Kim Ju Ae dalam Narasi Suksesi Kekuasaan Korea Utara

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Kemunculan Kim Ju Ae di ruang publik Korea Utara tidak dapat dibaca sebagai peristiwa keluarga biasa. Ia adalah bagian dari konstruksi narasi politik yang terencana, simbolik, dan strategis. Kehadirannya bukan sekadar representasi hubungan ayah–anak, melainkan pesan kekuasaan yang dikemas dalam bahasa visual. Dalam sistem politik tertutup seperti Korea Utara, pesan simbolik bisa jauh lebih penting daripada pernyataan resmi negara. Politik tidak selalu bekerja melalui pidato, tetapi melalui citra, ritual, dan representasi publik.

Sejak debut publiknya dalam uji coba rudal balistik tahun 2022, Kim Ju Ae langsung ditempatkan dalam ruang simbolik yang tidak netral. Ia tidak muncul dalam ruang domestik, sekolah, atau aktivitas sosial, melainkan di jantung simbol kekuasaan negara: proyek militer strategis. Ini menunjukkan bahwa kehadirannya sejak awal sudah diarahkan bukan sebagai figur keluarga, tetapi sebagai bagian dari narasi negara. Media pemerintah mulai membangun bahasa simbolik dengan menyematkan istilah “respected” padanya—sebuah sebutan yang secara tradisional hanya diberikan kepada elite tertinggi rezim. Bahasa ini bukan sekadar propaganda, tetapi fondasi legitimasi simbolik awal.

Dalam komunikasi politik, simbol lebih kuat daripada struktur formal. Kekuasaan tidak hanya dibangun melalui konstitusi atau institusi, tetapi melalui persepsi publik. Di titik inilah Kim Ju Ae masuk ke dalam konstruksi narasi suksesi. Negara tidak pernah secara terbuka menyatakan proses pewarisan kekuasaan, tetapi membangun cerita visual tentang masa depan. Politik bekerja dengan sugesti, bukan deklarasi.

Rachel Minyoung Lee dari Open Nuclear Network menafsirkan kehadiran Kim Ju Ae sebagai bagian dari strategi citra “father of the nation” sekaligus simbol generasi masa depan. Analisis tersebut dimuat dalam laporan Open Nuclear Network tahun 2023. Visual seorang anak kecil berdiri di depan misil nuklir membentuk pesan politik yang sangat kuat: kekuasaan hari ini disajikan sebagai jaminan masa depan. Negara sedang membangun kesinambungan simbolik antara kekuatan militer dan keberlanjutan dinasti.

Narasi ini tidak berdiri sendiri. Ia bekerja dalam kerangka politik dinasti yang telah lama menjadi karakter utama sistem Korea Utara. Kekuasaan diwariskan bukan hanya melalui garis darah, tetapi melalui ritual publik. Go Myong-hyun dari Asan Institute for Policy Studies menyebut sistem Korea Utara sebagai “monarki bergaya modern”. Istilah ini menjelaskan kontradiksi mendasar: negara yang mengeklaim ideologi sosialis, tetapi menjalankan praktik politik yang menyerupai kerajaan turun-temurun. Dalam kerangka ini, Kim Ju Ae bukan hanya anak pemimpin, tetapi simbol calon kesinambungan kekuasaan.

Narasi suksesi tidak dibangun melalui pengumuman formal, melainkan melalui pembiasaan visual. Publik internasional, media, dan analis mulai melihat pola: kemunculan berulang, posisi berdiri sejajar, framing kamera, hingga bahasa media negara. Semua elemen itu membentuk satu pesan: kekuasaan sedang disiapkan untuk masa depan.

Yang menarik, narasi ini juga bersinggungan dengan isu gender global. Korea Utara dikenal sebagai negara maskulin, militeristik, dan hierarkis, dengan figur laki-laki sebagai pusat simbol kekuasaan. Namun, kehadiran simbol perempuan muda di pusat panggung politik membuka tafsir baru. Dalam konteks global, representasi perempuan dalam politik sering diasosiasikan dengan emansipasi dan kesetaraan. Namun, dalam kasus Kim Ju Ae, simbol perempuan justru hadir dalam kerangka dinasti dan otoritarianisme.

Ini menunjukkan bahwa representasi gender tidak selalu identik dengan pembebasan. Tubuh perempuan bisa menjadi alat legitimasi kekuasaan, bukan alat transformasi sosial. Simbol perempuan muda dalam narasi suksesi Korea Utara tidak merepresentasikan kesetaraan politik, melainkan kesinambungan dinasti. Di sinilah politik simbolik bekerja: ia menciptakan ilusi progresivitas tanpa perubahan struktural.

