Deru kendaraan tak pernah benar-benar berhenti di lampu merah Jalan Layang Pasupati, tepatnya di kawasan Taman Jomblo, Kota Bandung. Di sela suara klakson dan hiruk-pikuk lalu lintas, seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun tampak lincah menyelinap di antara kendaraan yang berhenti.
Dengan tisu di tangan, ia menawarkan dagangannya kepada para pengendara. Namanya Fadilah.
Bagi Fadilah, lampu merah bukan sekadar tempat persinggahan kendaraan, melainkan ruang kerja yang telah akrab sejak lama. Ia mulai berjualan tisu sejak duduk di bangku kelas satu sekolah dasar. Kini, dia sudah kelas enam dan aktivitas itu masih menjadi bagian dari rutinitas hariannya.
“Aku jualan tisu udah lama, dari pas aku kelas satu SD, sekarang aku udah kelas enam SD,” katanya saat ditemui kumparan di lokasi, Jumat (27/2).
Rumah dan sekolah Fadilah berada di kawasan Sukajadi. Setiap hari, setelah pulang sekolah, ia diantar orang tuanya menuju persimpangan Pasupati. Orang tuanya pun berjualan tisu di lampu merah yang berada tak jauh di depan lokasi Fadilah berjualan.
“Dari rumah ke sini dianterin sama orang tua, orang tua juga jualan tisu di lampu merah yang depan,” katanya.
Sebungkus tisu yang ia tawarkan dijual seharga lima ribu rupiah. Barang dagangan itu dibeli terlebih dahulu oleh orang tuanya dalam jumlah besar sebelum dijual kembali secara eceran.
“Ini tisu harganya lima ribuan, biasanya orang tua beli dulu satu dus harganya 130 ribuan. Terus nanti dijual lagi sama kita,” jelasnya.
Ia juga mengatakan barang dagangannya tidak selalu habis dalam sehari, bila tersisa, tisu itu akan dijual kembali keesokan harinya.
“Ini juga ga selalu habis jualannya, kalau ga habis hari ini dijual lagi besoknya,” ujarnya.
Pendapatan yang diperoleh Fadilah tidak menentu. Pada hari-hari ramai, ketika semua tisu terjual, ia bisa membawa pulang lebih dari Rp 100 ribu. Namun ketika lalu lintas sepi, penghasilannya jauh berkurang.
“Sehari penghasilan juga ga nentu, kalo lagi rame banget sampe tisunya habis bisa dapet 100 ribu lebih. Kalau lagi sepi mah paling di bawah 100 ribu," ucapnya.
Meski harus bekerja di usia belia dan menghadapi derasnya kendaraan kota, Fadilah tidak merasa malu. Ia memahami perannya sebagai anak yang membantu ekonomi keluarga sekaligus memenuhi kebutuhan pribadinya.
“Engga malu, kan jualan tisu ini juga buat bantu orang tua, buat tambah-tambah bekel aku juga,” katanya.
Ia biasanya mulai berjualan setelah pulang sekolah hingga sore hari. Rutinitas itu sudah menjadi bagian dari kesehariannya.
“Aku biasanya mulai jualan jam 9 pas pulang sekolah sampai sore di sini," ucapnya.
Awalnya, berdiri di tengah lalu lintas padat membuatnya takut. Deru mesin dan kendaraan besar yang melintas terasa mengintimidasi. Namun waktu dan kebiasaan membuat rasa takut itu memudar.
“Pas awal mah takut aku juga, tapi sekarang udah engga," kata Fadilah.
Di bawah bayang beton Pasupati, Fadilah menjalani masa kecil yang berbeda dari sebagian anak seusianya. Ia belajar tentang tanggung jawab, keberanian, dan arti membantu keluarga sejak dini.
Dari sebungkus tisu seharga lima ribu rupiah, ia menabung harapan, untuk hari ini, untuk bekal sekolah, dan untuk masa depan yang lebih baik.





