EtIndonesia. Badan Intelijen Nasional Korea Selatan (National Intelligence Service/NIS) pada 13 Februari 2026 mengungkap informasi yang langsung mengguncang perhatian internasional. Kim Ju-ae, putri pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un, yang disebut-sebut baru berusia 13 tahun, dilaporkan telah ditempatkan dalam struktur inti pengelolaan sistem rudal strategis negara tersebut dan mulai dipersiapkan sebagai calon penerus kekuasaan.
Pengungkapan ini disampaikan dalam laporan tertutup kepada Komite Intelijen Majelis Nasional Korea Selatan. Menurut keterangan pejabat yang dikutip media Chosun Ilbo, NIS telah memastikan bahwa putri Kim Jong Un kini menggunakan nama Kim Ju-ae dan disebut memegang posisi sebagai kepala Biro Umum Rudal Pasukan Strategis Tentara Rakyat Korea.
Biro tersebut bertanggung jawab atas pengembangan, pengujian, serta penempatan rudal strategis Korea Utara, termasuk rudal balistik antarbenua (ICBM) dan sistem hulu ledak nuklir. Jika laporan ini akurat, maka pelibatan seorang remaja dalam pengambilan keputusan di bidang persenjataan nuklir akan menjadi preseden yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern.
Indikasi Kuat Suksesi Dinasti Kim
Dalam laporan kepada parlemen, NIS menyebut langkah ini sebagai tahapan penting dalam proses penyiapan suksesi kekuasaan oleh Kim Jong Un. Informasi yang dihimpun menunjukkan bahwa Kim Ju-ae mulai mendengarkan laporan militer tingkat tinggi dan dilibatkan dalam diskusi strategis terkait kebijakan rudal.
Keterlibatan tersebut dinilai bukan sekadar simbolis. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa alur pelaporan strategis yang sebelumnya sepenuhnya berada di bawah komando militer senior kini mulai mengarah kepada putri pemimpin tersebut, meskipun secara formal jabatan komando masih dipegang oleh Jenderal Jang Chang-ha.
Sejak beberapa tahun terakhir, Kim Ju-ae memang semakin sering tampil di hadapan publik. Dia terlihat mendampingi ayahnya dalam berbagai acara penting, termasuk kunjungan ke lokasi uji coba nuklir, pangkalan rudal, serta peluncuran ICBM.
Parade Militer 25 Februari: Simbol Penguatan Citra Pewaris
Sorotan publik semakin tajam ketika pada malam 25 Februari 2026, Korea Utara menggelar parade militer besar di Lapangan Kim Il-sung, Pyongyang. Acara tersebut merupakan bagian dari penutupan Kongres Partai Buruh ke-9, forum politik tertinggi yang diadakan setiap lima tahun sekali.
Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) merilis foto-foto yang memperlihatkan Kim Ju-ae berdiri di samping Kim Jong-un di antara jajaran jenderal senior. Keduanya mengenakan jaket kulit hitam serupa—sebuah simbol visual yang oleh banyak analis ditafsirkan sebagai pesan kuat mengenai pewarisan kekuasaan.
Pengamat Korea Selatan menilai kemunculan publik berprofil tinggi seperti ini merupakan strategi terencana untuk membangun legitimasi politik sejak dini.
Potensi Gesekan Internal: Peran Kim Yo-jong
Namun, langkah ini juga memunculkan spekulasi mengenai dinamika internal keluarga Kim. Mantan Wakil Direktur Pertama NIS, Ra Jong-yil, dalam wawancaranya dengan The Telegraph, memperingatkan kemungkinan munculnya ketegangan kekuasaan.
Menurut Ra, adik perempuan Kim Jong Un, Kim Yo-jong, dikenal sebagai figur ambisius dan memiliki pengaruh luas di dalam Partai Buruh serta militer. Dia selama ini dipandang sebagai tokoh nomor dua paling berpengaruh di Korea Utara.
Jika Kim Ju-ae benar-benar dipersiapkan sebagai pewaris resmi, Ra menilai Kim Yo-jong mungkin tidak akan tinggal diam. Terlebih lagi, apabila terjadi situasi darurat seperti kematian mendadak atau ketidakmampuan Kim Jong Un menjalankan tugas, Kim Yo-jong dinilai memiliki kapasitas untuk mengonsolidasikan kekuasaan dengan cepat.
Sebaliknya, meskipun Kim Ju-ae kerap tampil di acara besar, usianya yang sangat muda membuat fondasi politiknya dianggap belum kokoh.
Sejarah Suksesi Berdarah Dinasti Kim
Sejarah kepemimpinan Korea Utara menunjukkan bahwa transisi kekuasaan tidak selalu berjalan mulus. Pada awal masa pemerintahannya, Kim Jong Ub mengeksekusi pamannya, Jang Song-thaek, dalam sebuah pembersihan politik yang menggemparkan dunia. Kakak tirinya, Kim Jong-nam, juga tewas dalam insiden pembunuhan di luar negeri yang memicu kontroversi internasional.
Preseden ini memperkuat pandangan bahwa dinamika suksesi di Pyongyang dapat berlangsung keras dan tak terduga.
Faktor Kesehatan dan Percepatan Suksesi
Meskipun Kim Jong Un masih berusia awal 40-an, berbagai laporan mengenai kondisi kesehatannya terus beredar. Kebiasaan merokok berat, konsumsi alkohol, serta dugaan diabetes dan tekanan darah tinggi disebut-sebut menjadi faktor yang mendorong percepatan perencanaan suksesi.
Ayahnya, Kim Jong-il, juga memiliki riwayat kesehatan serupa sebelum meninggal akibat serangan jantung pada 2011. Situasi tersebut menjadi pengingat bahwa stabilitas politik Korea Utara sangat bergantung pada figur tunggal pemimpin tertinggi.
Analisis dan Prospek ke Depan
Sejumlah warganet bahkan membandingkan situasi ini dengan peristiwa sejarah Tiongkok, yakni “Pemberontakan Jingnan” pada awal Dinasti Ming, ketika Zhu Di merebut takhta dari keponakannya melalui kekuatan militer.
Meski perbandingan tersebut bersifat historis dan simbolik, banyak analis sepakat bahwa Korea Utara memasuki fase sensitif dalam politik internalnya. Jika Kim Ju-ae benar-benar disiapkan sebagai penerus, maka Pyongyang sedang membangun generasi keempat dinasti Kim—sesuatu yang jarang terjadi dalam sistem politik modern.
Namun, pertanyaan besar tetap terbuka: Apakah proses ini akan berjalan mulus sebagai konsolidasi dinasti, atau justru memicu gejolak kekuasaan di balik layar?
Perkembangan selanjutnya akan sangat menentukan stabilitas internal Korea Utara serta keseimbangan keamanan di kawasan Asia Timur.





