Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan akhir pekan, Jumat, 27 Februari 2026. Pelemahan terjadi di tengah pengaruh sentimen global serta perhatian pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp16.760 per dolar AS atau terdepresiasi sekitar 0,06 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Pada perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, mata uang Garuda masih menguat sekitar 0,18 persen ke posisi Rp16.750 per dolar AS.
Sejak awal sesi perdagangan Jumat, rupiah memang bergerak di zona negatif. Saat pembukaan pasar, rupiah melemah sekitar 0,03 persen ke level Rp16.755 per dolar AS. Tekanan kemudian berlanjut hingga sempat menyentuh Rp16.787 per dolar AS sebelum sedikit membaik menjelang penutupan.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mencerminkan pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama dunia terpantau turun tipis. Hingga pukul 15.00 WIB, indeks tersebut berada di level 97,753 atau melemah sekitar 0,04 persen.
Pergerakan rupiah masih dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal. Dolar AS sempat menguat setelah rilis data klaim awal pengangguran di AS yang menunjukkan pasar tenaga kerja tetap kuat.
Data tersebut memperlihatkan klaim pengangguran mingguan naik 4.000 menjadi 212.000, namun masih lebih rendah dari perkiraan pasar yang berada di angka 216.000.
Selain itu, penguatan dolar juga didorong oleh meningkatnya kebutuhan likuiditas setelah pasar saham AS mengalami tekanan.
Meski demikian, penguatan dolar relatif terbatas setelah muncul pernyataan bernada dovish dari pejabat bank sentral AS, Federal Reserve. Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, Austan Goolsbee, menyatakan suku bunga masih berpotensi diturunkan tahun ini apabila inflasi terus mereda.
Saat ini pelaku pasar memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan bank sentral AS pada 17–18 Maret mendatang masih sangat kecil, yakni sekitar 3 persen.
Dari dalam negeri, sentimen juga datang dari sorotan lembaga pemeringkat global terhadap kondisi fiskal Indonesia. Analis sovereign dari S&P Global Ratings, Rain Yin menyebut pembayaran bunga utang Indonesia berpotensi melampaui ambang penting sebesar 15 persen dari total pendapatan pemerintah.
Menurut dia, jika rasio tersebut bertahan di atas 15 persen dalam jangka waktu yang cukup lama, lembaganya dapat menilai prospek peringkat kredit Indonesia menjadi lebih negatif.
Editor: Redaktur TVRINews





