jpnn.com - Sekretaris Jenderal Golkar Sarmuji menyebut partainya sudah berkomunikasi dengan Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas'ud setelah heboh polemik pengadaan mobil dinas mewah.
Menurutnya, Golkar berharap Rudy Mas'ud bisa menyerap aspirasi publik terkait mobil dinas mewah untuk Gubernur Kaltim seharga Rp 8,5 miliar.
BACA JUGA: P2G: Pakai Anggaran Pendidikan untuk MBG Berpotensi Inkonstitusional, Guru Honorer Korban
"Kami meminta untuk lebih mendengarkan suara publik di tengah efisiensi," ujar Sarmuji melalui layanan pesan, Jumat (27/2).
Ketua fraksi Golkar di DPR itu menuturkan anggaran pengadaan mobil dinas mewah untuk Gubernur Kaltim sebenarnya diketok pada 2024.
BACA JUGA: Bandar Narkoba Koko Erwin Penyuap AKBP Didik Kini Diburu Bareskrim
Menurut Sarmuji, pengadaan kala itu memakai alasan soal kondisi Kaltim yang berat, sehingga perlu kendaraan kuat dalam berbagai medan.
"Kaltim medannya berat dengan luas wilayah seperti luasan pulau Jawa," ujarnya.
BACA JUGA: Politikus Gerindra Ini Singgung Dukungan Bu Mega terhadap Program MBG
Namun, kata dia, Golkar tetap mengingatkan untuk memakai kacamata rakyat dan bukan pribadi terhadap wacana pengadaan mobil dinas mewah Gubernur Kaltim.
Kepada DPP Golkar, kata Sarmuji, Rudy yang berstatus kader partai berkelir kuning itu masih memakai mobil pribadi sebagai kendaraan dinas.
"Saya menyampaikan, itu lebih baik, meskipun pada dasarnya Gubernur berhak mendapatkan mobil dinas," kata dia.
Sebelumnya, Rudy mengatakan bahwa kendaraan mewah yang menjadi polemik diposisikan di Jakarta.
Dia menyebut fasilitas itu disiapkan untuk menunjang mobilitas gubernur dalam agenda-agenda nasional dan internasional.
Sebab, kata Rudy, status Kaltim menjadi tuan rumah Ibu Kota Nusantara (IKN) yang membuat frekuensi pertemuan pemimpin wilayah di provinsi itu dengan pejabat pusat, investor, dan delegasi mancanegara meningkat tajam.
“Kaltim sekarang menjadi wajah Indonesia. Tamu yang datang bukan hanya dari dalam negeri, tapi juga dari luar negeri,” ujar Rudy dikutip Kamis (26/2). (ast/jpnn)
Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Aristo Setiawan




