JAKARTA, KOMPAS.com - Di sudut kawasan Puri Kartika, Ciledug, Kota Tangerang, seorang anak perempuan duduk bersila dengan setumpuk kertas di pangkuannya.
Krayon-krayon yang ia genggam tak lagi utuh. Sebagian sudah patah, sebagian lagi tinggal serpihan warna.
Namun dari patahan itulah, mimpi Agista Saputri (10) perlahan hidup.
Dalam lima menit, satu gambar selesai. Rumah dengan atap merah, gunung dengan matahari senja, pantai dengan garis ombak yang tenang.
Baca juga: Anak Pemulung di Tangerang Tak Bisa Sekolah karena Orangtua Tidak Punya KTP dan KK
Lalu lembaran itu ia tawarkan kepada orang-orang yang melintas.
“Ada yang Rp5.000, ada yang Rp10.000,” ujar Agista saat ditemui Kompas.com di kediamannya di Jalan Raden Fatah, Ciledug, Kota Tangerang, Kamis (26/2/2026).
Untuk kertas HVS ukuran A4, ia mematok Rp 5.000. Ukuran A3 dihargai Rp 10.000. Dalam sehari, tiga sampai empat gambar bisa terjual.
"Uangnya buat beli beras," kata dia sambil menunjukkan hasil gambarnya.
Nominal itu mungkin kecil bagi sebagian orang. Tetapi bagi Agista, satu lembar gambar berarti kebutuhan dapur yang terpenuhi.
Ia datang sendiri ke lokasi jualannya, pagi sekitar pukul 09.00–11.00 WIB atau sore pukul 15.00 hingga menjelang magrib. Tumpukan kertas ia bawa dengan kedua tangan kecilnya.
“Ide aku sendiri jualan di Puri Kartika,” kata dia.
Baca juga: Lukisan Kecil, Harapan Besar: Perjalanan Agista, Anak Pemulung yang Ingin Sekolah
Tak hanya menjual gambar yang sudah jadi, ia juga menerima pesanan dari pembeli.
“Bisa request,” imbuh dia.
Belajar berani
Bagi Agista, menggambar bukan semata untuk membantu orangtua.