Pantau - Pemerintah Indonesia dan Inggris memprioritaskan pengembangan proyek Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) di Aceh dalam kemitraan strategis sektor kehutanan, konservasi keanekaragaman hayati, dan pembiayaan inovatif berbasis bentang alam.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa PECI tidak sekadar proyek konservasi spesies, melainkan model pembiayaan dan pengelolaan bentang alam terpadu.
“PECI kami posisikan sebagai landscape-based conservation financing model yang mengintegrasikan perlindungan keanekaragaman hayati, pengelolaan hutan lestari, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Raja Juli Antoni.
Tahap Awal Cakup 20.000 HektarePECI menjadi salah satu inisiatif prioritas dalam kerja sama Indonesia-Inggris melalui amandemen nota kesepahaman dengan penambahan fokus pada konservasi gajah Sumatera.
Inisiatif ini bertujuan memastikan kelangsungan hidup jangka panjang gajah Sumatera melalui perlindungan habitat, pengelolaan bentang alam berkelanjutan, serta pengurangan konflik manusia dan satwa liar di wilayah Peusangan, Aceh.
Kawasan awal proyek mencakup area seluas 20.000 hektare dengan potensi pengembangan hingga 80.000 hektare guna membentuk koridor ekologis terintegrasi.
Saat ini, PECI berada pada tahap persiapan implementasi yang meliputi pembentukan struktur kelembagaan, perencanaan teknis, serta penguatan koordinasi antara pemerintah, mitra pembangunan, sektor swasta, dan masyarakat lokal.
“Fokus pertemuan ini adalah memastikan bahwa fase implementasi berjalan terstruktur, terukur, dan memiliki keberlanjutan pembiayaan jangka panjang,” ujar Menhut usai pertemuan dengan Menteri Inggris untuk Indo-Pasifik Seema Malhotra di Jakarta.
Dukung Target FOLU Net Sink 2030Menurut Raja Juli Antoni, konservasi gajah Sumatera merupakan bagian dari agenda strategis nasional untuk memperkuat tata kelola kawasan konservasi dan mendukung target Indonesia’s Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030.
Langkah ini juga dinilai dapat memperkuat kredibilitas Indonesia dalam kepemimpinan global pada isu hutan dan iklim.
Selain PECI, kerja sama RI-Inggris mencakup program Kemitraan untuk Bentang Alam Berkelanjutan (KIBAR), pengembangan National Park Financing Task Force, serta peluang mobilisasi pembiayaan inovatif berbasis alam seperti blended finance, carbon credits, dan biodiversity credits berintegritas tinggi.
Kemitraan kedua negara berada di bawah kerangka nota kesepahaman FOLU Net Sink 2030 yang ditandatangani pada 2022, yang mencakup penguatan tata kelola kehutanan, dukungan terhadap Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK), konservasi spesies prioritas, serta pengembangan mekanisme pembiayaan kehutanan yang inovatif dan berkelanjutan.




