Persaingan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok semakin merambah sektor mineral strategis di Afrika. Langkah terbaru Washington memperdalam kerja sama mineral dengan Malawi dipandang banyak analis sebagai upaya menyeimbangkan—bahkan menantang—jejak investasi Beijing yang selama ini dominan di negara tersebut dan di kawasan Afrika bagian selatan. Dinamika ini menegaskan bahwa kompetisi kekuatan besar kini bergeser dari sekadar perdagangan menuju perebutan rantai pasok mineral strategis.
Malawi dan Daya Tarik Mineral Strategis
Dalam beberapa tahun terakhir, Malawi semakin mendapat perhatian investor global karena potensi cadangan dari beberapa mineral yang jumlahnya sangat terbatas seperti grafit, uranium, dan beberapa jenis mineral lainnya. Pemerintah Lilongwe sendiri menargetkan sektor pertambangan sebagai motor pertumbuhan ekonomi baru. Laporan industri memperkirakan kontribusi sektor ini berpotensi menembus lebih dari 10 persen terhadap PDB dalam dekade mendatang jika proyek utama terealisasi. Momentum tersebut diperkuat oleh masuknya investasi besar dari Tiongkok. Pada 2025, perusahaan-perusahaan Tiongkok mengumumkan paket investasi infrastruktur dan pertambangan senilai sekitar US$1,2 miliar di Malawi (Mining Weekly, 2025). Selain itu, media resmi Beijing juga melaporkan komitmen hibah sekitar US$80 juta untuk berbagai proyek pembangunan di negara tersebut (China Daily, 2025).
Hubungan kedua negara sendiri telah berkembang sejak terjalinnya hubungan diplomatik pada 2007 (FMPRC). Kombinasi pembiayaan, pembangunan infrastruktur, dan keterlibatan perusahaan tambang membuat pengaruh ekonomi Tiongkok di Malawi tumbuh pesat dalam dua dekade terakhir.
Langkah Amerika Serikat: Diversifikasi dan Strategi Rantai Pasok
Dalam konteks meningkatnya dominasi Beijing, Washington mulai mengambil pendekatan lebih proaktif. Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir mendorong diversifikasi rantai pasok mineral kritis untuk mengurangi ketergantungan pada Tiongkok—terutama untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik, energi bersih, dan industri semikonduktor. Kerja sama baru AS–Malawi dilaporkan mencakup dukungan teknis sektor pertambangan, fasilitasi investasi swasta Amerika, serta penguatan tata kelola dan transparansi rantai pasok (AllAfrica, 2026). Pejabat Washington menekankan bahwa kemitraan ini dirancang untuk membantu Malawi mengembangkan sektor mineral secara berkelanjutan.
Meski demikian, banyak pengamat melihat timing kebijakan ini sulit dipisahkan dari rivalitas strategis Washington–Beijing. Meskipun fokus AS pada mineral kritis selaras dengan kebijakan industri dalam negerinya, tidak dapat dipungkiri bahwa kawasan Afrika bagian selatan yang menjadi sasaran kerja sama AS dalam dua dekade terakhir menjadi salah satu wilayah ekspansi paling aktif bagi investasi Tiongkok.
“Counter-Attack” terhadap Tiongkok?
Sejumlah analis menilai keterlibatan AS di Malawi mencerminkan pola yang lebih luas dalam geopolitik mineral global. Washington kini berupaya menantang pengaruh ekonomi Tiongkok di titik-titik strategis rantai pasok, terutama di negara-negara berkembang yang kaya sumber daya. Pendekatan ini terlihat dari meningkatnya inisiatif AS di Afrika dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari kemitraan mineral hingga program pembiayaan alternatif bagi proyek infrastruktur. Jika tren ini berlanjut, negara-negara di wilayah Afrika bagian selatan, salah satunya Malawi, berpotensi menjadi salah satu arena utama kompetisi ekonomi kedua kekuatan besar. Namun demikian, pejabat Malawi menegaskan bahwa negara mereka terbuka bagi semua mitra investasi dan tidak ingin terjebak dalam logika blok geopolitik.
Di tingkat domestik, kerja sama dengan Amerika Serikat disambut secara pragmatis oleh pemerintah Malawi. Diversifikasi mitra dipandang dapat meningkatkan posisi tawar negara dalam negosiasi proyek pertambangan sekaligus memperluas akses teknologi. Meski demikian, sejumlah analis lokal mengingatkan bahwa lonjakan minat global terhadap mineral Malawi membawa risiko klasik sektor ekstraktif di Afrika. Tantangan seperti ketergantungan pada ekspor bahan mentah, volatilitas harga komoditas, serta persoalan tata kelola tetap menjadi pekerjaan rumah besar. Tanpa penguatan institusi domestik, peningkatan investasi asing belum tentu otomatis menghasilkan transformasi ekonomi yang inklusif.
Implikasi bagi kawasan Afrika bagian selatan
Dinamika di Malawi mencerminkan tren yang lebih luas di Afrika bagian selatan. Kawasan ini semakin dipandang sebagai front baru mineral kritis yang dibutuhkan untuk transisi energi global. Jika rivalitas AS–Tiongkok terus menguat, kawasan ini bisa mengalami lonjakan investasi sekaligus fragmentasi rantai pasok berdasarkan aliansi geopolitik. Bagi negara-negara Afrika, situasi ini menghadirkan peluang sekaligus dilema. Di satu sisi, kompetisi kekuatan besar dapat meningkatkan nilai tawar dan arus investasi. Di sisi lain, tekanan geopolitik berpotensi meningkat jika rivalitas berubah menjadi lebih konfrontatif.
Kerja sama mineral antara Amerika Serikat dan Malawi menandai fase baru kompetisi geopolitik berbasis sumber daya di Afrika bagian selatan. Bagi Washington, langkah ini merupakan bagian dari strategi mengamankan rantai pasok global sekaligus menyeimbangkan pengaruh Tiongkok. Bagi Malawi, yang lebih penting adalah bagaimana memanfaatkan momentum ini untuk mendorong industrialisasi dan nilai tambah domestik. Tanpa tata kelola yang kuat, rivalitas kekuatan besar berisiko hanya menghasilkan lonjakan investasi jangka pendek tanpa transformasi ekonomi yang berkelanjutan.





