FAJAR, JAKARTA — Bek biasanya hidup jauh dari sorotan statistik gol. Tugas utama mereka sederhana: bertahan, menghentikan serangan, dan memastikan gawang tetap aman. Namun musim ini, satu nama justru mematahkan stereotip itu.
Jordi Amat diam-diam sedang menjalani salah satu musim paling produktif sepanjang karier profesionalnya bersama Persija Jakarta.
Tanpa banyak gembar-gembor, bek naturalisasi Timnas Indonesia itu mencetak rekor pribadi: jumlah gol terbanyak dalam satu musim sepanjang kariernya.
Dan menariknya, pencapaian itu datang ketika banyak orang sempat meragukan kedatangannya.
Dari Transfer Kontroversial Jadi Pilar Macan Kemayoran
Saat Persija merekrut Jordi Amat pada Juli 2025 dari Johor Darul Ta’zim, respons publik terbelah.
Usianya sudah 33 tahun. Sebagian pengamat menilai masa emasnya telah lewat, meski rekam jejaknya di Eropa—termasuk bersama Swansea City—tidak bisa dipandang sebelah mata.
Namun sepak bola sering memberi jawaban berbeda dari asumsi awal.
Jordi langsung menjadi figur sentral di lini belakang Persija, berduet dengan Rizky Ridho Ramadhani. Stabilitas pertahanan Macan Kemayoran pada putaran pertama banyak bertumpu pada ketenangan membaca permainan yang ia miliki.
Dari 15 pertandingan awal, ia hampir tak tergantikan.
Lebih dari itu, ia mulai memberi kontribusi yang jarang dimiliki bek tengah: gol.
Transformasi yang Mengubah Segalanya
Memasuki putaran kedua, peran Jordi berubah drastis. Pelatih Mauricio Souza tidak lagi melihatnya semata sebagai bek tengah.
Ia ditarik lebih maju menjadi gelandang bertahan.
Keputusan ini bukan eksperimen tanpa dasar. Jordi memiliki karakter ball-playing defender—bek yang nyaman mengatur tempo permainan. Dari posisi baru itu, visinya justru semakin terlihat.
Hasilnya langsung terasa:
tampil solid melawan Madura United
menjadi man of the match saat Persija menang 1-0 di kandang Bali United FC
mencetak gol penting kontra Malut United FC
Gol ketiganya musim ini lahir lewat flick header cerdas—detail kecil yang menunjukkan insting menyerang seorang pemain bertahan berpengalaman.
Tiga gol mungkin terdengar biasa bagi penyerang. Tetapi bagi Jordi Amat, itu adalah rekor pribadi baru. Sepanjang kariernya, ia sebelumnya hanya mampu mencetak maksimal dua gol dalam satu musim, termasuk saat membela KAS Eupen.
Musim ini belum selesai. Rekor itu masih bisa bertambah.
Lalu, Bagaimana dengan Yuran Fernandes?
Jika Jordi Amat adalah simbol evolusi peran bek modern, maka Yuran Fernandes adalah representasi bek klasik yang dominan secara fisik sekaligus produktif.
Kapten PSM Makassar itu memiliki statistik yang sulit diabaikan:
107 pertandingan resmi
16 gol
8 assist
Angka tersebut luar biasa untuk seorang bek tengah.
Lahir di Sal-Rei, Cape Verde, Yuran justru dibesarkan secara sepak bola di Portugal, negara yang membentuk karakter bermainnya. Sebelum tiba di Makassar pada 2022, ia menjelajah delapan klub Portugal—membangun reputasi sebagai bek agresif dengan kemampuan duel udara elite.
Di PSM, ia berkembang menjadi lebih dari sekadar pemain asing.
Ia adalah pemimpin.
Kapten.
Dan simbol era juara klub.
Dua Bek, Dua Gaya Kepemimpinan
Perbandingan Jordi Amat dan Yuran Fernandes sebenarnya bukan soal siapa lebih hebat, melainkan bagaimana keduanya merepresentasikan dua tipe bek modern yang berbeda.
Jordi Amat
Tenang dan taktis
Mengatur ritme permainan
Adaptif hingga berubah posisi
Efektif lewat kecerdasan membaca ruang
Yuran Fernandes
Dominan secara fisik
Ancaman bola mati
Pemimpin emosional tim
Bek dengan insting menyerang kuat
Jika Jordi adalah arsitek dari belakang, Yuran adalah benteng sekaligus palu godam di kotak penalti lawan.
Siapa Lebih Baik?
Secara produktivitas jangka panjang, Yuran masih unggul. Konsistensinya mencetak gol sebagai bek selama beberapa musim membuatnya menjadi salah satu bek tersubur di Indonesia.
Namun musim ini menghadirkan cerita berbeda.
Jordi Amat sedang menjalani fase kebangkitan karier—membuktikan bahwa pengalaman bisa menjadi senjata paling mematikan ketika dipadukan dengan adaptasi taktik yang tepat.
Dan dengan 11 pertandingan tersisa di Super League 2025/2026, satu pertanyaan mulai muncul:
Apakah musim debut Jordi Amat bersama Persija justru akan menjadi musim terbaik sepanjang kariernya?
Jika itu terjadi, maka perdebatan tentang bek asing paling berpengaruh di liga tidak lagi hanya milik Yuran Fernandes seorang.
Persaingan diam-diam itu baru saja dimulai.





