Grid.ID – Rencana Insanul Fahmi untuk memiliki dua istri menuai beragam tanggapan. Salah satunya datang dari Lulung Mumtaza yang memberikan pandangan tegas terkait praktik poligami.
Dalam pernyataannya, Ustadzah Lulung menekankan bahwa poligami bukan perkara mudah. Ia menyebut hanya orang dengan kapasitas tertentu yang mampu menjalankannya secara adil.
“Iya, apalagi kalau kita nggak punya ilmu. Hanya orang berilmu tinggilah yang bisa adil pada istri-istrinya,” tegasnya, dikutip dari YouTube Seleb Oncam News, Jumat (27/2/2026).
Menurutnya, tanpa bekal ilmu yang memadai, poligami justru berpotensi menimbulkan konflik dalam rumah tangga. Ia mengingatkan bahwa keadilan menjadi syarat utama yang tidak bisa ditawar.
Tak hanya soal ilmu, Lulung juga menyinggung aspek finansial dan kualitas pribadi. Ia menyebut seseorang harus benar-benar siap secara lahir dan batin.
“Ilmu dan kaya raya, tampan, takwa, tajir, tulen,” ujarnya menambahkan.
Di akhir pernyataannya, Lulung memberikan pesan kepada Insanul serta pihak-pihak yang terlibat dalam konflik rumah tangga tersebut, termasuk Mawa dan Inara. Ia meminta semua pihak menerima takdir yang telah terjadi.
“Kalau semuanya sudah terjadi berarti qodarullah. Jangan berkata ‘coba kalau gini, coba kalau gitu’. Sekarang minta sama Allah takdir yang baik,” tutupnya.
Sementara itu, dalam wawancara di kanal YouTube Krisna Murti Official, Insanul membeberkan alasannya ingin memiliki dua istri di usia 26 tahun. Hal itu sempat ditanggapi langsung oleh pengacara Krisna Murti.
Krisna mempertanyakan keberanian Insanul yang secara terbuka mengakui keinginannya berpoligami di usia muda. Ia menilai keputusan tersebut tidak lazim bagi pria seusianya.
Menjawab pertanyaan itu, Insanul mengatakan keinginannya dilatarbelakangi visi bisnis jangka panjang. Ia mengaku ingin memiliki banyak anak untuk meneruskan usaha yang dibangunnya.
“Aku kepikiran pengen punya banyak bisnis, kemudian aku bisa turunin ke anak-anakku daripada ke orang lain,” ujar Insanul.
Pria yang telah menikah dengan Mawa dan kemudian menikahi Inara secara siri pada Agustus 2025 itu menyebut anak-anaknya kelak bisa diarahkan mengelola berbagai lini usaha.
Ia juga menilai peran istri penting dalam mengontrol dan membimbing anak-anak dalam menjalankan bisnis keluarga. Sementara dirinya akan fokus berkarya dan mengembangkan usaha.
Pernyataan tersebut pun memicu pro dan kontra di tengah publik. Sebagian menilai poligami adalah hak pribadi, sementara yang lain mempertanyakan kesiapan dan tanggung jawab yang menyertainya.
Di tengah polemik tersebut, pesan Lulung Mumtaza menjadi pengingat bahwa poligami bukan sekadar soal keberanian atau ambisi, melainkan kesiapan ilmu, akhlak, dan tanggung jawab besar di baliknya.(*)
Artikel Asli
