Bahagia Karena Tidak Banyak Menuntut

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Sejak lama kita sering mendengar orang berkata: Pernikahan yang tidak bahagia ada banyak jenisnya, tetapi pernikahan yang bahagia hanya satu jenis.

Jenis yang mana?

Apakah yang aktif seperti “saling menghormati dan mencintai”?  Ataukah yang pasif seperti “saling menoleransi”?

Ungkapan-ungkapan itu terdengar baik, tetapi rasanya belum cukup kuat untuk menjelaskan alasan sebenarnya mengapa sebuah pernikahan bisa bahagia.

Baru-baru ini, seorang sahabat wanita saya memberikan sudut pandang yang lebih meyakinkan.

Dia seorang wanita cantik, belum genap tiga puluh tahun, sukses dalam kariernya, dan telah menjadi manajer senior di sebuah perusahaan hubungan masyarakat. Yang lebih mengejutkan, dia sudah menikah hampir tujuh tahun, namun tetap ceria seperti sinar matahari. Dia tidak pernah bersikap dibuat-buat, dan kehadirannya selalu membuat orang merasa nyaman.

Suatu hari, sekelompok wanita bertanya kepadanya : “Menurutmu, apa rahasia pernikahan yang bahagia?”

Dia menjawab dengan lugas: “Aku berbeda dengan kalian. Aku tidak menuntut banyak dalam pernikahan. Pria yang kupilih pun tidak banyak menuntut dariku. Karena itu sampai hari ini aku masih bisa berkata, menikah itu indah.”

Perkataannya membuat saya tersadar.

Bukankah alasan pernikahan bahagia memang karena tidak banyak menuntut?

Dulu, pasangan suami istri lebih mudah hidup bersama hingga tua. Tentu ada pengaruh budaya yang lebih sederhana, tetapi yang lebih penting adalah: tuntutan mereka tidak tinggi.

Bagi wanita zaman dahulu, menikah seperti undian. Jika mendapat suami yang cukup bertanggung jawab, sudah patut bersyukur. 

“Kalau sudah bertemu, ya dijalani saja,” begitu kata nenek saya ketika menggambarkan pernikahannya.

Wanita generasi itu tidak banyak menuntut. Asal suami tidak berjudi, tidak berzina, dan membawa uang untuk keluarga, itu sudah dianggap pria baik.

Pria zaman itu pun tidak terlalu menuntut. Asal istrinya sopan, bisa memasak, dan mengurus anak, itu sudah cukup. (Meski harus diakui, secara umum pria dulu memang lebih banyak menuntut daripada perempuan.)

Kini zaman berubah.

Wanita memiliki pendidikan dan kemandirian ekonomi yang jauh lebih tinggi. Bagaimana mungkin mereka tidak menuntut?

Tidak ada lagi wanita yang menganggap “tidak berjudi dan memberi nafkah” sudah cukup.

Tuntutan kini meluas: tinggi badan, penampilan, pekerjaan, selera, karakter, wawasan seni, latar belakang keluarga, kondisi ekonomi, cara memandang uang, merek mobil yang dikendarai, bahkan apakah ia mau mencuci piring atau tidak.

Memang benar, kebahagiaan datang dari “tidak banyak menuntut”. Namun bukan berarti wanita modern harus mundur dan sembarangan memilih pasangan.

Wanita telah berkembang bersama zaman. Meski bercanda mengatakan: “Asal laki-laki saja sudah cukup,” pada kenyataannya kita semua sudah memiliki daftar kriteria di dalam pikiran.

Seseorang yang layak dicintai tentu tidak mungkin terlalu jauh dari standar kita. Tetapi setelah kita mencintainya, mungkinkah kita berhenti menuntut terlalu banyak dan memberi ruang bagi cinta untuk bernapas?

Dalam sudut pandang inilah, kalimat “pernikahan bahagia karena tidak banyak menuntut” menjadi bermakna. Dan “tidak banyak menuntut” itu harus berlaku bagi kedua belah pihak.

Sahabat saya menggambarkan pernikahannya demikian:

“Dia tidak pernah memaksaku mengerjakan pekerjaan rumah, tidak menuntut aku punya anak kecuali aku siap. Tapi aku juga tidak menuntut dia menjadi pria yang menarik, lucu, atau sangat romantis. Dia pria baik dan jujur, meski kadang membosankan. Itu fakta yang harus diterima.”

Seekor kuda bisa berlari, tetapi kita tidak bisa menuntutnya sekaligus berenang dan terbang.

Kita tidak bisa meminta anjing bersikap setenang kucing. Kita tidak bisa meminta kucing menjaga rumah seperti anjing.

Setiap makhluk memiliki sifatnya sendiri. Demikian pula setiap manusia.

Mengapa kita sering menuntut pasangan menjadi segala hal sekaligus?

Orang yang terus-menerus dituntut akan merasa tertekan. Dia menderita, dan kita pun ikut tidak bahagia. Tuntutan berlebihan bisa memicu perlawanan dan menciptakan ketegangan dalam hubungan.

Sebelum memasuki hubungan yang serius, kita memang boleh memilih dan memilah. (Tentu sambil sesekali bercermin, karena orang lain pun menilai kita.)

Namun setelah memilih dan berkomitmen, lebih baik menurunkan tuntutan. Dengan begitu hidup bersama menjadi lebih ringan.

Karena semakin kita menuntut kebahagiaan, sering kali kebahagiaan justru menjauh.

Kebahagiaan itu berharga justru karena ia tidak bisa dipanggil sesuka hati. Dalam istilah Zen: kebahagiaan tidak bisa diminta secara terang-terangan; semakin kita memaksanya, semakin kita keliru.

Jika ingin pasangan berubah, pujian yang tulus sering jauh lebih efektif daripada tuntutan dan kritik.

Renungan

Satu prinsip bisa berlaku untuk banyak hal.

Jika dalam pernikahan kebahagiaan datang dari tidak banyak menuntut, maka dalam hidup pun kebahagiaan lahir dari tidak terlalu serakah.

Semakin rendah tuntutan, semakin sedikit gesekan. Semakin sedikit gesekan, semakin banyak kegembiraan.

Dan ketika hidup penuh kegembiraan, apa lagi yang perlu dikeluhkan? (jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Heboh! Potongan Tubuh Manusia Ditemukan di Pantai Ketewel Bali
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
Toyota Fortuner Bakal Dapat Generasi Baru, Begini Kira-kira Wujudnya?
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Kapolri: Polri dan Masyarakat Sipil Anak Kandung Reformasi!
• 3 jam laluokezone.com
thumb
Di tengah Tekanan IHSG, Sanggupkah Dana BPJS Jadi Benteng Bursa RI?
• 8 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Kronologi Penangkapan Bandar Narkoba Ko Erwin yang Coba Kabur ke Malaysia
• 1 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.