Sudah lama merantau tapi menurut keluarganya di kampung ia belum disebut orang yang sukses dialah bernama Lamaria. Riak-riak kecil ia dengar dari kampungnya sendiri bahwa ia belum apa-apa, belum bisa dijadikan tempat tumpangan sementara rumahnya belum layak untuk ditempati oleh tamu-tamunya yang sebentar lagi mau datang ke kota ia merantau.
Kebetulan tamu yang mau datang tersebut adalah bukan tamu jauh secara kekerabatan, bahkan termasuk keluarga dekat secara silsilah kekeluargaan dalam marga batak Angkola Pedesaan di Kabupaten Padang Lawas Utara.
Seperti kebiasaan pada umumnya kalau ada hajat (keperluan) seperti wisuda, pesta, dari kampung ke kota pasti akan mencari keluarga yang tinggal di sana atau teman dan siapa saja yang ia kenal. Apalagi di masa sekarang sudah mudah sekali mencari tempat tinggal di kota tambah keluarga dekat juga berada di kota tujuan rencana ke kota pun dihiasi dengan senang hati.
Mendengar keluarga Lamaria mau ke kota ia sebenarnya senang hati akan ditumpangi dan dikunjungi langsung oleh keluarganya, perasaan hatinya sangat rindu untuk bertemu keluarganya apalagi dari kampungnya sendiri walaupun bukan orang tua kandungnya sendiri.
Baginya tamua yang mau datang itu sudah seperti keluarga yang dekat sekali memang benar ada hubungan kekeluargaan yang erat, tapi yang namanya orang tua dengan keluarga orang tua jelas masih ada jarak, namun dibalik itu Lamaria sudah menganggap tamu keluarga itu sudah tidak ada jarak lagi bahkan ia sudah berencana memperlakukan dan melayani mereka tak ubahnya seperti orang tuanya sendiri.
Niat baik hati Lamari memang sangat mulia dalam menyambut tamu, ia sudah berencana mengeluarkan simpanan tabungan keluarga kecilnya demi untuk menyenangkan hati para tamu dari kampungnya. Orang tuanya juga sudah berpesan agar di jamu dengan baik kalau keluarga kita kampung nanti sudah sampai di kota sana.
Lamaria penuh dengan keyakinan tamu yang dari kampung tadi sudah pasti singgah di rumahnya dan bermukim beberapa hari, karena kepada siapa lagi mereka pergi kalau bukan ke tempat Lamaria, karena Lamaria merupakan keluarga dekatnya.
Sejak tamu itu sampai dari kampung perjalanan sekitar tujuh jam ke kota, ia dengar keluarganya itu singgah di rumah orang lain yang juga sekampung dengan Lamaria namun masih jauh kekerabatannya, seharusnya rumah Lamaria lah paling tepat untuk tempat mereka singgah baik sebentar maupun lama.
Karena kalau keluarga dekat sudah otomatis akrab rumah Lamarian akan dianggap seperti rumah sendiri tidak akan ada segan-segan karena dianggap anak sendiri kalau orang tua yang datang akan dianggap adik sendiri kalau yang datang lebih tua dari Lamaria berbeda dengan singgah di rumah orang lain yang masih jauh hubungan keluarga dengan Lamaria walau sekampung rasa segan-segan pasti terjadi.
Sangat disayangkan Lamaria hanya bisa berkata 'tidak apa-apa' ia tersenyum di luar terisak di dalam, karena keluarganya sendiri melewati (skip) rumahnya sendiri, singgah di rumah orang lain, ia hanya mampu membaca dirinya kalau ia belum ada apa-apanya, tak bisa diandalkan, belum layak disinggahi, Lamaria mulai berkecil hati kenapa keluarga sendiri tidak mau singgah di rumahnya. Menurutnya jelas alasan utama ia dengar adalah karena rumah Lamaria masih rumah kontrakan dan kecil belum cukup untuk ukuran bertamu apalagi tamu dari kampung tentu tidak sedikit.
Lamaria sadar dan pasrah diri kepada Allah ia belum punya prestasi segudang karena rumah saja masih ngontrak, orang kampungnya sendiri belum percaya dengan dirinya boleh jadi alasan orang kampung tidak mau singgah di rumahnya karena takut merepotkan dan membebani Lamaria.
Lamaria tetap berprasangka baik mungkin itu yang terbaik tetapi terlepas dari semua itu, inilah ujian kehidupan kepada Lamaria bahwa dalam kehidupan sosial tidak selalu mulus, status sosial sangat diperhitungkan dan dilihat orang lain sampai Lamaria sadar status sosialnya belum apa-apa ia hanya bisa mengelus dada dengan berucap dalam hatinya ‘sabar’ suatu saat nanti mudah-Mudahan Allah memberikan apa yang diinginkan oleh hamba-Nya.





