Jakarta, VIVA – Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), Hery Gunardi, memberikan kisi-kisi pembagian dividen untuk tahun buku 2025. Ia mengungkap perusahaan akan membagikan dividen dengan mempertimbangkan struktur keuangan perseroan.
Hery menegaskan, Manajemen BRI selalu mempertimbangkan sejumlah faktor utama sebelum menetapkan rasio pembagian dividen. Paling utama adalah kekuatan modal dan rencana pertumbuhan jangka panjang perseroan.
“Dalam hal menentukan rasio dividen itu tentunya bank akan mempertimbangkan kondisi struktur permodalannya serta juga rencana pertumbuhan untuk mendukung bisnis yang berkelanjutan di masa yang akan datang,” ujar Hery
Kabar baiknya, kata Hery, posisi permodalan perseroan saat ini berada pada level yang solid. Hingga periode terakhir, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) perseroan tercatat sekitar 23,52 persen atau jauh di atas ketentuan minimum regulator perbankan.
- Pixabay
Dengan posisi modal yang kuat tersebut, perseroan bank plat merah ini memiliki ruang lebih luas untuk meningkatkan rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio (DPR). Artinya, ada potensi pemberian dividen yang lebih tinggi untuk meningkatkan daya tarik perseroan di mata investor.
“Mempertimbangkan kondisi tersebut, kami memiliki ruang untuk memberikan dividen dengan payout ratio yang lebih tinggi dibandingkan dengan level historis yang selama ini ada,” kata Hery.
Menurutnya, peningkatan rasio dividen juga menjadi bagian dari strategi BRI dalam menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi pemegang saham. Selain memberikan pendapatan langsung melalui dividen, langkah ini juga berpotensi meningkatkan imbal hasil atas ekuitas atau return on equity (ROE) perseroan.
“Langkah ini merupakan upaya kami untuk senantiasa memberikan nilai tambah yang berkelanjutan kepada para pemegang saham. Kalau dividennya lebih besar diberikan, return on equity BRI juga akan lebih tinggi,” ujarnya.
Sebagai informasi, perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp57,13 triliun ditopang berbagai indikator keuangan yang solid. Total aset perseroan naik 7,2 persen secara year on year (yoy) menjadi 2.135,3 triliun dari 1.922,1 pada tahun sebelumnya.
Dari CAR di level 23,52 persen, rasio CASA meningkat signifikan sebesar 70,6 persen yang mencerminkan semakin kuatnya struktur dana murah perseroan. Sementara itu, rasio non-performing loan (NPL) yang tetap terkendali di level 3,07 persen hingga akhir 2025.





