Impor 580 ribu Grand Parent Stok (GPS) atau bibit nenek ayam, jadi salah satu kesepakatan yang termuat dalam Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang baru-baru ini diteken Indonesia dengan Amerika Serikat (AS).
Kepala Pusat Riset Peternakan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Santoso, menjelaskan hingga saat ini Indonesia masih mengimpor ayam GPS karena belum mampu mengembangkan secara mandiri.
"GPS itu tidak bisa dikembangkan oleh Indonesia, akan selalu impor, setiap tahun ada kuotanya," jelas Santoso kepada kumparan, Jumat (27/2).
Perusahaan-perusahaan global telah melakukan uji performa selama puluhan hingga lebih dari 100 tahun. Lohmann (Jerman) misalnya, telah melakukan pengujian lebih dari satu abad. Cobb (USA) lebih dari 100 tahun, dan Tetra (Hungaria) sekitar 75 tahun.
Sebaliknya, Indonesia baru sekitar 15 tahun mengembangkan galur ayam unggul lokal, seperti Ayam KUB-1 (2014), Ayam Sensi (2017), Ayam Sembawa (2018), IPB-D1 (2019), KUB Janaka (2021), Gaosi (2021), dan KUB Narayana (2023).
“Ini baru galur-galur yang dihomogenkan untuk bisa menghasilkan produksi telur yang tinggi dan BB yang seragam, panen umur 70 hari atau ukuran 1 kg. Belum diarahkan ke GPS male line, dan female line karena begitu beragamnya ayam lokal, sehingga sulit menentukan feather sexing dan color sexing seperti pada ayam ras,” jelasnya.
Dengan demikian, keragaman genetik ayam lokal Indonesia menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan GPS. Variasi warna bulu dan karakteristik fisik menyulitkan penerapan metode identifikasi jenis kelamin cepat seperti feather sexing dan color sexing yang umum digunakan pada ayam ras.
Meski demikian, Santoso menegaskan peneliti Indonesia tengah berproses mengarah ke pengembangan GPS berbasis unggas lokal. Namun, upaya tersebut membutuhkan waktu panjang dan investasi riset yang berkelanjutan.
“Jadi Indonesia belum memiliki GPS sendiri, namun periset BRIN sedang berproses ke arah situ, dengan fokus kepada unggas lokal dan tentu saja ini memerlukan waktu,” terangnya.
Sementara dari sisi penetapan kuota impor GPS, Santoso menuturkan ini merupakan domain dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian berdasarkan analisis tim teknis yang mengevaluasi keseimbangan supply dan demand.
Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Pardjuni menilai kuota 580 ribu ekor GPS itu berpotensi membuat Indonesia oversupply ayam pada 2028, jika importasi sebanyak 580 ribu ekor dilakukan tahun ini.
Dia merinci, setiap satu ekor GPS satu ekor PS bisa menghasilkan 150 hingga 155 Day Old Chick (DOC) Final Stock (FS).
Dia berkaca pada realisasi importasi GPS tahun lalu sebanyak 578 ekor yang membuat Indonesia berpotensi memproduksi lebih dari 80 juta DOC per minggu pada 2027, padahal kebutuhan hanya sekitar 65 juta per minggu.
Terlebih pada akhir 2025 lalu, pemerintah meneken kuota impor 800 ribu ton GPS tahun ini, maka akan oversupply dan dampaknya terjadi pada 2028 nanti. “Jika GPS tahun ini benar-benar akan terealisasi di 800 ribu mungkin akan over di tahun 2028,” katanya kepada kumparan, Rabu (25/2).
Selain itu, dia juga melihat pembelian GPS seharga Rp 500 ribu per ekor dari AS juga berpotensi membuat importasi nenek ayam ini akan berlebihan. Sebab biasanya GPS dihargai USD 60-70 per ekor atau sekitar Rp 1 juta sampai Rp 1,17 juta (dengan kurs Rp 16.793 per dolar AS).
“Saya justru khawatir karena diberi info harga murah, seakan-akan peluang emas untuk impor berlebihan,” katanya.
Dalam dokumen tersebut estimasi nilai importasi 580 ribu ekor induk ayam tersebut adalah sekitar USD 17 juta sampai USD 20 juta atau sekitar Rp 286 miliar sampai Rp 336,48 miliar (dengan kurs Rp 16.824 per dolar AS).
Jika dikalkukasikan, dengan Rp 286 miliar untuk pembelian 580 ribu induk ayam, maka Indonesia membeli induk ayam dari AS dengan harga Rp 493 ribu per ekor atau hampir Rp 500 ribu per ekor.





