Jakarta, ERANASIONAL.COM – Penyanyi dan musikus kenamaan Indonesia, Isyana Sarasvati, menyampaikan klarifikasi terbuka setelah namanya ramai disebut sebagai salah satu alumni penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Informasi tersebut beredar luas di media sosial dan sejumlah pemberitaan, hingga akhirnya mendorong Isyana untuk memberikan penegasan secara langsung kepada publik.
Melalui unggahan di Instagram Story pada Rabu (25/2), Isyana meluruskan kabar tersebut dan menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menerima beasiswa LPDP selama menempuh pendidikan di luar negeri.
Ia menyampaikan klarifikasi itu dengan nada tenang namun tegas, sekaligus berharap tidak ada lagi kesalahpahaman yang berkembang di ruang publik.
Isyana menyatakan bahwa informasi yang menyebut dirinya sebagai penerima beasiswa LPDP adalah tidak tepat. Ia merasa perlu menyampaikan penjelasan agar tidak terjadi kekeliruan persepsi, baik terhadap dirinya maupun terhadap lembaga pemberi beasiswa tersebut.
Menurutnya, akurasi informasi merupakan hal mendasar yang harus dijaga, terlebih jika menyangkut institusi resmi dan rekam jejak pendidikan seseorang.
LPDP sendiri merupakan lembaga di bawah Kementerian Keuangan yang bertugas mengelola dana pendidikan untuk mendukung mahasiswa Indonesia melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, baik di dalam maupun luar negeri. Program beasiswa LPDP dikenal luas dan memiliki proses seleksi ketat. Karena reputasi tersebut, tidak sedikit masyarakat yang bangga jika ada figur publik yang dikaitkan dengan program ini.
Namun dalam kasus Isyana, ia menegaskan bahwa capaian akademiknya diperoleh tanpa dukungan dana dari LPDP. Ia berharap media dan warganet dapat lebih berhati-hati dalam membagikan informasi, terutama yang berkaitan dengan riwayat pendidikan dan pendanaan studi. Baginya, klarifikasi ini penting agar tidak menimbulkan kesan yang keliru di kemudian hari.
Sebagai musikus dengan latar belakang pendidikan klasik yang kuat, Isyana memang dikenal memiliki rekam jejak akademik yang mengesankan. Ia pernah menempuh studi Music Performance di Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA), Singapura. Institusi tersebut memiliki kerja sama program Bachelor of Music dengan Royal College of Music (RCM) di London, Inggris, salah satu konservatori musik bergengsi di dunia.
Dalam program tersebut, Isyana berhasil meraih gelar Bachelor of Music (B.Mus) dan lulus dengan predikat terbaik. Prestasi akademik itu kerap menjadi inspirasi bagi generasi muda yang ingin menekuni bidang musik secara profesional. Latar belakang pendidikan klasiknya juga tercermin dalam karya-karya yang memadukan unsur pop, opera, dan progresif dengan karakter vokal yang khas.
Sejumlah warganet merespons klarifikasi Isyana dengan dukungan positif. Banyak yang mengapresiasi sikap terbukanya dan menilai bahwa penjelasan tersebut sekaligus menunjukkan integritasnya sebagai publik figur. Tidak sedikit pula yang mengingatkan pentingnya literasi digital agar masyarakat lebih kritis dalam menerima dan menyebarkan informasi.
Di sisi lain, LPDP sebagai institusi pemerintah juga memiliki mekanisme publikasi resmi terkait daftar penerima beasiswa. Transparansi tersebut sebenarnya dapat menjadi rujukan utama untuk memeriksa kebenaran klaim yang beredar. Dalam konteks ini, kolaborasi antara media, masyarakat, dan lembaga resmi menjadi penting untuk menjaga ekosistem informasi yang sehat.
Isyana dalam pernyataannya turut menyampaikan harapan agar ke depan media lebih bijak dan cermat sebelum mempublikasikan kabar yang menyangkut data personal. Ia menekankan pentingnya memastikan kebenaran informasi demi menghindari kesalahpahaman yang tidak perlu. Sikap tersebut mencerminkan kepedulian terhadap akurasi, bukan hanya demi reputasi pribadi, tetapi juga demi menjaga kredibilitas pemberitaan.
Sebagai salah satu musikus perempuan berpengaruh di Indonesia, perjalanan karier Isyana memang kerap menjadi sorotan. Mulai dari kiprah internasional, eksplorasi genre musik yang beragam, hingga latar belakang akademiknya yang kuat, semuanya menjadi bagian dari narasi publik tentang dirinya. Karena itu, tidak mengherankan jika informasi sekecil apa pun terkait riwayat pendidikannya mudah menarik perhatian.
Klarifikasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus informasi digital, ketelitian tetap menjadi fondasi utama. Bagi Isyana, meluruskan kabar yang kurang tepat adalah langkah untuk menjaga transparansi dan integritas. Sementara bagi publik, peristiwa ini menjadi momentum untuk semakin kritis dalam menyaring informasi yang beredar di ruang maya.





