Gap Year Dirayakan di Luar Negeri, Mengapa di Indonesia Masih Dicap Negatif?

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Dalam sistem pendidikan di Indonesia, fenomena gap year atau mengambil jeda setelah kelulusan sering kali masih dipandang sebelah mata. Momen kelulusan dianggap sebagai garis start wajib menuju perguruan tinggi, seakan-akan satu-satunya pilihan setelah kelulusan adalah langsung masuk kuliah tanpa jeda sedikit pun.

Padahal, ketika seseorang memilih untuk mengambil gap year, munculnya label negatif dari lingkungan sekitar seperti “tertinggal”, “kurang ambisi”, atau “membuang waktu” justru menutup fakta bahwa masa ini bisa menjadi kesempatan berharga untuk lebih mengenal diri sendiri dan mempersiapkan masa depan dengan lebih matang.

Memahami Definisi dan Esensi Gap Year

American Gap year Association (2012) mendefinisikan gap year sebagai periode waktu yang terstruktur ketika seorang pelajar mengambil jeda dari pendidikan formal. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran diri, belajar dari budaya yang berbeda, serta mengeksplorasi berbagai kemungkinan karier. Sejalan dengan itu, Yulianti (2021) menjelaskan bahwa gap year merupakan periode waktu tertentu di mana individu menunda untuk melanjutkan karier atau jenjang akademik yang lebih tinggi untuk melakukan aktivitas-aktivitas lainnya.

Sayangnya, di Indonesia, gap year sering disalahartikan sebagai waktu untuk berhenti belajar. Padahal, banyak individu memanfaatkan masa ini untuk mengikuti kursus, mempelajari keterampilan baru, magang di perusahaan atau bekerja paruh waktu untuk menambah pengalaman, serta ada pula yang mempersiapkan ulang ujian masuk perguruan tinggi agar mendapatkan hasil yang lebih baik. Dengan demikian, gap year bukan berarti berhenti berproses, melainkan belajar dengan cara dan situasi yang berbeda di luar tembok pendidikan formal.

Perbedaan Gap Year dan Semi Gap Year

Dalam praktiknya, terdapat perbedaan antara gap year dan semi gap year. Gap year biasanya diambil oleh siswa yang baru lulus SMA dan belum terdaftar di perguruan tinggi manapun. Fokus mereka biasanya adalah memperbaiki hasil seleksi sebelumnya atau mencari arah hidup yang lebih jelas sebelum melanjutkan pendidikan. Sementara itu, semi gap year lebih umum dilakukan oleh mereka yang sudah berstatus sebagai mahasiswa aktif. Alasan utamanya sering kali karena merasa tidak cocok dengan jurusan yang sedang dijalani atau ingin berpindah kampus. Karena masih berada dalam sistem akademik, semi gap year cenderung dianggap tidak terlalu mengganggu alur pendidikan.

Urgensi Mengenal Diri Melalui Gap Year

Salah satu alasan utama mengapa gap year memberikan keuntungan adalah tersedianya waktu untuk mengevaluasi diri. Saat masih duduk di bangku SMA, banyak siswa yang memilih jurusan karena pengaruh orang tua, mengikuti pilihan teman, atau sekadar mengikuti tren dan mementingkan ego.

Akibatnya, muncul fenomena "salah jurusan" di mana mahasiswa merasa kehilangan motivasi di tengah masa studi dan berakhir memilih untuk tidak melanjutkan studi atau mengambil semi gap year karena ketidaksesuaian minat tersebut.

Dengan menjalani gap year, seorang calon mahasiswa memiliki waktu untuk berpikir secara tenang mengenai minat dan bakat aslinya. Keputusan yang diambil setelah masa jeda biasanya jauh lebih matang dan berisiko kecil untuk mengalami kegagalan di tengah jalan.

Stigma Terhadap Fenomena Gap Year di Indonesia

Menurut Merriam-Webster (2019), stigma adalah bentuk ketidaksetujuan seseorang maupun sekelompok orang berdasarkan karakteristik tertentu yang membedakan seseorang dari standar umum. Di Indonesia, stigma terhadap gap year sangat kental karena masyarakat cenderung memiliki pandangan linear terhadap pendidikan. Seseorang dianggap sukses jika ia bisa lulus tepat waktu, langsung kuliah setelah SMA, dan langsung bekerja setelah sarjana.

Individu yang mengambil gap year sering dianggap gagal karena tidak langsung diterima di perguruan tinggi. Selain itu, ada anggapan bahwa masuk kuliah lebih awal menjamin kesuksesan yang lebih cepat. Padahal, dalam realitas dunia kerja, kematangan mental dan pengalaman sering kali lebih dihargai daripada sekadar lulus usia muda. Pandangan masyarakat yang kaku ini menciptakan tekanan sosial yang besar bagi para anak muda, seolah-olah hidup adalah arena balap, di mana siapa yang paling cepat dianggap sebagai pemenang.

