Kabupaten Tangerang (ANTARA) - PT Alpha Gemilang Makmur sebagai produsen lokal kardus berbahan dasar Polypropylene board (PP board) merek ALVABoard asal Tangerang, Banten, menggandeng Rekosistem untuk kerja sama strategis dalam mengelola limbah kemasan secara terintegrasi dan berkelanjutan.
CEO ALVAboard Alden Lukman di Tangerang, Jumat mengatakan bahwa terciptanya kolaborasi ini didasari atas meningkatnya tren belanja online atau e-commerce. Hal ini akan mengakibatkan banyaknya tumpukan sampah kemasan yang bisa menjadi masalah besar.
"Material yang terkumpul akan dipilah, dicatat, dan diproses untuk didaur ulang sesuai standar. Kami ingin memastikan material tidak berhenti sebagai limbah, tetapi kembali masuk dalam siklus produksi," katanya.
Menurut dia, sebagai tanggung jawab perusahaan tidak boleh terhenti saat produk sampai di tangan konsumen, siklus hidup material harus dikawal hingga fase pasca-pemakaian.
Baca juga: Pemkab Serang bagikan tumbler tekan sampah plastik
Pendekatan ekonomi sirkular menawarkan solusi sistemik dengan mengubah cara pandang terhadap limbah. Dalam konsep ini, kemasan tidak berakhir sebagai sampah, melainkan menjadi material yang dapat kembali masuk ke dalam siklus produksi.
Melalui sistem penyetoran yang terstruktur, kemasan ALVAboard memiliki peluang untuk diproses ulang dan dimanfaatkan kembali, sehingga mengurangi kebutuhan bahan baku baru sekaligus menekan volume limbah di TPA.
"Kolaborasi ALVAboard bersama Rekosistem merupakan langkah konkret dalam membangun sistem ekonomi sirkular di sektor kemasan. Melalui penyetoran dan pengelolaan yang terintegrasi, kami ingin memastikan bahwa material tidak berhenti sebagai limbah, tetapi dapat kembali dimanfaatkan dalam siklus produksi," kata Alden.
Sementara itu, Co-founder Rekosistem Ernest menjelaskan, kolaborasi ini mengedepankan aspek teknologi. Salah satu poin paling menarik dalam kerja sama ini adalah skema insentif bagi masyarakat atau pelanggan yang berpartisipasi menyetorkan sampah plastik mereka.
Baca juga: Pegiat lingkungan: Waspada peningkatan sampah plastik saat Ramadhan
"Setiap sampah kemasan yang disetorkan akan terlacak dan tercatat dalam sistem, sehingga laporan volume sampah dan pengurangan emisi karbon menjadi lebih akurat sesuai prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG)," jelasnya,
Untuk penyetoran plastik keras, pelanggan akan menerima Rp600 per kilogram. Khusus untuk material kemasan ALVAboard, nilai yang diterima dapat mencapai Rp2.000 per kilogram, termasuk tambahan insentif Rp1.400 per kilogram, sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam mendorong praktik ekonomi sirkular.
"Skema ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran bahwa kemasan memiliki nilai ekonomi dan tidak berhenti sebagai limbah," kata dia.
Baca juga: Ingatkan pemda, Menteri LH: TPA open dumping berakhir pada 2028
CEO ALVAboard Alden Lukman di Tangerang, Jumat mengatakan bahwa terciptanya kolaborasi ini didasari atas meningkatnya tren belanja online atau e-commerce. Hal ini akan mengakibatkan banyaknya tumpukan sampah kemasan yang bisa menjadi masalah besar.
"Material yang terkumpul akan dipilah, dicatat, dan diproses untuk didaur ulang sesuai standar. Kami ingin memastikan material tidak berhenti sebagai limbah, tetapi kembali masuk dalam siklus produksi," katanya.
Menurut dia, sebagai tanggung jawab perusahaan tidak boleh terhenti saat produk sampai di tangan konsumen, siklus hidup material harus dikawal hingga fase pasca-pemakaian.
Baca juga: Pemkab Serang bagikan tumbler tekan sampah plastik
Pendekatan ekonomi sirkular menawarkan solusi sistemik dengan mengubah cara pandang terhadap limbah. Dalam konsep ini, kemasan tidak berakhir sebagai sampah, melainkan menjadi material yang dapat kembali masuk ke dalam siklus produksi.
Melalui sistem penyetoran yang terstruktur, kemasan ALVAboard memiliki peluang untuk diproses ulang dan dimanfaatkan kembali, sehingga mengurangi kebutuhan bahan baku baru sekaligus menekan volume limbah di TPA.
"Kolaborasi ALVAboard bersama Rekosistem merupakan langkah konkret dalam membangun sistem ekonomi sirkular di sektor kemasan. Melalui penyetoran dan pengelolaan yang terintegrasi, kami ingin memastikan bahwa material tidak berhenti sebagai limbah, tetapi dapat kembali dimanfaatkan dalam siklus produksi," kata Alden.
Sementara itu, Co-founder Rekosistem Ernest menjelaskan, kolaborasi ini mengedepankan aspek teknologi. Salah satu poin paling menarik dalam kerja sama ini adalah skema insentif bagi masyarakat atau pelanggan yang berpartisipasi menyetorkan sampah plastik mereka.
Baca juga: Pegiat lingkungan: Waspada peningkatan sampah plastik saat Ramadhan
"Setiap sampah kemasan yang disetorkan akan terlacak dan tercatat dalam sistem, sehingga laporan volume sampah dan pengurangan emisi karbon menjadi lebih akurat sesuai prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG)," jelasnya,
Untuk penyetoran plastik keras, pelanggan akan menerima Rp600 per kilogram. Khusus untuk material kemasan ALVAboard, nilai yang diterima dapat mencapai Rp2.000 per kilogram, termasuk tambahan insentif Rp1.400 per kilogram, sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam mendorong praktik ekonomi sirkular.
"Skema ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran bahwa kemasan memiliki nilai ekonomi dan tidak berhenti sebagai limbah," kata dia.
Baca juga: Ingatkan pemda, Menteri LH: TPA open dumping berakhir pada 2028





