Pendampingan Agronomi Bantu Petani Sawit Rakyat Lebih Mandiri

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Keterbatasan akses informasi dan minimnya pendampingan teknis masih menjadi tantangan bagi banyak petani sawit rakyat dalam mengelola kebun secara optimal. Kondisi ini membuat sebagian petani rentan melakukan kesalahan budidaya yang berdampak pada produktivitas jangka panjang.

Salah satu pengalaman itu dialami Bejo, petani di Desa Suak Putat, Muaro Jambi. Ia masih mengingat keputusan membeli bibit sawit dengan harga jauh lebih murah dari pasaran karena tergiur janji panen cepat dan hasil berlipat. Namun bertahun-tahun kemudian, yang tumbuh di kebunnya bukanlah harapan, melainkan kekecewaan.

“Pertama kali beli bibit itu yang abal-abal, jadi kini hasilnya sangat mengecewakan sekali,” kata Bejo yang menjadi salah petani rakyat binaan dalam program PERKASA (Petani Berkualitas dan Sejahtera) PT Triputro Agro, dikutip Jumat (27/2).

Cerita Bejo bukan kasus tunggal. Di banyak kebun sawit rakyat, keterbatasan informasi membuat petani rentan tertipu bibit tidak jelas asal-usulnya maupun menerapkan praktik budidaya yang kurang tepat. Padahal, kesalahan sejak awal dapat berdampak pada rendahnya produksi kebun dalam jangka panjang.

Tantangan serupa dialami Sumarni Ningsih, petani di Desa Long Tesak, Kutai Timur. Ia mengaku bertahun-tahun berkebun sawit hanya mengikuti kebiasaan turun-temurun tanpa benar-benar memahami dasar budidaya yang tepat.

“Saya dulu hanya ikut cara orang-orang sebelumnya. Tidak tahu apakah itu sudah benar atau belum,” ujarnya.

Pendampingan Jadi Titik Perubahan

Perubahan mulai dirasakan setelah para petani mengikuti pelatihan sekaligus pendampingan agronomi melalui program PERKASA. Selama tiga hari pelatihan, sekitar 60 persen sesi diisi praktik lapangan, mulai dari mengidentifikasi bibit bersertifikat, teknik pemupukan yang benar, hingga cara panen yang tepat.

Bagi sebagian peserta, ini menjadi pengalaman pertama memahami bahwa produktivitas sawit sangat ditentukan oleh ketepatan langkah-langkah dasar budidaya. Pengetahuan tersebut sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri petani untuk mengelola kebun secara lebih terarah.

"Saya jadi memahami bahwa memilih bibit itu tidak boleh sembarangan dan kalau melakukan pemupukan perlu dosis dan cara yang tepat agar hasil panen bisa bagus. Semoga setelah melalui pelatihan ini dengan cara berkebun yang baik dan benar, kami bisa meningkatkan pendapatan,” ungkap Sumarni.

Pendampingan Berkelanjutan Perkuat Praktik Mandiri

Pendampingan tidak berhenti setelah pelatihan. Hingga akhir 2025, program yang dimulai sejak akhir 2024 telah menjangkau petani mandiri di 69 desa pada 10 kabupaten di Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Pendampingan rutin dilakukan guna memastikan ilmu yang diperoleh benar-benar diterapkan di kebun masing-masing.

Subeki, petani Desa Baung, Seruyan, Kalimantan Tengah, merasakan langsung manfaat monitoring tersebut. Ia kini lebih disiplin melakukan pruning sebelum panen setelah memahami teknik yang benar.

"Dulu saya pikir asal pelepah dipotong saja sudah cukup, namun setelah ikut pelatihan PERKASA, saya baru tahu kalau pruning itu ada aturannya dan sangat berperan penting untuk tumbuh kembang tanaman sawit serta kemudahan saat panen nanti. Tim dari perusahaan juga rutin datang untuk memantau dan memberikan masukan-masukan," jelas Subeki antusias.

Pendampingan berkelanjutan ini perlahan mengubah cara pandang petani. Kebun tidak lagi sekadar lahan warisan, tetapi ruang belajar yang terus berkembang untuk menjaga produktivitas dan kesejahteraan keluarga.

Manajemen PT Triputra Agro Persada Tbk mengatakan dalam perkebunan kelapa sawit, penguatan kapasitas petani rakyat menjadi salah satu kunci penting. Produktivitas yang baik bukan hanya berdampak pada pendapatan keluarga, tetapi juga pada praktik budidaya yang lebih tertib dan berkelanjutan.

"Melalui PERKASA, PT Triputra Agro Persada Tbk berkomitmen untuk berdiri sebagai sahabat petani agar tak ada lagi petani yang tertinggal bahkan tertipu. Program ini adalah wujud nyata di mana setiap petani mandiri memiliki kedaulatan atas pengetahuan dan masa depannya," tulis perusahaan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wanita Viral Kerap Tak Bayar Makan Akhirnya Diamankan Satpol PP di Jakpus
• 4 jam laludetik.com
thumb
Bripka Ade Tersandung Kasus Penggelapan Mobil di Tangerang, Terancam 4 Tahun Penjara
• 23 jam laludisway.id
thumb
Heboh! Potongan Tubuh Manusia Ditemukan di Pantai Ketewel Bali
• 13 jam laluviva.co.id
thumb
Legislator PKS: Gugatan Larang Keluarga Presiden Nyapres Sejalan Semangat Lawan KKN
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Van Gastel Keluhkan Jeda Mepet Jelang Laga PSIM vs PSBS Biak
• 19 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.