangun di sekitar Jalan Bumi Ayu. Menurutnya, semakin banyak jumlah vila tingkat keparahan banjir semakin tinggi.
Bayu mengaku sempat ikut membantu mengevakuasi warga di sekitar Jalan Bumi Ayu, pada Selasa (24/2). Ketinggian banjir saat itu mencapai dada orang dewasa atau sekitar 1 meter.
Menurutnya, banjir selama berhari-hari selama musim hujan sudah jadi langganan warga setempat. Hanya saja, banjir kali ini paling tinggi.
"Kemarin ada ibu-ibu dievakuasi sudah 30 tahun dia di sini. Dia juga bilang ini paling tinggi, enggak seperti dulu-dulu," katanya.
Sementara itu, Ano (28), pelaku usaha wisata setempat, mengatakan sejumlah turis asing mulai meninggalkan vila sejak kawasan terendam banjir sejak Selasa (24/2). Menurutnya, para turis asing itu saat ini memilih untuk menginap di hotel di kawasan Sanur yang tidak tersentuh banjir.
"Kemarin, klien saya baru check in di vila, tapi karena banjir langsung check out dan sekarang menginap di hotel sekitar sini," katanya kepada wartawan.
Terpisah, Kalaksa BPBD Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, mengatakan salah satu penyebab banjir tak kunjung surut akibat curah hujan tinggi selama berhari-hari dan saluran drainase tak optimal menampung air.
"Drainase yang ada belum sanggup menghadapi hujan lebat. Drainase ini bukan dibangun oleh pemerintah kabupaten-kota saja tapi juga oleh pengembang," katanya saat dihubungi.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Denpasar, I Made Tirana, mengatakan air tak kunjung surut juga dipengaruhi oleh pasang-surut air laut dan volume air Sungai Loloan.
Apabila air laut pasang maka genangan air di darat terhambat mengalir ke lautan. Demikian juga, apabila volume air di Sungai Loloan tinggi maka aliran air mengenang di sejumlah titik di Kota Denpasar.
"Kalau air pasang sehingga air darat sulit ke laut dan terbendung jadinya. Termasuk juga kondisi di sungai Loloan," katanya.
Damkar bersama PUPR saat ini menyediakan dua mesin penyedot air dan tiga truk berkapasitas 3 ribu dan 5 ribu liter mengatasi banjir. Genangan air akan disedot kemudian ditampung selanjutnya dibuang ke laut atau Sungai Loloan.
"Kalau di Bumi Ayu malam ini bisa tuntas kalau malam tidak ada hujan," katanya.





