Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, buka suara terkait kelanjutan pengembangan Blok Tuna oleh Zarubezhneft. Saat ini, BUMN migas Rusia tersebut menjadi operator Blok Tuna usai Harbour Energy, perusahaan asal Inggris, memutuskan hengkang.
"Eksplorasi minyak dan gas di Natuna Utara masih berlanjut. Dan dari pihak Rusia, ada perusahaan bernama Zarubezhneft, yang merupakan salah satu pemangku kepentingan dalam proyek ini. Mereka masih ingin melanjutkan kerja sama," ungkap Sergei saat media briefing, dikutip Jumat (27/2).
Harbour Energy melalui Premier Oil Tuna BV, hengkang dari Blok Tuna setelah sempat menjadi operator dan bermitra dengan Zarubezhneft, lewat anak usahanya di Asia, ZN Asia Ltd (ZAL). Masing-masing memiliki 50 persen hak partisipasi atau participation interest (PI).
Namun, perkembangan blok tersebut terdampak sanksi Uni Eropa dan Inggris selama eskalasi konflik Rusia dan Ukraina. Operator Blok Tuna kini dipegang oleh ZN.
"Sebelumnya ini adalah proyek bersama antara Rusia dan perusahaan dari Inggris Raya. Dalam situasi dunia saat ini, Inggris Raya tidak dapat bekerja sama dengan negara saya. Mereka memutuskan untuk menarik diri dari proyek ini," jelas Sergei.
Sergei memastikan sudah ada perusahaan dari Indonesia yang akan bermitra dengan ZN. Dia juga menyebut rencana pengembangan Blok Tuna dengan mitra baru tersebut akan dilanjutkan pada tahun ini.
"Sekarang akan ada satu perusahaan Indonesia. Jadi saya percaya tahun ini Zarubezhneft dan mitra Indonesia akan memulai kembali diskusi tentang bagaimana proyek ini akan dilaksanakan," tandasnya.
Sebelumnya, Harbour Energy telah menandatangani Perjanjian Jual Beli untuk menjual kepemilikan operasionalnya di Natuna Sea Block A dan Blok Tuna kepada Prime Group senilai USD 215 juta. Penyelesaian penjualan ini ditargetkan rampung pada kuartal II tahun 2026.
"Transaksi ini menandai tonggak penting bagi Harbour di Indonesia dan mendukung strategi kami untuk memfokuskan modal dan sumber daya pada peluang kami yang paling kompetitif dan signifikan," kata Managing Director Unit Bisnis Indonesia Harbour Energy, Steve Cox, dalam keterangannya.
Penjualan hak partisipasi Natuna Sea Block A efektif per 1 Januari 2025, sementara penjualan Blok Tuna akan efektif setelah penyelesaian. Setelah transaksi selesai, Harbour tetap melanjutkan kepemilikannya atas cadangan minyak dan gas di Laut Andaman.
Harbour Energy memiliki 28,67 persen kepemilikan operasional di Natuna Sea Block A yang menghasilkan sekitar 4.000 barel setara minyak per hari (boepd) dalam periode 9 bulan hingga 30 September 2025. Pada akhir tahun 2024, Harbour mencatat cadangan 2P sebesar 7,4 juta barel setara minyak (mmboe).
Sementara untuk Blok Tuna, Harbour memiliki 50 persen kepemilikan saham. Pada akhir tahun 2024, Harbour mencatat sumber daya 2C sebesar 54 mmboe pada proyek tersebut.
Adapun Prime Group merupakan perusahaan Indonesia yang memiliki bisnis hulu dan hilir minyak dan gas, termasuk kepemilikan saham sebesar 25 persen di lapangan produksi Natuna Sea Block B melalui anak usahanya Prime Natuna Energy Pte. Ltd.
Perusahaan tersebut sepenuhnya dimiliki Tony Antonius, taipan di sektor minyak dan gas terintegrasi dengan operasi di bidang pengembangan, produksi, dan penyulingan sumber daya minyak dan gas di Indonesia.
Beberapa aset yang dikelolanya mencakup fasilitas LNG Belanak, Belanak LPG-Concord, Belanak Wellhead Platform (WHP), Belanak WHP-B, dan North Belut Central Processing Plant (CPP).





