REMBANG, KOMPAS.TV – Fenomena tanah bergerak di Dusun Gobok, Desa Gunungsari, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah masih terjadi. Pemerintah kabupaten setempat melakukan pemantauan intensif.
Seorang warga terdamak tanah bergerak, Chorik, menjelaskan, fenomena tanah ambles tersebut terjadi mulai 18 Januari 2026 dan berlangsung bertahap.
Namun kejadian itu semakin parah setelah hujan deras pada 23 Februari 2026.
"Amblesnya setiap hari, setiap lima menit ada gerakan-gerakan,” ucapnya, Kamis (26/2/2026), seperti dikutip Antara.
Baca Juga: Harga Telur Naik di Rembang hingga Bandung, Lampaui Harga Acuan Penjualan Pemerintah | KOMPAS SIANG
“Rumah ayah saya yang bagian belakang sudah turun. Kamar mandi sekarang posisinya di bawah, padahal sebelumnya sejajar dengan rumah," tambahnya.
Berkaitand dengan fenomena tanah bergerak tersebut, Pemerintah Kabupaten Rembang melakukan penanganan dan pemantauan secara intensif.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang Muhammad Luthfi Hakim, menyebut ada empat rumah warga yang terdampak.
"Data sementara, akibat fenomena tersebut empat rumah warga dan satu kandang ternak terdampak dan mengalami kerusakan bervariasi. Namun, tidak ada yang mengungsi," kata dia, Kamis.
Ia menduga fenomena tanah ambles yang beruang pada Februari 2026 dipicu oleh tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir, yang menyebabkan struktur tanah menjadi gembur dan tidak stabil.
Penulis : Kurniawan Eka Mulyana Editor : Gading-Persada
Sumber : Antara
- tanah bergerak
- rembang
- dampak tanah bergerak
- bpbd rembang
- bencana alam





