Dari Dipikul Hingga Dikayuh, Separuh Abad Hidup Suhanda di Jalanan Jakarta

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Pagi ini hujan turun tipis di sekitar kawasan Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Jalanan basah, udara dingin, dan lalu lintas belum sepenuhnya padat.

Di antara kendaraan yang lalu-lalang pelan, seorang lelaki tua perlahan mengayuh sepeda tuanya. Di bagian depan, ada gerobak berisi kerupuk ikut bergoyang mengikuti jalan.

Kepalanya tertutup topi, dilapisi plastik agar tak langsung diguyur hujan. Plastik lain menutupi sebagian dagangannya.

Namanya Suhanda, penjual kerupuk keliling yang sudah puluhan tahun menyusuri Jakarta. Usianya kini sudah 73 tahun.

“Kalau, kalau jualan start jualan sih jam enam, bagaimana keluarnya aja. Sehabis sembahyang subuh, nah keluar, jalan,” katanya saat ditemui kumparan di sekitar Jalan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (27/2).

Hidupnya sudah lama di jalanan kota. Katanya, ia mulai berjualan sejak awal 1970-an, masa ketika Indonesia masih dipimpin Presiden Soeharto.

Sudah 55 tahun lamanya ia menekuni usahanya itu.

“Tahun tujuh satu-an lah. Dari Pak Harto masih menjabat, belum jadi presiden belum. Pokoknya bubar G30S PKI aja udah di sini," ujarnya.

Sejak itu, kota menjadi ruang hidupnya. Dari Menteng Atas ia berangkat, lalu berputar ke berbagai penjuru. Pasar Baru, Angke, Manggarai sampai Jembatan Dua.

“Saya dari Menteng Atas, ke bagian ini, sekarang bagian ke dulu apa tuh, Pasar Baru, nah terus besoknya lagi Angke, terus besoknya lagi dari Manggarai juga sampai Jembatan Dua,” katanya.

Hari demi hari ia jalani dengan ritme yang sama. Berangkat selepas subuh, berkeliling, menawarkan kerupuk ke warung-warung kecil.

Namun, Ramadan kali ini membuat segalanya berbeda. Jalanan lebih sepi, tenaganya cepat terkuras.

“Ngaruh juga sih. Soalnya banyak yang tutup, banyak (warung) yang siang bukanya. Kalau sore-sore dikejar lagi nggak keuber, keburu lemas gitu,” ungkapnya.

Biasanya ia membawa ribuan bungkus kerupuk. Saat bulan puasa, jumlah itu berkurang hampir separuh.

“Kalau tiap harinya biasa 2.000-an. Bulan puasa cuman paling 1.000, 1.000 juga susah lah,” ucapnya.

Kerupuk yang ia jual bukan hasil buatannya sendiri. Ia mengambil dari pemasok, lalu menjualnya kembali ke warung dengan selisih tipis.

“Ambil. Ada bosnya, ada bos, sedang bos dia ambil ada, bikin,” katanya.

Meski keuntungannya tak besar, ia tetap bertahan. Baginya, bekerja bukan sekadar uang, tapi juga harga diri.

Istrinya telah meninggal setahun lalu. Anak-anaknya sudah bekerja dan sempat memintanya berhenti berjualan. Tapi ia belum siap untuk diam di rumah.

“Ya itu anak-anak juga sudah berhenti, ‘udah Pak berhenti’, cuma nggak enak. Minta dari anak waduh, ah gitu kasihan juga anak-anak juga punya beban lebih banyak. Saya masih kuat,” ungkapnya tegas.

Ia masih ingin berdiri di atas kakinya sendiri.

“Masih kuat berusaha. Kalau nggak kuat ya gimana lagi,” katanya santai.

Di Jakarta ia tak benar-benar punya rumah tetap. Kadang tinggal di mess dekat pabrik kerupuk di Manggarai, kadangkala pulang ke Tangerang. Kampung halamannya jauh di Ciamis, sementara sebagian keluarganya berada tersebar di Jakarta dan Purwakarta.

Hujan pagi itu belum juga berhenti. Air menetes dari plastik di kepalanya, lalu jatuh ke gerobak yang sudah menemaninya bertahun-tahun.

Dulu, katanya, ia tak memakai sepeda. Kerupuk dipikul di bahu, berjalan kaki menembus jalan tanah dan genangan.

“Enggak, dulu dipikul,” ungkapnya.

Kini, meski sepeda membuat perjalanan sedikit lebih ringan, usia tetap tak bisa dibohongi. Saat lelah, ia harus berhenti sejenak.

“Kadang-kadang nyender dulu tidur dulu gitu. Kalau udah pada berasa lemas nyender dulu tidur dulu baru bangun lagi berangkat,” katanya sambil tersenyum.

Pagi itu, setelah berbincang sebentar, ia kembali bersiap melanjutkan perjalanan. Tujuannya pagi itu, Jalan Karang Anyar. Tangannya menggenggam stang sepeda, kakinya mulai menekan pedal.

Di tengah hujan yang masih jatuh tipis, sepeda itu bergerak menjauh. Gerobak kerupuknya berderit pelan, menandai jejak puluhan tahun menemani Suhanda di jalanan kota.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
EVOS dan Pop Mie tandai sewindu kemitraan dengan turnamen komunitas
• 16 jam laluantaranews.com
thumb
Diduga Jadi Tempat Mesum Sesama Jenis di Bulan Puasa, Pemkot Jaktim Pasang Lampu Tembak di Taman Kota Cawang
• 35 menit lalutvonenews.com
thumb
Daftar Pevoli Asia yang Jadi Incaran Klub Liga Voli Korea: Megawati Hangestri Jadi Rebutan
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Berita Foto : Tiga Eks Pejabat PT Pertamina Patra Niaga Divonis 9–10 Tahun Penjara dalam Kasus Tata Kelola Minyak Mentah
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Mensos Sebut 869 Ribu Peserta PBI JKN Kembali Aktif
• 18 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.