Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meninjau progres pembangunan RSUD Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Jumat (27/2). Tiba sekitar pukul 11.11 WITA pagi, Budi disambut Dirut RSUD Kota Bima Fathurrahman, Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal, Wali Kota Bima Abdul Rahman Haji Abidin, dan Bupati Bima Ady Mahyudi.
Sesaat setelahnya, Budi pun langsung menyusuri bangunan gedung baru rumah sakit. Mulai dari ruang CT scan hingga ruang operasi.
Kehadiran Budi bertujuan mengecek kesiapan fisik bangunan, alat kesehatan, serta sumber daya manusia di rumah sakit yang menjadi bagian dari Program Quick Win Presiden Prabowo Subianto.
“Ini adalah satu dari 66 RSUD yang akan dibangun oleh Pak Presiden Prabowo. Jadi seluruh daerah-daerah terpencil, beliau minta agar dibangun RSUD,” ujar Budi kepada wartawan.
“Saya datang ke sini bukan untuk meresmikan, untuk ngecek. Jadi beberapa RS saya datang saya cek, benar enggak. Karena dikasih, saya minta dikirimin video setiap minggu untuk lihat progresnya seperti apa. Tapi ada beberapa yang saya khusus mau datang, untuk lihat apakah sudah sesuai dengan ekspektasi saya apa enggak,” tambah Budi.
RSUD Kota Bima dirancang sebagai rumah sakit tipe C yang mampu menangani lima penyakit utama penyebab kematian tertinggi, yakni stroke, jantung, kanker, ginjal, serta ibu dan anak.
“Dengan adanya rumah sakit ini, kalau ada penyakit stroke, jantung, kanker, ginjal, ibu anak harusnya bisa selesai dirawat di sini. Yang penting ada alatnya dan ada dokternya,” tegas Budi.
Total Proyek Rp 165 MiliarDikutip dari situs resmi Pemerintah Kota Bima, pembangunan RSUD ini menelan total anggaran sekitar Rp 165 miliar. Waktu pelaksanaan proyek pembangunan RSUD Kota Bima dimulai 10 April 2025 hingga 25 Desember 2025.
Rinciannya sebanyak Rp 130 miliar bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pembangunan gedung utama yang dikerjakan PT Hutama Karya (Persero) dengan target penyelesaian Desember 2025.
Sementara itu, pembangunan ruang rawat inap tiga lantai dengan total 100 tempat tidur didukung Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp 35 miliar dengan target rampung Juni 2026.
Budi menyebut pengadaan alat kesehatan bernilai Rp 20 miliar rupiah dan akan datang secara bertahap hingga Juni.
“Jadi sudah ada 20 miliar yang mereka beli alat. Katanya sudah ditaruh di rumah sakit yang lama dulu. Itu juga mesti dipindahkan nanti di sini. Jadi di bulan Juni,” ucapnya.
Budi menyebut pengadaan alat kesehatan bernilai Rp 20 miliar rupiah dan akan datang secara bertahap hingga Juni.
“Jadi sudah ada Rp 20 miliar yang mereka beli alat. Katanya sudah ditaruh di rumah sakit yang lama dulu. Itu juga mesti dipindahkan nanti di sini. Jadi di bulan Juni,” ucapnya.
Gedung utama RSUD telah rampung pada 26 Desember 2025 dan saat ini memasuki tahap akhir penyelesaian (finishing dan instalasi mekanikal, elektrikal, dan plumbing/MEP). Kontrak pekerjaan berlangsung hingga Juli 2026, dengan rencana pemindahan peralatan serta persiapan operasional pada Juli–Agustus 2026.
Peresmian RSUD direncanakan sekitar Agustus 2026 setelah pembangunan gedung rawat inap selesai seluruhnya.
Pastikan Dokter dan Layanan SiapSelain mengecek fisik bangunan dan alat, Budi juga memastikan ketersediaan dokter spesialis. Ia menyebut telah berdialog langsung dengan para dokter yang akan bertugas.
“Yang biasanya kalau alat cepat, yang susah itu dokternya. Tapi di sini tadi saya interview-interview, tanya-tanya, alhamdulillah dokternya sudah ada semua,” ujarnya.
Adapun SDM yang tersedia saat ini adalah sebagai berikut:
Radiologi (2)
Penyakit Dalam (2)
Bedah (3)
Anestesi (2)
Anak (2)
Obgyn (2)
Jantung (2)
Mata (2)
Ortopedi (1)




