China Temukan Bahan Baku Baru Baterai Mobil Listrik, Pengganti Kobalt Nikel

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Para peneliti di China baru-baru ini mengumumkan hasil penelitian dan pengembangan baterai mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) dengan bahan baku pembuatan yang diklaim lebih revolusioner dibanding jenis konvensional.

Dilansir Car News China, sejumlah peneliti yang dipimpin oleh Profesor Xun Yinhua dari Tianjin University dan Profesor Huang Fei dari South China University of Technology merilis hasil studi bahwa bahan dasar kobalt dan nikel mungkin saja dapat digantikan.

Pada sebuah penelitian yang dipublikasikan pada 18 Februari kemarin menunjukkan dua bahan dasar utama pembuatan baterai tadi yang umum digunakan dapat memakai material alternatif lebih ringan dan mudah ditemukan yaitu polymer organik atau bahan mirip plastik.

Ini tentunya sedikit menjawab tantangan pembuatan baterai BEV yang saat ini sangat bergantung dengan material kobalt dan nikel, bahan baku yang sulit didapatkan dan mahal dari segi biaya produksinya.

Mereka menyebutnya sebagai baterai organik, di mana sebagian besar bahan pokok pembuatan baterai tak lagi bergantung pada material logam berat. Melainkan bahan polimer tadi yang dinamakan polybenzodifurandione atau PBFDO berfungsi sebagai katoda.

Sebelumnya jenis material ini tak banyak dikembangkan pabrikan karena dianggap belum kuat atau menyamai performa bahan logam konvensional. Namun baterai organik terbaru ini bahkan sudah memiliki kepadatan energi hingga 250 wH/kg.

Artinya hampir serupa dengan kemampuan teknis baterai mobil listrik yang tersedia di pasaran saat ini. Bahkan pengujiannya melewati tahap suhu kerja antara -70 derajat hingga 80 derajat celsius, yang mana merupakan salah satu kelemahan dari baterai kendaraan listrik.

Aspek lainnya yang dianggap terobosan baru adalah baterai organik ini lebih tahan dari potensi kerusakan akibat tertusuk atau benturan yang sangat keras. Dalam uji cobanya, penyimpanan daya listrik ini tidak terbakar, tidak meledak, dan tidak mengeluarkan asap.

Baterai organik juga dianggap fleksibel dari sisi fisik, ia dapat ditekan atau ditekuk tanpa alami kerusakan berarti. Serta dari sudut memperoleh bahan baku, jenis ini dinilai lebih ramah lingkungan karena berasal dari unsur materi yang mudah didapatkan.

Hadirnya baterai organik memperkaya penelitian jenis baterai BEV lainnya seperti solid state battery atau jenis LFP yang tanpa menggunakan mangan atau nikel sama sekali. Selain itu, ia juga diklaim lebih mudah disesuaikan untuk beragam platform bodi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BRI Super League: PSIM Waspadai Energi Baru PSBS, Jean-Paul van Gastel Sebut Jadwal Padat Jadi Momen Sulit
• 12 jam lalubola.com
thumb
Mendes dan Menkop Minta Alfamart-Indomaret Setop Ekspansi ke Desa, Ini Faktanya
• 12 jam lalukatadata.co.id
thumb
Stop Lakukan Ini saat Puasa! Ginjal Bisa Rusak Diam-Diam Tanpa Anda Sadari
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Khutbah Jumat Ramadan, Menjaga Api Semangat Ibadah di Bulan Suci
• 23 jam lalumedcom.id
thumb
Riefky: Bazar Ramadan Jadi Bukti Ekraf Mampu Gerakkan Ekonomi Daerah
• 20 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.