Grid.ID – Kementerian Agama berkolaborasi dengan British Council untuk meningkatkan kompetensi guru Bahasa Inggris Madrasah. Penguatan kualitas guru tentunya menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan pendidikan global.
Program pengembangan keprofesian guru Bahasa Inggris madrasah sudah berjalan selama delapan minggu dan ditutup dengan lokakarya tatap muka di Kementerian Agama, Jakarta, pada akhir Februari 2026 ini. Sebanyak 41.833 guru madrasah dari seluruh Indonesia terdaftar dalam program ini.
“Kolaborasi ini merupakan langkah konkret mewujudkan Asta Protas Kemenag. Selain itu, juga mendukung kesepakatan dalam Kemitraan Strategis Indonesia–Inggris yang ditandatangani oleh Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Keir Starmer pada Januari 2026 lalu, yang mana pendidikan menjadi salah satu pilar utama kerja sama,” papar Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A.
Selain meningkatkan kemampuan berbahasa asing, kolaborasi ini tentunya memberi efek domino pada kualitas generasi bangsa. Mahasiswa alumni madrasah tentunya akan memiliki peluang yang lebih besar untuk berkarier di dunia Internasional.
“Jadi, program kita ke depan itu adalah mahasiswa-mahasiswa kita, alumni Madrasah itu semakin banyak bisa mengakses program tinggi terkemuka di dunia internasional.”
“Yang kedua, alumni Madrasa juga bisa mengakses lapangan kerja yang pertebaran di seluruh dunia, tanpa bahasa Inggris kan susah,” papar Nasaruddin Umar, ditemui di Kantor Kemenag, Jakarta Pusat, Kamis (26/2/2026).
Summer Xia, Country Director Indonesia and Director Southeast Asia, British Council memaparkan tantangan dan pencapaian pelatihan ini, “Sebanyak 613 guru yang tersebar merata di hampir seluruh provinsi di Indonesia kini telah menyelesaikan program ini. Dengan menghadirkan pelatihan secara daring dalam format yang terstruktur dan didukung secara menyeluruh, serta diperkuat oleh e-moderator dan sesi langsung mingguan, kami memastikan bahwa pengembangan profesional berkualitas tinggi dapat diakses oleh para pendidik di mana pun mereka berada,“ tuturnya.
Selama delapan minggu pelaksanaan, perubahan mulai terlihat dalam praktik pembelajaran. Guru mengadopsi pendekatan yang lebih berpusat pada siswa dan menciptakan interaksi kelas yang lebih aktif. Kepercayaan diri dalam menggunakan bahasa Inggris juga meningkat, yang berdampak pada partisipasi siswa.
Ni’Matus Zahroh, guru Bahasa Inggris dari Madrasah MTsN 15 Jombang, membagikan pengalamannya. “Kesempatan pengembangan diri bagi pendidik di madrasah belum banyak. Melalui program ini, guru Bahasa Inggris di madrasah bisa memberikan pengajaran yang menyenangkan bagi murid dan menginspirasi untuk terus belajar demi menghasilkan generasi yang beriman dan berakal,” tutur Ni’Matus Zahroh.
Menuju Skala yang Lebih Luas
Sebagai program percontohan, inisiatif ini menjadi fondasi untuk pengembangan yang lebih luas. Jumlah peserta memang masih sebagian kecil dari kebutuhan nasional, namun model yang telah diuji membuka ruang untuk ekspansi dan penguatan berkelanjutan.
Pengembangan berikutnya diharapkan dapat memperluas akses pelatihan sekaligus mendorong terbentuknya komunitas belajar profesional di antara guru madrasah, menghasilkan dampak sistemik yang dapat terus direplikasi.
“Progres dalam skala seperti ini hanya dapat terwujud ketika seluruh mitra memiliki komitmen yang sama untuk membangun sistem pendidikan yang terukur, berdampak, dan siap untuk diadopsi secara nasional. Melalui kolaborasi ini, British Council berkomitmen untuk memperkuat kapasitas, mempercepat transfer pengetahuan, serta memastikan solusi yang tidak hanya efektif saat ini, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang,” tutup Summer Xia. (*)
Artikel Asli