Dalam teori komunikasi politik, simbol selalu bersifat politis. Murray Edelman dalam Constructing the Political Spectacle menjelaskan bahwa politik modern hidup dari produksi makna simbolik. Publik tidak hanya merespons kebijakan, tetapi merespons citra. Kim Ju Ae, dalam konteks ini, bukan aktor politik, tetapi objek produksi makna. Ia adalah “teks politik” yang dibaca publik global.

Laporan Badan Intelijen Nasional Korea Selatan yang dikutip oleh Yonhap berjudul “NIS: Kim Ju Ae Entered Stage of Successor Designation” (12 Februari 2026) memperkuat konstruksi tersebut. Informasi intelijen ini tidak menciptakan narasi baru, tetapi menguatkan narasi simbolik yang sudah terbentuk. Data dan simbol saling memperkuat, membentuk persepsi global tentang arah suksesi kekuasaan Korea Utara.

Secara visual, Kim Ju Ae juga selalu ditampilkan dengan gaya yang kontras dengan realitas sosial rakyat Korea Utara. Busana mahal, rambut terawat, dan posisi simbolik sejajar dengan pemimpin negara menunjukkan politik diferensiasi simbolik. Ia bukan simbol kedekatan dengan rakyat, tetapi simbol elitisme. Dalam sosiologi politik, ini berfungsi untuk menegaskan hierarki sosial dan jarak kekuasaan.

Fenomena ini sejalan dengan gagasan Benedict Anderson dalam Imagined Communities, bahwa negara membangun imajinasi kolektif melalui simbol dan ritual. Kim Ju Ae menjadi bagian dari imajinasi masa depan Korea Utara: masa depan yang stabil, terkontrol, dan diwariskan. Publik tidak diajak membayangkan partisipasi politik, tetapi kontinuitas kekuasaan.

Dalam konteks global, narasi ini juga terkait dengan politik generasi. Dunia sedang mengalami pergeseran kepemimpinan muda yang lahir dari demokrasi, aktivisme, dan partisipasi publik. Namun, di Korea Utara, generasi muda lahir dari dinasti. Kim Ju Ae menjadi simbol generasi tanpa transisi politik, muda tanpa demokrasi, dan masa depan tanpa perubahan sistemik.

Kehadirannya dalam berbagai forum dan acara internasional memperluas makna simboliknya. Ia tidak lagi hanya simbol domestik, tetapi pesan geopolitik. Dunia membaca bahwa Korea Utara sedang membangun transisi jangka panjang yang dikemas sebagai stabilitas. Politik dinasti disajikan sebagai keamanan regional.

Dalam perspektif komunikasi politik, Kim Ju Ae adalah “narasi berjalan”. Setiap kemunculan publik adalah teks. Setiap posisi berdiri adalah pesan. Setiap foto adalah konstruksi makna. Negara berbicara melalui tubuh seorang anak, membangun cerita tentang masa depan tanpa harus mengucapkannya.

Kim Ju Ae bukan sekadar individu, tetapi simbol dari narasi suksesi kekuasaan Korea Utara. Ia adalah titik temu antara politik dinasti, simbolisme gender, dan strategi geopolitik. Ia menghadirkan wajah muda dari kekuasaan lama. Modern dalam tampilan, tetapi feodal dalam struktur. Global dalam citra, tetapi tertutup dalam sistem.

Di situlah narasi suksesi Korea Utara menemukan bentuknya yang paling efektif: tidak diumumkan, tetapi ditampilkan; tidak diproklamasikan, tetapi divisualkan; tidak ditegaskan melalui hukum, tetapi melalui simbol. Politik tidak lagi berbicara lewat pidato, melainkan lewat tubuh, citra, dan narasi visual. Kim Ju Ae menjadi wajah dari masa depan yang dirancang, bukan dipilih. Sebuah masa depan yang lahir bukan dari partisipasi publik, tetapi dari kalkulasi kekuasaan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ofisial Malut United Di-banned 3 Bulan Imbas Protes Laga Lawan Persib
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
DPR RI Tegaskan Pasal Penghasilan dan Tunjangan Dosen Tidak Bertentangan dengan UUD 1945 di Sidang MK
• 14 menit lalupantau.com
thumb
Anggota DPRD DKI Heran Pemprov Impor Sapi dari Australia, Bukan Stok Dalam Negeri
• 1 jam lalukompas.com
thumb
Ko Erwin Bandar Narkoba Pemasok Sabu ke Eks Kapolres Bima Kota Ditangkap!
• 6 jam lalurctiplus.com
thumb
Presiden Prabowo dan Sheikh Mohammed Perkuat Kemitraan Strategis di Abu Dhabi
• 13 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.