Kawah Bekas Hantaman Meteor Termuda Ditemukan di China, Diameternya 1,85 Km

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

Sebuah foto satelit memperlihatkan kawah meteor yang baru terungkap di China. Struktur ini diduga sebagai kawah tumbukan termuda di Bumi dan yang terbesar dalam kelompok usianya. Menariknya, cekungan berbentuk tapal kuda tersebut juga menjadi kawah tumbukan kedua yang pernah ditemukan di negara itu.

Kawah tersebut bernama Yilan crater. Lokasinya berada di Pegunungan Lesser Xing’an (juga dieja Khingan), Provinsi Heilongjiang, sekitar 20 kilometer barat laut Kota Yilan. Diameter kawah ini mencapai sekitar 1,85 kilometer pada titik terlebarnya, dengan dinding melingkar yang menjulang hingga 150 meter dari dasar kawah.

Tim peneliti asal China baru menyadari bahwa cincin tak utuh tersebut adalah kawah tumbukan pada pertengahan 2021, sekitar tiga bulan sebelum foto satelitnya diambil. Selama ini, keberadaannya nyaris tak terdeteksi karena tertutup hutan lebat.

Warga lokal sebenarnya sudah lama mengenal struktur tersebut dan menyebutnya Quanshan, yang berarti “punggung gunung melingkar”. Nama itu menunjukkan bahwa mereka tidak mengetahui asal-usulnya yang berasal dari luar angkasa.

Kepastian soal asal-usul kawah ini muncul setelah tim peneliti menggali hingga kedalaman 440 meter di bawah dasar kawah. Mereka menemukan shocked quartz, granit yang meleleh, kaca dengan rongga akibat gelembung gas, serta fragmen kaca berbentuk tetesan air. Temuan-temuan ini merupakan bukti kuat bahwa batuan luar angkasa berukuran besar pernah menghantam lokasi tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Earth Observatory milik NASA.

Penanggalan karbon menunjukkan bahwa kawah ini terbentuk antara 46.000 hingga 53.000 tahun lalu. Artinya, kawah Yilan berpotensi menjadi yang termuda di antara sekitar 200 kawah tumbukan besar yang telah teridentifikasi di Bumi.

Sebelum penemuan ini, gelar kawah besar termuda paling luas disematkan pada Barringer Crater di Arizona, Amerika Serikat, yang diperkirakan berusia sekitar 50.000 tahun, menurut data dari Lunar and Planetary Institute.

Meski ada rentang ketidakpastian usia pada Kawah Yilan, para peneliti menilai besar kemungkinan kawah di China tersebut memang lebih muda dibanding Barringer Crater.

Tak hanya soal usia, Kawah Yilan juga memecahkan rekor lain. Dengan diameter 1,85 kilometer, ia menjadi kawah tumbukan terbesar di dunia yang berusia di bawah 100.000 tahun. Sebelumnya, rekor itu juga dipegang oleh Barringer Crater yang berdiameter sekitar 1,2 kilometer.

Dari foto satelit terlihat bahwa sepertiga bagian selatan bibir kawah telah hilang. Para peneliti belum dapat memastikan kapan dan bagaimana bagian tersebut menghilang.

Namun, sedimen yang ditemukan di dasar kawah mengindikasikan bahwa pernah ada danau yang terbentuk di dalamnya. Hal ini menguatkan dugaan bahwa struktur kawah tersebut dulunya utuh sebelum mengalami perubahan bentuk.

Kawah Yilan merupakan kawah tumbukan pertama yang ditemukan di China sejak konfirmasi Xiuyan crater di Provinsi Liaoning pada 2009. Kawah Xiuyan yang berdiameter sekitar 1,8 kilometer itu diperkirakan berusia antara 330.000 hingga 1,1 juta tahun.

Melihat luas wilayah China yang hampir setara dengan Amerika Serikat, selama ini para ilmuwan bertanya-tanya mengapa tidak lebih banyak kawah tumbukan ditemukan di negara tersebut. Namun setelah penemuan Kawah Yilan, sejumlah struktur lain mulai teridentifikasi.

Pada September 2023, ilmuwan menemukan kawah ketiga di China dengan ukuran yang hampir sama dengan Kawah Yilan. Kawah itu terletak di puncak gunung dekat perbatasan Korea Utara dan diperkirakan berusia setidaknya 150 juta tahun.

Kemudian pada Oktober 2025, para peneliti mengonfirmasi struktur tumbukan keempat yang dijuluki Jinlin crater, berada di gunung dekat Zhaoqing, Provinsi Guangdong. Diameter kawah ini sekitar 900 meter dan diduga bisa jadi berasal dari zaman Holosen, epok geologi yang dimulai sekitar 11.700 tahun lalu, meski usianya masih belum dapat dipastikan.

Penemuan Kawah Yilan bukan hanya memperkaya daftar kawah tumbukan dunia, tetapi juga membuka babak baru penelitian geologi di China. Struktur yang sempat tersembunyi di balik hutan lebat itu kini menjadi kunci untuk memahami sejarah tumbukan benda langit dan dampaknya terhadap Bumi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menilik Tiga Pilar Utama Bisnis Astra (ASII), Sumbang 90 Persen Laba Bersih
• 7 menit laluidxchannel.com
thumb
Korps Marinir Siapkan Fasilitas dan Kurikulum Khusus Latih ASN Jadi Komcad
• 7 jam lalupantau.com
thumb
Viral Trotoar Tebet Barat Berubah Jadi Pangkalan Truk Tinja, Terjadi Pembiaran Parkir Liar?
• 21 jam lalusuara.com
thumb
G-Dragon Ambil Langkah Hukum Terhadap 100 Komentator Jahat
• 47 menit lalukumparan.com
thumb
Ini Hasil Autopsi Penyebab Kematian Ibu dan Anak di Jombang
• 8 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.