EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah muncul laporan mengenai pengerahan besar-besaran jet tempur siluman F-22 Raptor milik Angkatan Udara AS ke Israel. Pada 25 Februari 2026, media Israel The Times of Israel mengutip citra satelit dari perusahaan teknologi asal Tiongkok, MizarVision, yang memperlihatkan sedikitnya 11 unit F-22 terparkir di Pangkalan Udara Ovda, Israel selatan.
Di sekitar lokasi parkir jet tempur tersebut juga terlihat sistem pertahanan udara Patriot, yang mengindikasikan peningkatan status keamanan dan kesiapsiagaan militer di pangkalan tersebut.
Total Bisa Mencapai 24 Unit
Berdasarkan data pelacakan penerbangan yang dihimpun dari berbagai sumber terbuka (open-source flight tracking), jumlah total F-22 yang dipindahkan ke kawasan tersebut diperkirakan dapat mencapai 24 unit.
Data penerbangan menunjukkan bahwa:
- Pada awal pekan ini, 12 unit F-22 dilaporkan terbang dari Inggris menuju Israel.
- Dari jumlah tersebut, 11 unit telah tiba, sementara satu unit tertahan karena gangguan teknis.
- Gelombang kedua yang terdiri dari 12 unit tambahan telah mendarat di Inggris dan diperkirakan akan melanjutkan penerbangan ke Israel dalam waktu dekat.
Apabila seluruh proses pemindahan selesai, maka Israel akan menjadi tuan rumah bagi total 24 jet tempur F-22, jumlah yang sangat signifikan untuk satu lokasi di kawasan Timur Tengah.
Penempatan Langka dan Bernilai Strategis
Laporan tersebut menekankan bahwa pengerahan langsung jet tempur tempur Amerika Serikat untuk bertugas di pangkalan Israel merupakan langkah yang sangat jarang terjadi. Dalam praktik sebelumnya, AS dan Israel umumnya menggelar latihan militer gabungan, bukan penempatan operasional jangka menengah atau panjang.
Kehadiran F-22 dalam jumlah besar di Israel dipandang banyak analis sebagai sinyal deterrence (penangkalan) yang kuat terhadap Iran, terutama di tengah meningkatnya tensi terkait program nuklir Teheran serta rencana putaran baru perundingan nuklir.
Mengapa F-22 Penting?
F-22 Raptor merupakan salah satu jet tempur superioritas udara tercanggih yang dimiliki Amerika Serikat. Pesawat ini dirancang untuk:
- Merebut dan mempertahankan dominasi udara
- Menembus sistem pertahanan udara canggih lawan
- Melaksanakan misi tempur intensitas tinggi
- Terbang supersonik tanpa menggunakan afterburner (supercruise)
- Menggunakan teknologi siluman (stealth) tingkat tinggi
Dengan kemampuan tersebut, kehadiran F-22 secara signifikan meningkatkan kapasitas superioritas udara dan kemampuan penetrasi strategis AS di kawasan Timur Tengah.
Dalam konteks potensi eskalasi dengan Iran, pengerahan ini dinilai sebagai langkah kesiapsiagaan militer sekaligus pesan politik yang tegas dari Washington.
Khamenei Dikabarkan Berlindung di Bunker Rahasia
Di tengah meningkatnya ketegangan, media oposisi Iran, Iran International, melaporkan pada 25 Februari 2026 bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah berpindah ke fasilitas bawah tanah rahasia di Teheran.
Menurut laporan tersebut, fasilitas itu terdiri atas jaringan terowongan yang dirancang untuk menghadapi kemungkinan:
- Serangan udara presisi
- Operasi militer khusus
- Skenario “decapitation strike” atau upaya melumpuhkan kepemimpinan negara
Sumber yang disebut berasal dari lingkungan Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim bahwa setiap pejabat tinggi yang hendak bertemu Khamenei harus ditutup matanya sebelum dibawa masuk ke fasilitas tersebut, guna menjaga kerahasiaan lokasi.
Bahkan disebutkan bahwa Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran juga menjalani prosedur yang sama sebelum bertolak ke Oman untuk melakukan komunikasi atau perundingan tidak langsung dengan Amerika Serikat.
Namun demikian, laporan mengenai keberadaan Khamenei di bunker bawah tanah ini belum dapat diverifikasi secara independen oleh media internasional arus utama.
Diplomasi dan Opsi Militer Masih Terbuka
Perkembangan ini terjadi menjelang rencana putaran baru perundingan nuklir AS–Iran di Jenewa, yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Februari 2026.
Washington berulang kali menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, dan seluruh opsi—termasuk opsi militer—tetap berada di atas meja jika jalur diplomasi gagal.
Sementara itu, Teheran menyatakan tetap membuka ruang perundingan, namun menolak segala bentuk tekanan dan ancaman militer.
Kawasan Timur Tengah dalam Fase Sensitif
Penempatan hingga 24 F-22 di Israel, jika terkonfirmasi sepenuhnya, akan menjadi salah satu konsentrasi jet tempur siluman terbesar AS di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir.
Langkah ini mempertegas bahwa kawasan tersebut kembali memasuki fase yang sangat sensitif, di mana diplomasi dan eskalasi militer berjalan beriringan.
Dunia kini menanti apakah perundingan yang akan datang mampu meredakan ketegangan—atau justru menjadi titik awal babak baru konfrontasi antara Washington dan Teheran.





