Segala Sesuatu Sudah Diatur

erabaru.net
7 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Di sebuah gereja di Eropa Utara, terdapat patung Yesus yang disalib dengan ukuran hampir sebesar manusia asli.

Konon, doa di tempat itu selalu dikabulkan. Karena itulah, orang-orang datang silih berganti untuk berdoa dan memohon. Ramainya hampir seperti pasar.

Penjaga gereja yang setiap hari melihat patung Yesus itu merasa iba. Dia membayangkan betapa beratnya “beban” Yesus yang harus mendengarkan begitu banyak permohonan manusia.

Suatu hari, ketika dia berdoa, dia berkata dalam hati bahwa dia ingin membantu memikul beban itu.

Tak disangka, dia mendengar suara berkata:  “Baiklah. Aku turun untuk menggantikanmu menjaga pintu. Kamu naik ke atas salib. Tetapi ingat—apa pun yang kamu lihat dan dengar, kamu tidak boleh mengatakan sepatah kata pun.”

Penjaga itu merasa syarat tersebut mudah dipenuhi.

Maka Yesus turun, dan penjaga naik ke salib, merentangkan kedua tangannya seperti patung semula. Karena bentuknya memang hampir sama dengan manusia asli, para jemaat tidak menyadari apa pun. Ia pun menepati janjinya untuk diam dan hanya mendengarkan doa-doa.

Orang datang silih berganti. Ada doa yang masuk akal, ada pula yang aneh dan tidak masuk akal. Namun dia tetap menahan diri dan tidak berbicara.

Suatu hari, seorang saudagar kaya datang berdoa. Setelah selesai, dia pergi begitu saja, lupa membawa kantong uangnya.

Penjaga di atas salib melihatnya dan hampir saja memanggilnya kembali. Tetapi dia teringat janji—dia tidak boleh berbicara.

Tak lama kemudian, datang seorang pria miskin yang kesulitan makan. Dia berdoa memohon pertolongan agar bisa bertahan hidup. Ketika hendak pergi, dia melihat kantong uang yang tertinggal. Dia membukanya—penuh dengan uang.

Dia bersukacita dan berkata: “Yesus sungguh baik!” 

Lalu dia pergi dengan penuh syukur.

Penjaga di atas salib ingin berkata: “Itu bukan milikmu!”

 Namun dia tetap diam.

Berikutnya datang seorang pemuda yang hendak berlayar jauh. Dia memohon berkat agar perjalanan lautnya selamat.

Saat pemuda itu hendak pergi, saudagar kaya tadi masuk dengan tergesa-gesa. Dia melihat pemuda itu dan menuduhnya mencuri uangnya. Mereka pun bertengkar.

Akhirnya, penjaga di atas salib tak tahan lagi. Dia berbicara dan menjelaskan bahwa uang itu diambil oleh pria miskin sebelumnya.

Saudagar itu pun pergi mencari si miskin, sementara pemuda bergegas pergi agar tidak tertinggal kapal.

Saat itu, Yesus muncul dan berkata kepada penjaga: “Turunlah. Tempat itu bukan untukmu lagi.”

Penjaga itu protes: “Aku hanya mengatakan kebenaran. Aku menegakkan keadilan. Bukankah itu benar?”

Yesus menjawab: “Apa yang kamu pahami? Saudagar itu tidak kekurangan uang. Kantong itu hanya akan dia gunakan untuk hal yang tidak baik. Namun bagi si miskin, uang itu bisa menyelamatkan keluarganya.”

“Dan yang paling kasihan adalah pemuda itu. Jika saudagar terus menuduhnya, dia akan tertinggal kapal—dan justru selamat. Sekarang, kapal yang dia tumpangi akan tenggelam.”

Cerita ini terdengar seperti dongeng sederhana, namun menyimpan pesan mendalam:

Dalam hidup, kita sering merasa tahu apa yang terbaik. Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, kita menjadi kecewa dan tidak terima.

Namun mungkin, apa yang kita miliki saat ini—baik dalam keadaan senang maupun susah—adalah pengaturan terbaik bagi hidup kita.

Jika kita mampu memercayai hal itu, maka dalam keadaan baik kita akan bersyukur, dan dalam keadaan sulit pun kita tetap bisa menjaga sukacita.

Hidup tidak pernah sempurna.

Tetapi kita bisa memilih untuk hidup sepenuhnya di saat ini.

Hikmah Cerita

Cerita ini mengingatkan bahwa apa yang tampak baik belum tentu benar-benar membawa kebaikan.

Seperti memenangkan lotre—impian banyak orang. Namun ada yang justru celaka karena harta mendadak itu. Yang terlihat seperti keberuntungan, bisa saja berujung petaka.

Namun dari sudut pandang lain, muncul pertanyaan besar: Apakah hidup benar-benar diatur oleh Tuhan? Atau oleh kekuatan yang lebih tinggi dan tak kita pahami?

Sebab ketika penjaga itu hanya diam, peristiwa seolah berjalan sesuai “takdir”. Begitu dia campur tangan, roda nasib berubah arah.

Jika memang ada kekuatan yang mengatur segalanya, maka tindakan penjaga itu pun mungkin bagian dari pengaturan tersebut.

Pada akhirnya, mungkin kita tidak sepenuhnya memahami bagaimana hidup bekerja.

Yang bisa kita lakukan hanyalah percaya, belajar menerima, dan menjalani setiap peristiwa dengan hati yang tenang.

Karena tidak semua kebenaran yang tampak di mata manusia, adalah kebenaran yang utuh.(jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Baznas RI Salurkan 225 Paket Pangan untuk Warga Palestina di Masjid Al Aqsa Saat Konflik Masih Berlangsung
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Carlos Parreira Ungkap Kekecewaan Setelah Madura United Digulung Persib Bandung
• 21 jam lalubola.com
thumb
Siswa di Jabar Dilarang Bawa Motor ke Sekolah, Kecuali Wilayah Ini
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Prediksi Skor PSBS Biak vs PSIM Yogyakarta Malam Ini, Susunan Pemain & Head to Head
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Diteror, Ibu Kandung NS Ajukan Perlindungan ke LPSK
• 9 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.