Lari jadi salah satu olahraga kardio yang fleksibel dan mudah disesuaikan dengan gaya hidup sehari-hari, termasuk saat sedang berpuasa. Selama Ramadhan, banyak pelari yang mengatur ulang jadwal latihannya supaya konsistensi tetap terjaga dan tubuh nggak cepat drop.
Ada dua pilihan waktu yang banyak dipilih para pelari saat puasa, yaitu setelah sahur ataupun menjelang berbuka. Kedua waktu ini memang cukup sering direkomendasikan para ahli karena punya kelebihannya masing-masing.
Mengutip laman Jog Scotland, sebagian orang memilih latihan lari sekitar satu jam sebelum berbuka karena setelahnya bisa langsung minum dan mengisi energi kembali. Sementara itu, lari setelah sahur juga terasa nyaman karena energi tubuh masih penuh.
Perbedaan pilihan waktu ini ternyata juga mewarnai rutinitas lari sejumlah teman kumparan, lho. Kira-kira mereka tim lari setelah sahur atau sebelum buka puasa, ya? Yuk, simak cerita lengkapnya di bawah ini.
Jadwal Lari teman kumparanBagi teman kumparan Windu Sari Dewi (37), waktu ideal buat lari itu 1–2 jam setelah sahur. Menurutnya, di jam segitu, cadangan karbohidrat masih cukup banyak, badan juga masih terasa fresh karena belum kehilangan banyak cairan dan mineral.
Pilihan berbeda datang dari teman kumparan Ridwan Aliensky Bashrie (32). "Aku pilih yang 1-2 jam sebelum buka puasa," katanya. Baginya, lari jelang waktu berbuka punya sejumlah kelebihan. Berikut di antaranya:
Recovery lebih cepat, karena setelah selesai lari kamu bisa langsung minum dan makan. Ini penting banget buat recharge energi.
Cocok untuk fat loss ringan, karena dilakukan saat kondisi energi tubuh sedang rendah.
Nggak mengganggu jam tidur pagi, apalagi setelah sahur biasanya rasa ngantuk sulit ditahan.
Walau begitu, nggak menutup kemungkinan kalau ada risiko dehidrasi dan gula darah turun saat lari sebelum buka. Apalagi kalau terlalu memaksakan diri yang membuat badan bisa drop menjelang azan. Jadi, tetap harus tahu batas kemampuan, ya.
Sementara itu, teman kumparan Siti Halimah (29) mengaku lebih suka lari setelah sahur karena badannya masih full energy. Apalagi, Siti termasuk sports enthusiast yang nggak cuma fokus di cabang lari saja.
“Jujur, olahraga selama puasaku itu hybrid. Kadang jalan, lari pace cepat, zumba, aerobik, dan juga angkat beban ringan,” tuturnya. Dengan variasi aktivitas seperti itu, dibutuhkan energi yang cukup agar tubuh tetap kuat menjalani puasa.
Pilihan waktu tersebut ternyata juga nggak lepas dari bad experience yang pernah ia alami. Siti pernah mencoba latihan lari sebelum berbuka, tapi berujung pada kejadian yang cukup membuatnya kapok. “Aku pernah olahraga sembari ngabuburit, ternyata nggak cocok di aku, malah hampir blackout pas sampai rumah,” ujarnya.
Ditambah lagi, sebagai pengidap GERD, Siti nggak bisa memaksakan diri berolahraga dalam kondisi perut kosong. Ia khawatir hal itu bisa jadi trigger asam lambungnya naik. Karena itu, untuk menghindari risiko yang nggak diinginkan, ia konsisten memilih lari setelah sahur.
Menariknya, rutinitas ini sudah ia jalani selama lebih dari tiga tahun setiap Ramadan. Hasilnya, tubuh terasa lebih bertenaga, mood kerja lebih stabil, dan ia pun nggak gampang lemas sepanjang hari.
Ayo gabung komunitas teman kumparan Running Club untuk info event Fun Run terdekat di http://kum.pr/running





