Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Andi Saguni mengungkapkan bahwa hingga awal 2026, Indonesia masih menghadapi kejadian luar biasa (KLB) campak di sejumlah daerah.
“Untuk tahun 2026, ada 21 KLB suspek campak di 17 kabupaten/kota di 11 provinsi, dan 13 KLB campak konfirmasi lab di 9 kabupaten/kota di 6 provinsi,” ujar Andi dalam konferensi pers daring, Kamis (26/2).
Ia merinci, hingga minggu ke-7 tahun ini, tercatat 8.224 kasus suspek campak, termasuk 572 kasus konfirmasi laboratorium. Adapun kasus meninggal sebanyak 4 orang dengan Case Fatality Rate (CFR) 0,05 persen.
“Dan CFR-nya itu 0,05 persen. Artinya lebih rendah daripada angka daripada negara maju, yakni tadi 0,1 persen ya, kita lebih baik ya,” kata dia.
Lima provinsi dengan KLB terbanyak pada 2026 yakni Sumatera Barat, Sumatera Selatan, DI Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Gejala Campak pada Orang DewasaAndi mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai gejala campak, terutama di tengah peningkatan kasus pada Januari 2026 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Ia menjelaskan, gejala yang perlu diperhatikan antara lain demam dan munculnya ruam atau bercak merah pada kulit.
“Jika penderita mengalami demam atau ruang bercak merah tadi, ya segera dibawa ke puskesmas atau rumah sakit untuk diperiksa dan diobati,” ujarnya.
Andi mengacu pada kasus dari Australia melalui pemberitahuan International Health Regulation (IHR). Ia menyebut pasien perempuan usia 18 tahun hanya mengalami ruam.
“Pasiennya adalah perempuan usia 18 tahun, dengan gejala cuman ruam ya,” sambungnya.
Gejala pada AnakSementara itu, Dr. dr. Mulya Rahma Karyanti, MSc, PhD, Sp.A, Subsp.IPT (Konsultan Infeksi dan Penyakit Tropik Departemen Perempuan dan Anak RSCM) menjelaskan bahwa campak merupakan penyakit yang sangat menular dan infeksius.
“Jadi, penyakit campak itu sangat menular dan sangat infeksius. Jadi menular lewat udara atau kita sebut airborne dan itu bisa menularkan dari satu kasus campak ke sekitarnya sampai 18 kasus,” ujarnya.
Selain demam dan ruam pada tubuh, gejala awal biasanya berupa demam yang disertai batuk, pilek, meler, mata berair, dan kadang-kadang diare.
“Maka kalau memang ada tanda dan gejala pada anak yang dengan demam, disertai batuk, pilek, meler, sama mata mulai berair, dan kadang-kadang bisa disertai dengan diare. Hati-hati, biasanya diikuti dengan setelah hari ketiga, keempat, timbul ruam bercak-bercak di dari tengah badan menyebar ke sekitarnya,” jelas Mulya.
Menurutnya, ruam kemerahan atau bintik merah bisa disebabkan berbagai virus lain yang belum tentu diidentifikasi sebagai campak.
“Kalau campak itu paling berat karena dia menyebabkan sistem kekebalan tubuh anak menjadi turun, sehingga anak mudah kena infeksi bakteri ke paru-paru yang menyebabkan pneumonia, atau menyebabkan diare yang sampai dehidrasi yang berat. Atau salah satu lagi adalah yang paling berat adalah kalau sampai virus itu menjalar ke otak yang menyebabkan ensefalitis campak,” katanya.
Mulya juga menekankan pentingnya isolasi karena penderita sudah bisa menularkan sebelum ruam muncul.
“Biasanya 3 hari sebelum ruam itu timbul sampai 4 hari setelah ruam itu timbul, itu bisa menular. Jadi masih infeksius, menular lewat percikan ludahnya,” ujarnya.
Karena itu, anak yang sakit sebaiknya tidak masuk sekolah dan diisolasi di rumah agar tidak menularkan ke anak lain.
Ia menambahkan, hingga kini belum ada antivirus khusus untuk campak.
“Nah sampai saat ini tidak ada antivirus khusus untuk campak. Jadi terapinya hanya untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan membantu agar re-epitelisasi. Jadi vitamin A itu menjadi pilihan yang sampai saat ini dan tergantung keluhannya,” ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan, Mulya mengingatkan pentingnya imunisasi campak rubella (MR) sesuai jadwal.
“Kemudian pencegahannya hanyalah dengan imunisasi campak rubella yang bisa didapatkan dari faskes, posyandu, dan tidak dikenakan biaya,” pungkas dia.