Dampak Psikologis Akibat Stigma

Stigma negatif ini memberikan dampak yang nyata pada kondisi psikologis individu. Rasa percaya diri sering kali menurun ketika melihat teman sebaya sudah mulai membagikan momen perkuliahan di media sosial. Muncul perasaan tekanan terisolasi dan tertinggal yang sebenarnya tidak perlu terjadi jika masyarakat memiliki sudut pandang yang lebih terbuka.

Tekanan ini juga membatasi ruang bagi anak muda untuk bereksplorasi. Banyak siswa yang akhirnya memaksakan diri masuk ke jurusan apa saja, asalkan tidak dicap pengangguran atau "anak gap year". Keputusan yang diambil berdasarkan ketakutan akan penilaian sosial justru dapat merugikan individu dalam jangka panjang, baik secara akademik maupun karier.

Perbandingan dengan Budaya Pendidikan Global

Jika dibandingkan dengan negara maju, persepsi terhadap gap year sangatlah berbeda. Dilansir dari laporan Department for Education (UK) tahun 2017 berjudul Taking a Gap year: Motivations, Benefits and Outcomes, data menunjukkan bahwa jumlah pelajar yang mengambil jeda di Inggris cukup signifikan dan sebanding dengan mereka yang langsung kuliah. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa pelajar di sana memilih gap year untuk meningkatkan kemandirian, kedewasaan, serta mencari pengalaman hidup di luar pendidikan formal.

Di luar negeri, banyak universitas ternama justru menghargai calon mahasiswa yang pernah mengambil gap year karena mereka dianggap memiliki kematangan emosional yang lebih baik. Di Indonesia, meskipun alasannya sering kali berkaitan dengan faktor ekonomi atau kegagalan seleksi, esensi dari pemanfaatan waktu tersebut tetap sama berharganya jika digunakan secara produktif. Hal ini membuktikan bahwa nilai sebuah masa jeda tidak ditentukan oleh kapan seseorang lulus, tetapi bagaimana kualitas diri meningkat selama masa tersebut.

Durasi dan Efektivitas Gap Year

Waktu ideal untuk menjalani gap year umumnya berkisar antara enam bulan hingga satu tahun, karena durasi tersebut dinilai cukup untuk memperoleh pengalaman yang bermakna tanpa mengganggu kesinambungan pendidikan.

Dalam rentang waktu ini, individu memiliki kesempatan untuk bekerja, belajar, serta merefleksikan minat dan tujuan hidupnya. Gap year yang terlalu singkat sering kali belum memberikan dampak signifikan, sedangkan durasi yang terlalu lama berisiko menurunkan motivasi untuk kembali melanjutkan pendidikan formal.

Kesimpulan dan Harapan

Pada akhirnya, gap year bukanlah sebuah kemunduran, melainkan bentuk kesadaran atau kesiapan diri, karena gap year merupakan pilihan yang lahir dari pertimbangan matang, bukan karena kegagalan. Waktu seharusnya tidak dipandang sebagai kompetisi, karena setiap orang memiliki jalur perkembangan yang berbeda dan tidak dapat disamakan.

Stigma bahwa gap year adalah tanda kegagalan, membuang waktu, atau membuat seseorang menjadi terlalu "tua" untuk sukses perlu perlahan diubah. Oleh karena itu, dibutuhkan sikap yang lebih terbuka dan penerimaan dari masyarakat agar stigma terhadap gap year dapat berkurang. Mengambil jeda bukanlah sesuatu yang salah atau buruk, lebih baik telat satu tahun daripada salah arah seumur hidup. Setiap orang memiliki waktu untuk berkembang dan jadi versi terbaik dirinya.

---

Penulis: Nimas Taqya Ashadewi & Saniya Raisa F. Maisoora Siswi SMA Putri Mazaya Assunnah


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Delegasi Iran dan UIII Sepakati Kerja Sama Pendidikan serta Seni untuk Perkuat Dialog Peradaban Islam Global
• 3 jam lalupantau.com
thumb
Mudik Gratis 2026 Dibuka 1 15 Maret, Ditjen Hubdat Kemenhub Sediakan 34 Kota Tujuan
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Minyak Jelantah dan Masa Depan Bahan Bakar Pesawat Indonesia
• 14 jam lalukatadata.co.id
thumb
Kasus Debt Collector Tusuk Advokat di Tangerang Dilimpahkan ke Polda Metro
• 11 jam lalukompas.com
thumb
ChompChomp Raih Penghargaan di Indonesia Top Achievement of the Year 2026
• 10 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.