JENEWA, KOMPAS.TV - Pemerintah Iran dan Amerika Serikat (AS) dilaporkan menggelar perundingan nuklir di Jenewa, Swiss, Kamis (26/2/2026) hari ini. Perundingan ini adalah negosiasi babak ketiga sejak perang Israel-Iran pada Juni 2025 lalu.
Perundingan ini pun digelar di tengah ancaman AS menyerang Iran karena program nuklirnya. Presiden AS Donald Trump dilaporkan menginginkan perjanjian untuk membatasi program nuklir Iran.
Meskipun demikian, pemerintah Iran balik mengancam akan menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah jika Washington menyerang.
Baca Juga: Jelang Perundingan Nuklir, Garda Revolusioner Iran Gelar Latihan Perang di Selat Hormuz
Teheran menegaskan personel dan fasilitas militer AS yang berada di kawasan sah menjadi target serangan balasan.
"Tidak akan ada kemenangan bagi siapa pun, ini akan menjadi perang yang menghancurkan," kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelum perundingan nuklir, dikutip Associated Press.
Perundingan nuklir di Jenewa dilaporkan digelar secara tidak langsung. Menteri Luar Negeri Oman Badr Al-Busaidi menjadi mediator dan berunding dengan kedua pihak.
Al Jazeera melaporkan, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi juga hadir di Jenewa sebagai peninjau teknis yang dapat membantu memandu perundingan.
Sebelumnya, Washington mendesak agar Iran menghentikan program pengayaan uranium sepenuhnya. Gedung Putih menuduh pemerintah Iran berupaya membangun kembali program nuklir hingga bisa melakukan pengayaan uranium.
Akan tetapi, Teheran membantah dan mengaku tidak melanjutkan pengayaan uranium sejak Juni 2025. Namun, Teheran masih menolak inspektur IAEA meninjau fasilitas nuklirnya.
Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- perundingan nuklir iran
- program nuklir iran
- perundingan nuklir
- iran
- amerika serikat





