Bisnis.com, JAKARTA - Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) membukukan kinerja positif sepanjang 2025. Pendapatan bruto perusahaan tumbuh 20% dan laba bersih naik 15% dibandingkan tahun sebelumnya.
Direktur Utama PDSI Avep Disasmita mengatakan pencapaian itu tidak lepas dari posisi strategis perusahaan dalam ekosistem energi nasional. Menurutnya, setiap target produksi yang dipatok pemerintah, baik minyak 1 juta barel per hari maupun gas 12 juta kaki kubik per hari, pada akhirnya bertumpu pada keberhasilan proses pengeboran.
“Di titik inilah sebenarnya Pertamina Drilling mempunyai peran kunci,” kata Avep dalam wawancara bersama Bisnis.com yang dapat disaksikan di YouTube Bisnis.com https://www.youtube.com/watch?v=jd5iX0mKGiU .
PDSI saat ini mengoperasikan sekitar 53 rig pengeboran darat, menjadikannya salah satu perusahaan dengan aset pengeboran darat terbesar di Asia Tenggara dengan pengalaman lebih dari satu dekade di sektor tersebut.
Tidak berhenti di darat, PDSI juga merambah segmen offshore dengan mengoperasikan dua rig berkapasitas 550 tenaga kuda (HP). Di segmen ini, PDSI berkolaborasi dengan Ades Group, salah satu pemain pengeboran lepas pantai terkemuka di dunia, untuk mengoperasikan jack up rig.
Kelengkapan layanan PDSI diperkuat oleh unit non-rig sebagai supporting services, serta anak perusahaan Patra Drilling Contractor yang menangani logistik, transportasi, tenaga kerja, dan perlengkapan operasional. Kombinasi inilah yang membuat PDSI memposisikan diri sebagai one-stop solution company dalam industri pengeboran nasional.
Menghadapi dinamika dan tantangan industri energi, PDSI mengembangkan model bisnis terintegrasi berbasis konsep end-to-end well construction delivery atau layanan dari awal pengeboran hingga penyelesaian sumur secara tuntas. Pendekatan bundling services antara layanan rig dan non-rig dalam satu kesatuan manajemen proyek terbukti memberikan nilai tambah signifikan bagi klien, yakni efisiensi waktu, pengendalian biaya, dan peningkatan standar keselamatan kerja.
Model ini efektif pada proyek Banyu Urip bersama ExxonMobil. PDSI mengerjakan sekitar 7 sumur menggunakan rig berteknologi tinggi berkekuatan 1.500 HP yang mampu bergerak mandiri. Proyek pun dapat selesai 10 bulan lebih cepat dari target, sekaligus berkontribusi menambah produksi minyak sebesar 30.000 barel untuk negara.
Secara kinerja keuangan, 2025 menjadi tahun yang cemerlang bagi PDSI. Pendapatan bruto tumbuh sekitar 20% dan laba bersih meningkat 15% dibandingkan realisasi 2024. Salah satu indikator kunci yang berhasil ditekan adalah non-productive time (NPT) yang berhasil ditekan hingga hanya 1,29%, berada di bawah ambang batas (threshold) yang ditetapkan.
“Capaian ini memberikan gambaran bahwa kami fokus pada efisiensi, keselamatan, dan kualitas layanan, sehingga mampu menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan,” tutur Avep.
Dengan wilayah operasi dari Sumatra hingga Papua, kapabilitas teknis kelas dunia, dan rekam jejak yang terus mengkilap, PDSI tampak siap menjadi tulang punggung pengeboran nasional dalam misi besar ketahanan energi Indonesia. Tonton wawancara eksklusif lengkap bersama Dirut PDSI Avep Disasmita di YouTube https://www.youtube.com/watch?v=jd5iX0mKGiU





