Bisnis.com, SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mewanti-wanti segenap pimpinan daerah maupun pemangku kepentingan terkait untuk senantiasa memantau ketersediaan pasokan dan harga bahan pangan yang dapat berpotensi menyumbang angka inflasi. Khususnya, komoditas cabai rawit mulai mengalami kenaikan banderol di pasaran saat Ramadan.
Khofifah membeberkan harga bahan-bahan pokok di pasar-pasar tradisional mulai bergejolak sejak minggu kedua Februari 2026. Tren kenaikan harga tersebut, lanjut Khofifah, masih disebutnya berlangsung hingga minggu ketiga bulan ini.
"Kalau kita lihat detail pergerakan harga, minggu pertama Februari relatif stabil, lalu masuk minggu kedua, dan ketiga mulai ada peningkatan. Di minggu ketiga, dinamika harga makin terasa, seiring pemenuhan kebutuhan masing-masing keluarga menjelang Hari Besar Keagamaan Islam," beber Khofifah di sela-sela High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) serta Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Jawa Timur di Gedung Negara Grahadi, Kamis (26/2/2026).
Khofifah membeberkan 'pedasnya' harga cabai saat ini yang dikhawatirkannya dapat berpengaruh pada angka inflasi Jawa Timur. Apalagi, ia menyoroti fenomena menahun bahwa terdapat disparitas banderol cabai rawit per kilogram di sejumlah pasar tradisional, bahkan yang terletak di satu wilayah administratif yang sama.
"Contohnya di Surabaya, di mana di satu pasar [harga cabai rawit] sempat menyentuh Rp82.000 bahkan Rp90.000 per kilogram, padahal di pasar lainnya ada yang Rp55.000. Setiap tahun saya temukan hal seperti ini. Item yang sering menekan inflasi antara lain cabai rawit," paparnya.
Untuk itu, dirinya pun berharap para pimpinan daerah maupun pemangku kepentingan terkait di masing-masing kabupaten/kota dapat menjalin koordinasi secara intensif dengan masing-masing kepala pasar guna mengontrol pasokan dan harga cabai rawit di lapangan.
Baca Juga
- Bapanas Klaim Harga Cabai Rawit Melandai usai Intervensi Pasokan
- Harga Cabai Rawit Masih Tinggi, Sekda Jabar: Masih Batas Normal
- Harga Cabai Rawit Naik di Awal Ramadan, Tertinggi Tembus Rp200.000 per Kg
Selain mendorong koordinasi, mantan Menteri Sosial RI itu bahkan berandai-andai bila masing-masing pemda di Jawa Timur dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi dan informasi dewasa ini guna mengantisipasi hal serupa terjadi. Ia mengusulkan pemasangan layar digital berisi harga kebutuhan pokok di tiap-tiap pasar agar koordinasi antarpihak dapat dilakukan dengan mudah.
"Apa tidak bisa dipasang layar digital harga di pasar-pasar, sehingga terkoneksi antarpasar dalam satu kabupaten/kota? Dengan begitu [harga] bisa dimonitor, kenapa cabai di satu pasar Rp82.000, sementara di pasar lain Rp55.000. Digital ecosystem harus kita maksimalkan sebagai alat kontrol harga dan memudahkan koordinasi antarkepala pasar," tegasnya.
Khofifah bahkan mengungkapkan bahwa ketika dirinya duduk sebagai Menteri Sosial, Presiden RI ke-7 Joko Widodo acapkali berseloroh bahwa persoalan harga cabai rawit itu hanya dibahas dalam rapat kabinet di Indonesia saja.
"Item yang sering menekan inflasi antara lain cabai rawit. Bahkan dulu di kabinet, Pak Jokowi sering menyampaikan bahwa mungkin hanya di Indonesia cabai rawit dibahas dalam rapat kabinet karena dampaknya terhadap inflasi," ucapnya.
Lebih lanjut, Khofifah juga mendorong setiap warga Jawa Timur untuk dapat membudidayakan setidaknya satu pohon cabai di pekarangan masing-masing guna memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ia mengeklaim hal tersebut dapat membantu menekan angka inflasi daerah.
"Dulu saat menjadi Menteri Sosial, saya banyak membibitkan cabai dan membagikannya, termasuk di rumah dinas menteri, agar setiap rumah punya tanaman cabai. Ini sederhana, tetapi bisa membantu menekan inflasi," bebernya.
Oleh sebab itu, saat bulan Ramadan dan jelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri, Khofifah pun menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor guna memastikan ketersediaan cabai tercukupi, harganya tetap terjangkau, distribusi berjalan lancar, serta komunikasi yang efektif.
"Secara umum, roadmap pengendalian inflasi masih pada strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif," tutupnya.




