Ajarilah Dia Bersyukur Jika Memang Mencintainya

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Suami saya dibesarkan di keluarga petani yang sederhana. Dari kecil dia sudah terbiasa hidup hemat dan rajin bekerja. Nilai itu bukan hanya dia terapkan pada dirinya sendiri, tetapi juga dalam mendidik anak-anak. Setiap permintaan anak selalu dia pertimbangkan dengan sangat hati-hati.

Dia sering berkata kepada saya:  “Mencintai anak bukan berarti memenuhi semua keinginannya. Cinta yang sejati adalah mengajarkan anak untuk belajar mendengarkan orangtua, bukan menjejali mereka dengan berbagai barang untuk memuaskan hasrat.”

Suatu waktu, sedang tren mainan mobil balap dengan lintasan. Anak kami sangat ingin memilikinya. Dia berkali-kali meminta kepada ayahnya, namun selalu ditolak.

Kemudian dia melihat hampir semua teman sekelasnya memiliki mobil tersebut. Sepupu-sepupunya bahkan punya dua atau lebih. 

Dengan mata berkaca-kaca dia mengadu :  “Semua orang punya mobil lintasan, cuma aku yang tidak punya.”

Suami saya memeluknya dengan lembut dan berkata : “Kalau semua orang salah, kenapa kamu harus ikut-ikutan? Ayah justru bangga padamu.”

Anak kami tahu ayahnya teguh dalam prinsip, dan dia tidak lagi memaksa. Menariknya, setelah mainan itu tidak lagi populer, teman-temannya dan sepupunya malah memberikan mobil-mobil itu kepadanya.

Dia pun bertanya heran : “Kenapa dulu semua orang ingin main, sekarang tidak ada yang mau lagi?”

Pengalaman itu membuatnya belajar. Ketika tren berikutnya datang—yo-yo dan gasing tempur—dia tidak lagi bersikeras harus memiliki.

Dalam hal pakaian pun demikian. Suami saya selalu menekankan bahwa tujuan berpakaian adalah untuk rapi dan sopan.

Kadang jika anak-anak memakai pakaian yang lebih bagus bahannya, saya tak tahan untuk berkata: “Wah, ganteng sekali!”

Namun suami saya dengan sabar mengingatkan: “Kalau kita memuji anak hanya karena pakaiannya bagus, bagaimana kita bisa mendidik mereka agar tidak terlalu mementingkan penampilan?”

Sedikit demi sedikit, anak-anak pun terbiasa memakai apa adanya.

Suatu kali saat kami membeli sepatu kain, pemilik toko berkata kagum:  “Sekarang jarang sekali ada anak yang mengganti sepatu setelah benar-benar rusak seperti ini!”

Beberapa waktu lalu, karena anak-anak berhasil menghafal ajaran Laozi dan Zhongyong, saya berjanji akan membelikan mereka masing-masing satu mainan dengan harga di bawah lima puluh yuan.

Di toko, setiap kali anak saya melihat mainan, dia selalu bertanya terlebih dahulu : “Boleh lihat ini?”, “Boleh beli ini?”

Anak pertama, kedua, bahkan si bungsu yang baru tiga tahun pun bersikap sama.

Pemilik toko itu sampai bertanya dengan takjub :  “Ibu, bagaimana cara mendidiknya? Saya sudah lama membuka toko ini. Biasanya orangtua menyerah karena anak menangis lalu membelikan mainan. Atau anak marah karena tidak dibelikan. Jarang sekali saya melihat anak yang begitu sopan, setiap kali mengambil mainan selalu bertanya boleh atau tidak.”

Dulu, saya sering merasa suami terlalu keras pada anak-anak. Terlebih di zaman yang serba materi seperti sekarang, saya khawatir mereka akan tertinggal dari yang lain.

Namun seiring waktu, saya mengerti: Sebanyak apa pun materi tidak akan pernah bisa memuaskan keinginan anak.

Mengajarkan mereka untuk merasa cukup—itulah cinta yang sesungguhnya.

Hikmah Cerita

Jika di dunia ini ada “lubang tanpa dasar”, maka itulah hati manusia yang tidak pernah merasa cukup.

Sebenarnya kebutuhan manusia itu sederhana. Namun karena gengsi dan keinginan yang tak terkendali, kita terus mengejar sesuatu yang jauh melampaui kebutuhan.

Ketika satu keinginan tercapai, hati yang tidak pernah puas akan kembali mencari yang lebih besar. Hidup pun berlalu dalam siklus tanpa akhir—mengejar, mendapatkan, lalu merasa kurang lagi.

Sementara itu, banyak hal berharga di sekitar kita terlewat begitu saja.

Mencintai anak bukan berarti memenuhi semua yang dia minta. Cinta sejati adalah membantu anak memahami apa yang benar-benar ia butuhkan.

Ketika anak belajar merasa cukup, dia tidak akan menghabiskan hidupnya mengejar ilusi. Dia akan tumbuh menjadi pribadi yang utuh, tenang, dan mampu menikmati hidup dengan penuh makna.(jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Terekam CCTV, 2 Pencuri Motor di Sukoharjo Ditangkap Kurang dari 24 Jam | BERUT
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
MBG Program Andalan Tuai Sorotan, Presiden Diyakini Tetap Pertahankan
• 5 jam laluharianfajar
thumb
Anak Down Syndrome Jadi Pemeran Utama Film Nasional, Ini Kisah Ridho
• 8 menit lalukumparan.com
thumb
Ajaib! Ngebut 185 km per Jam lalu Menabrak, Bos WWE Usia 80 Tahun Selamat
• 19 jam lalurealita.co
thumb
Hormati Indonesia Gabung Dewan Perdamaian Gaza, Namun Rusia Tidak Akan Berpartisipasi
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.